
Gayatri memandang kamar pengantin yang telah dihias sedemikian rupa. Wangi dupa dalam ruangan itu membawa Gayatri pada kenangan masa kecilnya. Dupa wangi khas Dwipajaya. Pesta telah berakhir satu jam yang lalu, Gayatri masih dengan hiasan dan baju pengantin. Dia memandang dirinya di cermin besar kamar itu.
Riasannya lebih natural, baju dan aksesoris yang dia pakai terlihat lebih manusiawi dengan berat yang mampu ditopang oleh tubuhnya. Pernikahan kali ini jauh lebih sederhana dan bermakna. Rakyat Subala menyambutnya dengan penuh haru, akhirnya setelah bertahun-tahun, di usia ke 33 Saksenya memantapkan pilihan hatinya.
“Bolehkah aku masuk?” suara Saksenya mengagetkan Gayatri yang sedang memandang wajahnya di cermin.
“Masuklah” ujar Gayatri.
Saksenya masuk. Pakaian pengantin lengkap masih Saksenya kenakan. Senyumnya dua kali lebih merekah dari pertemuan pertama mereka.
“Ini kamarmu, kerajaanmu kenapa meminta izin?” tanya Gayatri
“Kamar ini sekarang bukan milikku sendiri, ada orang lain yang akan menempatinya bersamaku” ujar Saksenya.
“Hey, bukankah aku harus menunggumu di ranjang dengan tudung tertutup?” tanya Gayatri kaget.
“Lupakan tradisi itu, aku telah membuka tudungmu di hadapan pendeta. Lagi pula tak ada yang tahu hal itu. Hanya kita berdua di sini”
Gayatri mengangguk paham.
“Mau aku bantu melepaskan perhiasan?” tanya Saksenya.
Gayatri kaget sekaligus heran, bahkan rakyat biasa pun tak akan melakukan pekerjaan perempuan apalagi melepas aksesoris yang lumayan banyak ini.
“Biar pelayan saja yang melakukannya” tolak Gayatri
“Mereka sudah ku suruh beristirahat” ujar Saksenya mulai melepas hiasan di rambut Gayatri.
Gayatri pasrah. Dia duduk di meja rias. Saksenya mengajaknya berbincang ringkan membuat sikap defensif Gayatri perlahan menurun.
“Bisakah kita membuat kesepakatan?” tanya Gayatri. Mereka berdua sibuk mengurai rambut yang dipintal.
__ADS_1
“Katakan, aku akan dengarkan permintaanmu” ujar Saksenya.
“Apa kita harus punya anak?” tanya Gayatri gugup.
“Tentu saja. Itu harga yang ku minta. Aku membantumu merebut kembali Dwipajaya, dan kau memberiku keturunan. Menurutku itu cukup impas” ujar Saksenya.
Gayatri berpikir sejenak. Membandingkan kehidupan pernikahan yang kemarin dengan sekarang.
“Aku tak memaksa, kapanpun kau siap beritahu aku. Tugasku sudah selesai, istirahatlah” ujar Saksenya menyimpan aksesoris terakhir milik Gayatri.
“Kau mau ke mana?” tanya Gayatri
“Kau lupa suamimu ini seorang raja? Ada tugas yang harus aku selesaikan. Besok pagi sudah ada pelayan di sini, mereka akan mengantarmu melihat istana Subala” ujar Saksenya
Saksenya meninggalkan Gayatri sendiri. Dia paham Gayatri pasti belum sepenuhnya menerima keadaannya yang baru. Tak masalah dia akan menunggu sampai Gayatri bisa menerima statusnya yang baru.
Gayatri POV
“Bagaimana mungkin ada pria setenang Saksenya?”
Kalau ku pikir tak ada ruginya menjadi seorang Ratu, aku punya hak atas perintah kerajaan dengan izin Raja. Aku pernah melihat ibu ambil alih pemerintahan saat ayah sedang bepergian ke negeri lain.
Saksenya tak licik hanya pria yang pandai memanfaatkan keadaan. Dia bersedia mengangkat derajatku sebagai seorang janda dan yatim piatu. Aku sempat berpikir akan berakhir sebagai biarawan, lalu bagaimana dengan keturunan kami? Adikku Adhyaksa pasti menungguku, setelah tugasku selesai dia yang akan melanjutkan silsilah Kerajaan Dwipajaya.
Memberikan keturunan kepada kerajaan Subala bukanlah hal mudah ataupun sulit, aku harus bersiap. Selama Bansheer masih menguasai Dwipajaya aku tak bisa punya anak dengan tenang.
Sebaiknya malam ini aku beristirahat besok aku akan merundingkan beberapa hal dengan saksenya.
*****
Kokok ayam pertama membangunkan Gayatri dari tidur panjangnya. Tampak empat orang pelayan berbaris di depan kamarnya menunggu Gayatri bangun. Ruang tidur ini persis seperti kamarnya di Dwipajya. Memiliki pintu, jendela, dan ruang rahasia.
__ADS_1
“Masuklah” ujar Gayatri
Keempat pelayannya masuk. Masing-masing memperkenalkan diri sebagai Janu, Anjali, Nema dan sharma. Janu dan Nema akan jadi pelayan pribadinya sedangkan Anjali dan Sharma bertugas mengantarkan makanan untuknya.
Kedua pelayannya tak banyak bicara ataupun bertanya, mereka bahkan tak akan menyahut jika Gayatri tak memulai pembicaraan. Hubungan macam apa ini pikir Gayatri. Dia tak terbiasa tinggal bersama orang-orang yang tak mengajaknya bicara.
“Jika ada yang ingin kalian tanyakan, katakan saja aku akan menjawabnya” ujar Gayatri pada pelayannya yang tampak canggung.
“Baik Ratu” ujar mereka bersamaan.
Gayatri sedikit asing dengan panggilan itu, sebelumnya dia iri Jhanvi menggunakan gelar yang seharusnya jadi miliknya. Hari ini panggilan itu serasa tak cocok untuknya.
“Apa aku bisa bertemu Raja setelah makan pagi?” tanya Gayatri.
“Raja sudah pergi sejak pagi, Ratu” ujar Nema.
“Silahkan pilih baju yang ingin anda pakai” ujar Janu memperlihatkan sejumlah gaun.
Gayatri memilih saree jingga yang tampak sederhana. Baju-baju ini jauh dari kesan mewah, perhiasannya pun sedikit dan sangat sederhana. Sudah lama rasanya Gayatri tak mengenakan perhiasan seringan ini.
“Kapan aku bisa bertemu Raja?’
“Setelah makan malam” keduanya serempak menjawab.
“Baiklah. Antarkan aku ke kuil” pinta Gayatri.
Mereka menuju kuil kecil yang ada dalam bangunan itu. Kuil sederhana itu berada di ruangan tertutup. Tak banyak orang yang diizinkan masuk ke dalam. Ada patung Mahadewa, Dewa Krisna dan Dewa Ganesha. Gayatri melakukan pemujaan di sana. Melantunkan pujian atas anugerah yang telah dia terima.
...----------------...
__ADS_1