
“Apa maksud perkataan Raja Saksenya” tantang Gayatri meminta pejelasan.
Siddarth menceritakan secara detail kondisi Bansheer, dia meminta Gayatri sekali lagi membujuk ayahnya untuk menyediakan pekerja dan alat yang mereka butuhkan.
Gaytri menolak ide Siddarth.
“Cih, bukankah kalian sangat kaya, kirimkan saja pekerja sisa yang ada di sini” Sindir Gayatri.
“Kau wanita pendendam. Masalah itu sudah lewat berminggu-minggu yang lalu lebih baik dilupakan saja”
“Apa katamu?? Baiklah, anggap saja aku sudah melupakan masalah itu. Di Nusantara ada peribahasa sudah di kasih hati, malah meminta jantung”
“Apa artinya?”
“Pikirkan saja sendiri”
Gayatri menggibaskan saree di lengannya yang hamipr jatuh lalu meninggalkan Siddarth di kolam itu.
Saksenya menyiapkan keberangkatannya menuju Dwipajaya bersama rombongan dari Suballa. Saksenya tidak langsung menuju Dwipajaya melainkan singgah di Nepal menemui Raja Nakula saudara kandung dari Raja Sadewa, di
__ADS_1
dataran tinggi Khasmir.
“Saudaraku, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengamu” Raja Nakula memeluk Saksenya.
“Paman aku datang mengunjungimu dan membawamu oleh-oleh obat rematik terkenal dari Hindustan” ujar Saksenya menyerahkan botol-botol ramuan
yang telah di racik dari lembah obat.
Saksenya menyebut Nakula paman karena usia mereka yang cukup jauh. Raja Nakula adalah sahabat dekat ayahnya, Raja Saurabh. Setelah kematian ayahnya, Raja Nakula membantunya mengambil keputusan untuk kerajaan Suballa.
Saksenya menjadi Raja termuda seluruh Hindustan di usinya yang ke delapan belas
“Paman berhentilah mengonsumsi alkohol, makanan manis, dan daging. Ramuan yang aku berikan akan lebih bermanfaat jika paman menghindari makanan tersebut” ujar Saksenya mengingatkan Raja Nakula.
“Ya, ya aku sedang berusaha menjadi vegetarian sejati. Umurku sudah tidak panjang lagi yang bisa aku lakukan adalah menjaga kesehatanku” ujar Raja Nakula yang akhir-akhir ini mulai bisa mengerakan kaki dan tangannya yang sempat kaku, mati rasa, dan kesemutan di pagi hari.
“Katakan apa yang kau butuhkan untuk perjalanan ke Nusantara?” tanya Raja Nakula.
“Paman bisakah kau berikan aku beberapa pekerja untuk membantuku selama di Nusantara?” tanya Saksenya.
__ADS_1
Saksenya telah menceritakan maksud perjalanannya ke Dwipajaya dan perintah Raja Sri Narendra. Sebagai seorang Raja yang pernah mengalami krisis Raja Nakula memahami kesusahan Raja Sri Narendra. Raja Nakula memberikan dua kelompok pekerja yang terdiri dari dua puluh empat tahanan yang dibebaskan, dengan ancaman jika mereka mencoba kabur makan Raja Nakula akan memenggal kepala mereka satu-persatu.
Raja Saksenya meninggalkan Nepal. Jumlah rombongannya kali ini bertambah total selurunya menjadi seratus pekerja. Jumlah ini menurutnya sudah cukup untuk membantunya bekerja di Nusantara.
Mereka tiba di Jiwang diantar oleh Raja Daneswara dan Patih Mahesa. Bansheer yang melihat kedatangan Raja Saksenya berusaha menyembunyikan raut tidak sukannya. Raja Saksenya dan senyum konyolnya membuat Bansheer muak.
Raja Saksenya meminta Bansheer untuk meninggalkan Jiwang karena mulai hari ini
Raja Saksenya yang akan mengurus Jiwang.
Bansheer meninggalkan Jiwang seorang diri tanpa membawa pasukan. Bansheer menggilakan pesan pada prajurit yang datang bersamanya untuk selalu memata-matai Raja Saksenya dan melaporkan tindakan Saksenya kepadanya.
Raja Saksenya mengamati dua puluh lima pekerja yang bahu membahu memenuhi kolam pertama. Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Saksenya dapat menebak pekerja ini dipaksa bekerja hingga melebihi batas kemampuan mereka.
“Berhenti!”
“Makan dan istirahatlah. Biarkan seratus pekerja yang datang bersamaku yang akan melanjutkan pekerjaan kalian!” perintah Saksenya.
...----------------...
__ADS_1