
Kokok ayam pertama membangunkan Gayatri. Dia mempersiapkan segala perlengkapan pemujaan. Gunjana dan Rupika membantu Gayatri membawa persembahan ke kuil Mahadewa.
"Cepatlah, matahari hampir terbit" perintah Gayatri.
Ketiga orang itu berjalan tergesa-gesa menaiki kuil.
"tinggggg" dentingan lonceng berbunyi menghentikan langkah Gayatri, Rupika, dan Gunjana.
Tidak lama kemudian, terdengar lantunan lagu merdu. Suara seorang wanita.
"Siapa yang melakukan pemujaan sepagi ini" tanya Gunjana heran. Mereka bertiga saling berpandangan sambil berusaha menerka pemilik suara itu.
Sebuah suara lain ikut melantunkan pujian. Suara yang lebih berat, suara seorang pria.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini" ujaf Gayatri mengambil langkah seribu meninggalkan kuil.
Gayatri, Rupika, dan Gunjana sedang mengatur persembahan dan menyiapkan dupa untuk dibakar di depan patung Mahadewa.
Siddarth datang menemuinya. Dia bertanya jika mereka telah selesai pemujaan Siddarth ingin bicara berdua dengan Gayatri.
"Temui aku di ruang belakang bangsal ini tengah hari nanti" ujar Gayatri tanpa menatap Siddarth.
Gayatri melantunkan pujian bagi Mahadewa. Pemujaan hari ini lebih lama dari biasanya. Gayatri hanya ingin menghabiskan waktu bersama Mahadewa sampai tengah hari.
"Tuan putri, makanlah. Anda belum makan sejak tadi malam" bujuk Rupika.
Gunjana masih duduk di ruangan itu, menatap patung Mahadewa.
__ADS_1
"Anda harus makan agar anda punya tenaga menghadapi Tuan Siddarth" Gunjana ikut membujuk Gayatri.
Gayatri luluh dengan bujukan Gunjana. Dia makan, mandi, lalu merias diri. Dia pergi lebih dahulu ke ruang belakang bangsal wanita.
Ruangan itu dilengkapi tiga jendela yang dipahat langsung pada permukaan semen. Saat musim hujan ruangan itu sangat becek. Gayatri melepas alas kakinya membiarkan kaki telanjangnya menyentuh lantai kotor itu. Dia menunggu Siddarth di sana sambil memandang tanah rumput liar yang mulai kering dari jendela itu.
Tengah hari telah tiba. Gunjana dan Rupika mengisyaratkan kedatangan Siddarth lalu mereka meninggalkan sepasang suami istri itu.
"Mengapa kau memilih ruangan ini? bukankah ada banyak tempat lain yang indah di istana ini?" tanya Siddarth heran.
"Di Nusantara pembicaraan pribadi dilakukan di ruangan tertutup. Ada pintu dan juga jendela. Hanya ini ruangan yang menurutku cocok" ujar Gayatri. Tidak sedikit pun dia menatap Siddarth.
Baiklah Siddarth turuti kemauan Gayatri. Mereka berdiri dengan posisi Gayatri memandang keluar jendela sedangkan Siddarth menatap punggung Gayatri.
Siddarth berbicara panjang lebar tentang hubungannya dengan Jhanvi, adat dan pernikahan mereka.
"Jhanvi tidak akan tinggal di bangsal wanita tanpa seizin mu. Dia tinggal di Odissa bersama para penari" jelas Siddarth.
"Karena kau adalah istri sah Siddarth Sri Narendra" tegas Siddarth.
"Kau menikahi dia tanpa meminta izin, lalu mengapa sekarang kau lakukan itu? tempat ini adalah tanah dan rumah keluargamu. Aku hanya dititipkan ayahku di sini" tanya Gayatri lagi.
"Kau marah padaku?" Siddarth balik bertanya.
"Tidak, aku kecewa" ujar Gayatri lirih.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk mengabari mu. Kejadiannya begitu cepat. Dalam waktu dekat Tiongkok akan menyerang Hindustan. Mengertilah Jhanvi satu-satunya yang bisa membantuku". Siddarth berusaha menjelaskan kondisinya.
__ADS_1
"Kau ingat janjimu pada ayahku?" tanya Gayatri
Siddarth terdiam.
"Janji seorang pria seperti gunung. Tidak terlampaui" ujar Gayatri pelan. Ujung bibirnya bergetar.
"Aku berjanji pada ayahmu untuk menjagamu. Bukan untuk tidak menikah lagi. Bukankah hal biasa bagi seorang penguasa memiliki selir? bahkan kau punya seorang ibu kandung dan ibu tiri" ujar Siddarth. Dia tidak merasa ada yang salah pada tindaknnya.
Gayatri mengeraskan rahangnya. Dia menutup matanya sebentar sebelum menatap Siddarth sinis.
"Hanya itu janjimu, coba ingat janjimu yang lain" Gayatri menatap wajah Siddarth.
Siddarth mengerutkan dahinya. Dia mengingat-ingat janji yang dia ucapkan pada Daneswara.
"Hanya itu yang aku katakan" ujar Siddarth setelah yakin tidak ada janji lain yang dia lontarkan pada mertuanya.
"Ada lagi yang ingin kau katakan?" tanya Gayatri mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan mengunjungimu tiga hari dan Jhanvi tiga hari. Satu harinya adalah urusanku. Jhanvi akan tinggal di Odissa. Saat dia memiliki keturunan dia akan tinggal bersamaku dan keluarga kerajaan di istana, sampai kau melahirkan keturunanku. Keputusan akan berlaku saat kau memiliki keturunan" ujar Siddarth.
"Aturan macam apa ini? bukankah aku tetap istri sah Siddarth sampai kapanpun?" batin Gayatri. Dia berusaha menahan emosinya yang sudah membuncah di dadanya.
"Berlakulah adil terhadap istrimu. Jika kau curang, kau tidak pernah tahu apa yang akan aku lakukan" ujar Gayatri mengintimidasi Siddarth.
Siddarth tersenyum sinis mendengar ancaman Gayatri.
Sepeninggalan Siddarth, Gayatri menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia menormalkan detak jantungnya. Nafasnya memburu, matanya memerah.
__ADS_1
"Lihat saja, aku tidak main-main dengan ancamanku" batin Gayatri murka.
...----------------...