Dvesa

Dvesa
Surat (3)


__ADS_3

“Tuan puteri, Gunjana menemui seseorang


di kandang kuda istana. Aku sudah membayar orang untuk mengikuti pria itu. Di pelabuhan dia menyerahkan surat pada utusan ke Dwipajaya. Aku memintanya membuat tanda pada orang tersebut dengan sengaja menodai salah satu lengan bajunya dengan holi berwarna merah”


“Kenapa warna merah?” tanya Gayatri.


“Warna merah, warna yang umum dipakai di


Hindustan. Lagi pula itu adalah holi tidak ada yang akan curiga. Warnanya juga mencolok dan mudah dikenali” ujar Rupika bangga.


Gayatri menatap Gunjana yang sibuk memilih pakaian.


“Tuan puteri terima kasih. Citraganda adalah langganan para bangsawan, aku merasa terhormat mengenakan pakaian ini” ujar Gunjana yang langsung mengenakan pakian yang baru dibeli.


“Apa yang kau minta?” tanya Gayatri pada Rupika. Mereka berdua menatap Gunjana yang sibuk pamer ke sana ke mari.


“Meminta pada tuan puteri, layaknya meminta pada para Dewa. Aku akan pikirkan permintaan itu dengan baik. Jika tiba saatnya akan aku katakan permintaanku” ujar Rupika.


Gayatri memahami arah pembicaraan Rupika. Jika gadis di sampingnya tidak mengatakan sekarang, maka nanti Gayatri harus bersiap untuk permintaan tak terduga.


Beberapa minggu berlalu tibalah surat Gayatri kepada Raja Daneswara.


Salam Ayahanda,

__ADS_1


saat ayah menerima surat


ini aku tidak baik-baik saja. Pernikahan ini bukan pernikahan indah seperti yang


dibayangi puteri ayah sejak lama. Aku tidak akan menceritakan lebih lanjut


tentang pernikahan ini. Ayah, aku akan bertahan dengan sumpahku sebagai seorang istri, bahwa sampai mati aku akan ada di samping suamiku.


Ayahanda, Astapura meminta sebidang tanah untuk ditanami palawija karena situasi politik di Hindustan sedang dalam


masalah besar.


Tanam palawijayanya di luar Dwipajaya,


Putri tercintamu


Gayatri.


Daneswara membaca surat tersebut. Dia sedih kehidupan puteri terakhirnya tidak sebaik saudara-saudaranya, namun takdir berkata lain. Jika Dewa berkehendak maka


kehendak itu harus terlaksanakan.


Daneswara mengumpulkan patih Naraya, Mahesa, Mpu Wiyasa dan Guru Drona untuk berdiskusi isi surat yang dikirim Gayatri.

__ADS_1


Mpu Wiyasa mendokumentasikan surat Gayatri dalam salinan ke dalam kitab Dwipajayantaka. Kitab khusus yang berisi silsilah dan hal-hal penting kerajaan Dwipajaya. Kitab Dwipajayantaka ditulis secara turun temurun oleh keturunan Mpu Wiyasa. Keturunan yang dipilih langsung oleh kerajaan, untuk menyimpan rahasia terbesar Dwipajaya.


“Lembah Wilisgiri cukup subur, namun di jaga oleh Buto Abang. Kita tidak mungkin merelakan pertumpahan darah hanya untuk membantu Astapura” ujar Guru Drona mengenang raksasa merah, yang menjaga lembah tempat tinggalnya tersebut. Lembah itu letaknya cukup dekat dengan perbatasan bagian selatan dari kerajaan Dwipajaya. Buto Abang bukan raksasa yang bisa diajak kerjasama.


“Bagaimana kalau Limadaksa?” tanya Mahesa menyebut perbatasan di wilayah utara Dwipajaya. Wilayah itu tidak lebih subur dari lembah wilisgiri, namun cukup untuk ditanami palawija.


“Tidak bisa!” Patih Naraya menolak usul Mahesa. Sebelum meninggal, Biksu Tantra telah mengutuk tanah Limadaksa bahwa tanaman yang tumbuh di tempat itu, akan menjadi racun saat masuk ke tubuh manusia.


Mereka mengenang Biksu Tantra, kepala para Biksu yang dibunuh dengan sadis saat perang Samaratungga.


Wilayah barat adalah ngarai dan wilayah timur adalah batas kota, tidak cocok ditanami palawija.


“Satu-satunya jalan adalah kita harus mencari tempat yang lumayan jauh di luar wilayah Dwipajaya” Patih Naraya berpikir sejenak mencari lokasi yang kiranya dapat


membantu Astapura.


“Bagaimana kalau Jayabaya? Wilayah itu masih berutang 1000 Keti pada Dwipajaya” ujar Daneswara mengingat wilayah Jayabaya yang diperintah Raja Jayaswara masih berutang padanya.


“Wilayah itu kesulitan mendapat air, bagaimana mungkin palawija dapat tumbuh di sana” Mahesa khawatir dengan letak Jayabaya yang memakan waktu dua hari perjalanan dan menurutnya kurang subur.


“Langkah terbaik adalah membangun waduk, dan menambah pekerja untuk merawat tanaman tersebut” ujar Patih Naraya.


Mereka telah mencapai kesepakatan dan mempersiapkan perjalanan menuju Jayabaya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2