
“Tok.. tok .. tok” Gunjana mengetuk pintu rumah tua di sebuah gang sempit yang kumuh. Gunjana menatap sekeliling gang penuh rasa takut.
"Aku tidak menerima pengemis di sini, pergilah!" ujar suara wanita di balik pintu.
"Nyonya aku datang bukan untuk mengemis, aku butuh bantuanmu" ujar Gunjana mengeraskan suaranya.
Gunjana melihat seseorang mengintip di balik lubang kecil yang sengaja dibuat di pintu itu.
"Cepat, masuklah!"
Gunjana bergegas masuk. Dia menemukan jalan setapak kecil menuju sebuah ruangan yang Gunjana tafsir sebagai ruang pemujaan. Tampak patung Trimurti menjulang tinggi di ruangan itu. Di bawah kaki patung terdapat banyak persembahan dan dupa.
"Nyonya, seseorang mengutusku untuk meminta bantuan anda" sebelum Gunjana bercerita lebih lanjut wanita tua itu meminta Gunjana membawa wanita yang ingin meminta bantuannya tepat tengah malam nanti.
Gunjana pulang dan menyampaikan hal itu. Tukang tenung terkenal di desa itu mampu mengirim guna-guna dan sihir kepada orang yang kita inginkan dengan bayaran yang tidak sedikit.
Kedua wanita itu menunggu tengah malam. Mereka telah menawarkan para prajurit teh kayu manis yang ditaburi obat tidur. Malam nanti mereka akan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Tepat tengah malam mereka telah berada di rumah tukang tenung itu.
"Pergilah!" usir tukang tenung itu setelah melihat Gayatri melangkah ke hadapannya.
Gayatri menatap wanita paruh baya itu dengan wajah kebingungan.
"Gelap! terlalu gelap. Aku akan berdosa pada Dewa dan seluruh alam semesta jika membantumu. Demi Dewa, terkutuklah semua tukang tenung yang membantu wanita ini" ujar wanita itu sambil menjatuhkan badannya ke tanah dan memohon agar mereka segera meninggalkan kediamannya.
"Tolonglah aku, aku akan membayarmu dengan harga yang tinggi" pinta Gayatri setengah memelas.
Gayatri dan Gunjana segera menuju kuil yang dimaksud. Perjalanan mereka memakan waktu dua hari dengan berjalan kaki dan menumpang kendaraan para pedagang yang lewat.
Tibalah mereka di kuil yang sesuai gambaran tukang tenung. Betapa terkejutnya Gayatri menemui kuil itu tampak kotor dan berantakan, sepertinya kuil itu telah kehilangan pemujanya. Mereka berdua memberanikan diri mengitari kuil dan masuk ke dalamnya.
"Om.. santi, santi, santi om" terdengar suara seorang pria membaca mantra dan menggema di seluruh kuil.
Lonceng berdenting memekakan telinga. Burung-burung beterbangan meninggalkan kuil itu. Tampak pria bertubuh gempal dengan tanda putih di dahinya dia memegang lonceng kecil yang tidak berhenti berbunyi. Rambut panjangnya diikat ekor kuda. Dia menatap kedua wanita yang memasuki kuilnya dengan kedua matanya yang mulai memerah. Wajahnya mengeras, kerutan di dahinya semakin dalam.
__ADS_1
"Dewa telah mendengarkan doamu, sekaligus mengutukmu! Dendam yang ada dalam hatimu membuat semua hal buruk yang ada di alam semesta ada bersamamu. Kemana pun kau melangkah akan mendatangkan kemalangan dan kesedihan" ujar pria itu yang mereka duga sebagai kepala kuil.
"Mengapa kemalangan hanya menimpaku? aku tidak bersalah atas apa yang terjadi. Aku tidak membunuh dan tidak berkhianat, mengapa Dewa menghukumku? Siapa aku di kehidupan sebelumnya sampai semua dosa ini harus ku tanggung? kesalahan apa yang kuperbuat di masa lalu sampai dewa menghukumku?" teriak Gayatri putus asa.
Air mata mulai menggenangi kedua matanya. Gunjana mengusap punggung Gayatri.
"Jika aku adalah akar dari semua masalah ini maka aku akan mengakhiri semuanya. Sesungguhnya tidak ada lagi pengampunan di hatiku untuk semua orang yang telah menghancurkan hidupku!" teriak Gayatri lagi.
"Maka pergilah bersama kemalangan itu, bahkan Dewa Yama pun tidak sanggup melihat kematianmu nanti"
Gayatri tidak habis pikir, mengapa semua orang menolaknya. Ini tidak bisa dibiarkan. Kelahiran Jhanvi semakin dekat dan dengan kepergian dirinya akan semakin menguatkan posisi Jhanvi sebagai permaisuri yang baru.
Gayatri mengikuti langkah kakinya ke mana saja menemui tukan tenung di tempat persinggahan mereka hingga suatu hari Gayatri marah pada Mahadewa dan menuntut balas dia akan menanggung semua akibat dari perbuatannya.
Tak lama setelah doa terakhirnya, seorang anak kecil di pasar mengatakan padanya, Gayatri harus pergi ke kuil Durga Maa yang memiliki 1000 anak tangga. Dewi Durga akan memberinya petunjuk jika dia datang dengan tekad yang besar.
...----------------...
__ADS_1