
Virbadra mengeratkan cengkramannya pada tahta pegangan kursi tahta kerajaan. Satu persatu tentara yang telah dipersiapkannya gugur.
"Ambilkan pedangku" bisik Virbadra pada kepala tentara tanpa mengalihkan pandangannya dari prajurit Siddarth yang menghabisi satu persatu tentaranya.
Virbadra merobek baju yang dikenakannya. Dia mengerak-gerakan lehernya dan merengangkan otot-otonya.
Virbadra berdiri di pelataran kuil.
"boww" ledakan ranjau membuat beberapa prajurit Siddarth terpental.
Ranjau yang ditanam di bawah tangga kuil meledak. Sepihan ranjau mengenai prajuritnya. Prajurit yang lain berusaha melindungi Siddarth agar tidak terluka.
"Aaram, Aaram!" teriak Siddarth memanggil nama prajurit yang melindunginya. Sambil menggoncangkan tubuh Aaram, Siddarth berusaha menghentikan darah yang menggalir dari hidung dan telinga Aaram.
"Tuan, maafkan saya. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk anda. Tetaplah hidup, semoga Dewa memberkatimu. Hidup Mahadewa" ujar Aaram lemah.
Setelah mengucapkan kalimat itu Aaram mengeluarkan muntah darah dan menhembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
Sekujur tubuh Aaram mulai dingin. Bibirnya membiru dan bola matanya nampak kelabu. Siddarth memeriksa hidung dan dadanya mencoba mencari sisa nafas Aaram.
Usahanya sia-sia Aaram telah tiada. Siddarth tertunduk lesu. Diusapnya wajah Aaran dari dahi hingga dagunya. Matanya yang semula terbuka mulai menutup. Dalam hatinya Siddarth berdoa semoga arwah Aaram dan prajurit lainnya menuju kebahagiaan setelah kematian.
Siddarth menguatkan hatinya dan membulatkan tekadnya. Kematian prajuritnya tidak boleh sia-sia dia harus menghadapi Virbadra, apapun hasilnya.
Siddarth menggengam pedang di kedua tanganya. Dia menaiki seribu tangga menuju tempat Virbadra berada. Sorot matanya memancarkan ambisi dan kemarahan.
Hari mulai sore saat Siddarth tiba di hadapan Virbadra. Peluh membasahi keringatnya. Kulit putihnya berubah menjadi kemerahab karena sengatan matahari. Siddarth melepas baju zirahnya. Dia bertelanjang dada di hadapan Virbadra.
"Ku akui keberanianmu bocah. Sudah lama aku tidak meneggunakan kedua pedangku untuk memenggal kepala bocah yang mencari kematian" ujar Virbadra.
"Hahahaha hari ini seluruh alam semesta akan menyaksikan kemenangan Virbadra.
Akan ku kirimkan nyamamu pada Dewa Yama, dan menjadi budak para iblis" ujar Virbadra melebarkan kedua tangannya.
Tawa Virbadra yang mengelegar sempat membuat nyali Siddarth ciut. Namun Siddarth segera ingat kematian orang-orang yang ikut dalam pertempuran ini.
__ADS_1
"Majulah!" ujar Virbadra menantang Siddarth.
Siddarth maju mengincar tangan dan kaki Virbadra. Anggota tubuh yang dia perkirakam mudah di jangkau oleh pedang beracunnya.
Postir Virbadra yang tinggi membuat Virbadra dengan cepat terhindar. Dia dapat membaca gerakan Siddarth dengan mudah. Satu langkah Virbadra sama dengan lima langkah Siddarth.
Siddarth tidak menemukan celah yang pas untuk menjangkau bagian tubuh Virbadra. Sabetannya hanya berisi angin kosong. Siddarth hanya butuh satu goresan dan membiarkan racun pedangnya bekerja.
Virbadra bosan mengelak lalu melancarkan serangan balasan. Satu tendangan Virbadra berhasil membuat tubuh Siddarth terpental hingga ke ujung tangga.
Siddarth berusaha bertumpu pada pegangannya agar tidak jatuh dari pelataran kuil.
Kedua pedangnya terlepas dari tangannya. Pedang-pedang itu segera ditendang oleh Virbadra dan jatuh entah ke mana.
Siddarth bangun dengan susah payah. Kakinya gemetar, sikunya tergores akibat terseret. Siddarth merasa seluruh tubuhnya remuk.
Virbadra berjalan perlahan ke arah Siddarth menunggu hingga pria itu dapat berdiri tegak.
__ADS_1
"Lihat dirimu yang menyedihkan itu! Sudah waktunya ajal menjemputmu!" teriak Virbadra menganti langkah kakinya menjadi berlari menerjang Siddarth yang berusha menggumpulkan seluruh tenaganya.
...----------------...