
Gayatri melewati empat hari melelahkan menuju kuil. Perjalanannya terasa mudah karena orang-orang membiarkannya makan, menginap, membeli pakaian secara gratis. Gayatri tahu ini adalah ulah Saksenya. Pria itu terus mengikutinya. Seperti orang yang tak punya kerjaan, Saksenya tampak bermain-main dengan anak-anak kecil dan remaja yang ditemuinya dalam perjalanan.
Gayatri tiba di kuil. Dia baru saja akan melangkah pada tangga pertama namun langkahnya dihadang oleh biksu kepala yang pernah membunyikan lonceng hari itu.
“Nyonya, apa doa anda belum terjawab?” tanyanya.
“Pendeta, aku kesini untuk mengucapkan terima kasih. Doaku telah terjawab. Aku juga ingin mengabdikan diriku di kuil ini” ujar Gayatri yakin.
“Wanita tidak diizinkan mengabdi di kuil ini nyonya. Sejak kutukan Dewi Durga turun atas nenek moyang kami, wanita dibebaskan dari segala aturan yang menyalahi kodratnya dan leluhur kami telah berjanji, tidak ada satu wanita pun yang dibiarkan tinggal di kuil ini” ujar Pendeta menangkupkan tangan di dadanya memohon agar Gayatri tak melangkah terlalu jauh.
Gayatri kecewa, pendeta berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa Gayatri bisa menempuh jalan kebaikan yang lain.
“Sepertinya ada masalah yang belum terselesaikan” ujar Pendeta
Kening Gayatri berkerut memikirkan pertanyaan Pendeta.
“Pria itu terus mengikutimu. Dia setia menunggumu selama kau dalam perjalanan ke sini. Perjalanan pertamamu” ujar Pendeta itu menunjuk Saksenya.
Gayatri cukup kaget, jika Saksenya sejak awal dia diusir mengikutinya kenapa tidak membantunya malah membiarkannya hampir mati dikejar tentara Astapura.
Pendeta meninggalkan Gayatri sendiri membiarkan dia duduk di bawah pohon mangga di depan kuil itu. Gayatri sibuk memperhatikan kudanya yang sedang memakan rumput yang tumbuh di sekitar pohon itu. Tanpa Saksenya telah mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Gayatri” sapa Saksenya lembut.
Gayatri menoleh melihat wajah serius Saksenya. Tidak ada lagi senyum konyol terpampang di sana.
“Aku mendapat kabar bahwa Bansheer mengangkat dirinya menjadi Raja Dwipajaya, dan menguasai Jiwang. Kemarin dia baru saja menembakan menerima pertama menghancurkan tembok kota” ujar Saksenya.
“Sepertinya aku harus pergi. Jika kau berubah pikiran kau bisa mengirimkan surat padaku atau menemuiku di Subala” ujar Saksenya.
Gayatri diam. Tak merespon berita baru yang dibawakan Saksenya. Saksenya yang putus asa pamit meninggalkan Gayatri sendirian, dia melepas ikatan kudanya dan menaiki pelana kuda bersiap meninggalkan kuil itu.
“Tunggu!” teriak Gayatri.
Saksenya tetap memacu kudanya, meninggalkan Gayatri. Gayatri yang sadar telah kehilangan Saksenya segera meninggalkan tempat itu bersama kuda pemberian Siddarth. Tibalah mereka di tujuan pertama, Gayatri melihat gapura selamat datang di alun-alun kota itu.
“Selamat datang Tuan Putri” ujar Raja Gopal pada Gayatri.
“Salam Raja aku hanya rakyat biasa” ujar Gayatri merendah.
“Darah leluhur dan para Raja Dwipajaya mengalir dalam darahmu. Hubungan itu selamanya tak akan terhapus” ujar Raja Gopal.
“Saksenya membawamu kesini, itu tandanya hubungan kalian tidak sekedar dua orang asing yang melakukan perjalanan bersama”
__ADS_1
Gayatri tak ingin menanggapi lebih lanjut candaan Gopal. Mereka dipersilahkan masuk ke dalam dan memulai perbincangan serius. Dari pembicaraan itu Gayatri tahu, kedua orang di hadapannya awalnya tak setuju pada pemerintahan Astapura dan berniat melepaskan diri dari pengaruh Raja Sri Narendra. Sekarang mereka menyusun rencana untuk mempertahankan wilayah mereka dari ultimatum Bansheer.
Informasi itu sudah cukup bagi Gayatri. Sepanjang pembicaraan dia seperti tak dianggap. Buta akan pemerintahan dan strategi mempertahankan wilayah. Saksenya yang menyadari Gayatri tak nyaman dalam obrolan itu mengajaknya bicara empat mata.
“Putri Gayatri, ini adalah kesempatan bagus untuk merebut kembali Dwipajaya. Subala dan Indrajaya bersedia membantu kalau anda mau. Apa kau ingin sepanjang hidupmu melihat makan orang tuamu diinjak Bansheer? Tempatnya berpijak sekarang terjadi karena pertumpahan darah dan sebagai putrinya kau harus menghapuskan kekuasaan Bansheer. Dia tak punya hak memerintah di tanah yang bukan miliknya” Saksenya berusaha mempengaruhi pikiran Gayatri.
Gayatri bimbang. Di satu sisi dia berjanji tidak akan ada balas dendam dan sakit hati, di sisi lain peristiwa pembunuhan ayahnya masih menyisakan sakit hati yang mendalam baginya.
“Kau tahu, ayahku terbunuh dalam perang melawan Sri Narendra. Bertahun-tahun lamanya aku merelakan peristiwa itu, memendam sakit hati sendiri dan menjadi pengecut. Aku tak becus menjalankan tugasku sebagai Raja Subala dan anjing penjilat di Astapura. Semua itu karena ketakutanku akan kehancuran di masa depan. Balas dendam akan melahirkan dendam baru tapi manusia tak pernah berpikir penyebab dendam itu ada” wajah Saksenya berubah muram. Pandangannya menatap jauh ke depan memutar kembali memori saat dia melihat ayahnya mati di hadapannya.
“Kerajaan Subala satu-satunya peninggalan ayahku. Selama ini aku mengandalkan dua teman ayahku Raja Gopal dan Sri Narendra seperti pecundang yang siap kabur kapan saja. Kali ini aku melihat kesempatan yang baik, bantu aku memimpin Subala. Aku akan penuhi semua keinginanmu dan akan membalaskan dendamku” tawar Saksenya lagi.
“Beri aku waktu berpikir. Selama ini aku tak bisa tidur dengan tenang dan tak bisa berpikir jernih karena ujian datang silih berganti. Biarkan aku bernafas sebentar” pinta Gayatri.
“Kau ingin meminum ramuan penenang, efek sampingnya hanya akan membuatmu tertidur dan bangun dalam keadaan yang lebih baik” ujar Saksenya.
“Tidak, bakar saja dupa wangi di kamarku dan aku akan tertidur” ujar Gayatri.
Raja Gopal tak keberatan, dia menyiapkan kamar terbaik bagi Gayatri dan wanita itu tertidur setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian.
“Biarkan dia istirahat, kembalilah ke Subala. Aku akan mengabarimu jika dia sudah menemukan jawabannya” ujar Gopal.
__ADS_1
Saksenya meninggalkan Indrajaya, menitipkan Gayatri pada gopal yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri.
...----------------...