
Setelah menempuh perjalanan panjang. Gayatri dan Saksenya mulai mengumpulkan kekuatan. Secara khusus Gayatri dilatih menjadi prajurit sekaligus pemimpin perang jika suatu ketika mereka terpaksa harus berperang. Lagipula Gayatri tak memikirkan cara lain selain perang. Hutang nyawa harus dibayar nyawa, ternyata dendam terbesar bukanlah pada orang yang pernah menjadi pasangannya melainkan kematian orang tua dan rakyatnya.
Gayatri berkembang pesat, semua ilmu dipelajarinya. Sonarikha sampai khawatir karena menantunya mengorbankan waktu istirahat dan waktu bersama keluarga demi ambisinya.
“Saat wanita mengatakan dia akan membunuh, tidak ada yang bisa menghentikannya” ujar Raja Gopal mengamati Gayatri yang sedang belajar memanah.
“Aku khawatir pernikahan mereka hanya untuk balas dendam” ujar Sonarikha. Gayatri tak berniat memiliki keturunan sedangkan Saksenya tak tertarik dengan ide memiliki selir padahal Gayatri mengizinkannya.
“Akan ada masanya bagi mereka. Aku yakin jauh di dalam hatinya Gayatri memiliki kerinduan untuk memiliki keturunan, setelah semua tugasnya selesai” ujar Gopal berusaha menghapus kekhawatiran Sonarikha yang adalah sepupunya.
“Bagaimana perkembangan di Dwipajaya?” tanya Sonarikha.
“Informasi terbaru, Bansheer meminjam kekuatan dari daerah sekutu dan kembali merebut kerajaan-kerajaan kecil di wilayah nusantara. Bukan hanya di sekitar Dwipajaya melainkan hingga keluar pulau. Mereka sedang membangun pertahanan” ujar Gopal tenang.
Meskipun Subala hanyalah kerajaan biasa, namun Gopal tak meragukan kemampuan Saksenya. Anak itu penuh perhitungan sebelum mengambil tindakan, tidak gegabah, dan yang paling penting menyadari kekuatan musuh dan kekuatan sendiri. Sadar diri itu perlu, bukan berarti menyerah sebelum mencoba.
__ADS_1
“Percayalah pada putramu. Dia tak akan mengecewakan siapapun” ujar Gopal menepuk pundak Sonarikha membi dukungan sekaligus menghapus rasa gusar Sonarikha.
“Apa yang ibu pikirkan?” tanya memberi begitu melihat ibunya melamun di taman.
“Umurku sudah tak panjang lagi, bagaimana caranya agar aku bisa melihat cucuku” ujar Sonarikha sedih.
“Kalau begitu jangan mati dulu sampai ibu memiliki cucu” Saksenya tersenyum jahil.
“Kapan kalian akan punya anak?” ujar Sonarikha.
Saksenya meringis mendengar pertanyaan ibunya. Sudah puluhan kaki ibunya bertanya hal yang sama, sekalipun sudah Saksenya jelaskan ibunya terus bertanya tanpa lelah.
“Bagaimana kalau Gayatri menolak” tanya Sonarikha lagi.
“Saat tugasku selesai aku tak mungkin menolak Bu” sebuah suara lembut menginterupsi percakapan ibu dan anak itu.
__ADS_1
“G-gayatri jangan pedulikan ibu” Saksenya tergagap.
“Bagaimana mungkin aku mengabaikan permintaan ibuku. Aku juga berkeinginan yang sama. Penerus Subala dan Dwipajaya harus lahir” ujar Gayatri memeluk ibu mertuanya.
“Berjanjilah kalian akan memberiku cucu” ujar Sonarikha terharu.
“Tentu saja ibu”
Saksenya merasa hatinya berbunga-bunga. Dia tak menyangka Gayatri yang dingin bisa mengatakan hal semanis itu. Senyumnya merekah, menatap waja Gayatri yang terlihat yakin. Saksenya tak sabar menanti waktu itu tiba.
“Bekerja keraslah Baginda, agar tiba saatnya nanti kita punya waktu libur yang cukup” goda Gayatri membuat wajah Saksenya bersemu merah. Gayatri tak menyangka pria pandai merayu di hadapannya ternyata mati kutu saat terkena serangan balik.
“Jangan kabur saat waktunya tiba” bisik Saksenya sebelum meninggalkan dua wanita itu.
Gayatri tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Ditatapnya punggung Saksenya. Pria itu jauh lebih tampan saat mereka menikah. Penilaian negatif Gayatri berubah 360 derajat. Lelaki yang ada di hadapannya bukan lagi lelaki licik yang pandai merayu melainkan pria penuh tanggung jawab yang berpegang teguh pada kata-katanya. Namun jauh di lubuk hatinya, Gayatri menolak mencintai Saksenya sepenuhnya. Dia pernah mencintai seseorang sepenuh hati sampai rasanya ingin mati, kali ini tidak lagi.
__ADS_1
...----------------...