Dvesa

Dvesa
Sendiri


__ADS_3

Gayatri menunggu dalam diam. Dihadapannya Anjali sesekali melihat lewat celah dinding rumah yang terbuat dari anyaman. Mata Anjali mengawasi kondisi di luar rumah.


Tak berapa lama terdengar langkah kaki. Saksenya dan 4 prajuritnya tiba dari hutan. Mereka membawa satu hewan semacam kukang berukuran sedang dan biawak. Gayatri menatap biawak yang telah dikuliti itu dengan tatapan ngeri. Perutnya bergejolak ingin muntah.


Usai menyiapkan makanan, Anjali membawa nampan berisi makanan milik Gayatri. Gayatri memandang nampan dengan tatapan kosong. Dia mengisyaratkan Anjali meletakkan nampan itu di dekatnya.


Semua prajurit makan dalam kondisi diam. Selesai makan mereka dengan sendirinya bergantian menjaga dan beristirahat. Begitupun Anjali, gadis itu tak menunjukan wajah letihnya. Dia berjaga bersama prajurit.


"Makanlah," tegur Saksenya dingin.


Lelaki itu berusaha membiarkan Gayatri kelaparan tetapi hati kecilnya menolak. Wanita itu terlalu berharga baginya.


Gayatri menatap culas pada Saksenya. Dia kesal mengapa lelaki itu membiarkan Gayatri menyantap biawak dan kukang.


"Kau makan saja makanan ini," ujar Gayatri mendorong nampan tersebut dengan ujung telunjuknya.


Saksenya menarik nafas dalam. Dia menatap Gayatri yang balas menatapnya tajam.


"Gayatri, makanlah," bisik Saksenya.

__ADS_1


Gayatri mengangkat sebelah alisnya, merendahkan perintah Saksenya. 


"Singkirkan makanan ini," ujar Gayatri kasar.


Dia melihat reaksi pria di hadapannya yang cuma diam. Gayatri mendecih kesal, memang Saksenya tidak berniat membantunya makanya dia bersikap mengulur-ulur waktu pikir Gayatri.


"Baiklah. Istirahatlah," ujar Saksenya dingin.


Saksenya pergi dari hadapannya. Gayatri mengamati punggung lelaki itu hingga menghilang. Perutnya mulai terasa perih, kepalanya terasa pusing. Dia tahu dia kelaparan tetapi tidak rela menyantap hewan-hewan aneh. Membayangkan saja membuat perutnya penuh.


Gayatri membaringkan badannya di atas tumpukan jerami. Menahan rasa sakit sambil berusaha memejamkan mata. Satu jam kemudian bau enak samar-samar tercium. Dia membuka matanya dan mendapati Saksenya meletakan makanan untutknya.


Lelaki itu sedang mengasah belati. 


"Kau tidak istirahat?" tanya Gayatri pelan.


"Tidurlah," balas Saksenya datar.


"Bagaimana denganmu," balas Gayatri.

__ADS_1


"Setelah mengantarmu ke Dwipajaya aku akan pulang," ujar Saksenya.


Wajah Gayatri mengeras mendengar ucapan suaminya. 


Bukannya Saksenya sudah berjanji akan membantuku? kenapa dia bersikap seperti ini? Baiklah! pulang saja sana! batin Gayatri kesal.


 Saksenya berjalan pelan meninggalkan Gayatri. Entahlah saat itu pikiran Gayatri sedang mencerna ucapan suaminya. Gayatri masuk dan berbaring sambil melihat dinding rumah itu yang mulai rapuh. Dia mendekatkan sareennya menutup seluruh tubuhnya.


*****


Sebelum fajar menyingsing, Gayatri telah bangun. Dia bergegas mencuci mukanya dengan sisa air minum di kendi. Lalu dia menyiapkan barang bawaannya. Diam-diam Gayatri pergi menghindari penjagaan. Tidak sulit, karena dia hafal betul sikap prajurit yang bersamanya.


Tujuan pertama Gayatri adalah perpustakaan kerajaan yang letaknya persis di bawah ruang rapat kerajaan. Konon katanya empu Wiyasa mampu menulis sebuah buku hanya berdasarkan analisa langkah kaki raja dan menteri di ruangan itu.


Gayatri melewati jalan-jalan yang nampak berembun. Dia sudah menyiapkan baju rakyat yang nyaman dipakai dibanding sarinya. Sesekali dia berpapasan dengan sekelompok keluarga yang langsung menghindar. 


Hal biasa bagi warga untuk tidak menanyakan hal tersebut saat berpapasan. Seorang pria tua bahkan terang-terangan mengingatkan agar segera pergi ke wilayah barat. Gayatri semakin penasaran, apa yang telah diperbuat Bansheer di kerajannya. 


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2