Dvesa

Dvesa
Berjanjilah Padaku


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" tanya Jhanvi. Dia melihat Siddarth muncul dari arah gerbang istana dan mengikat kudanya di dekat Jhanvi berdiri.


"Aku mengirim pesan ke kemah agar mereka kembali ke istana" ujar Siddarth.


Jhanvi teringat pada kemah tempat awal mereka melakukan negosiasi. Siddarth berjanji akan kembali dalam waktu dekat, namun tampaknya pria itu terlibat percakapan serius dengan ayah beberapa waktu lalu.


"Apa yang kau dan ayah bicarakan?" tanya Jhanvi penasaran.


"Hal yang hanya dimengerti pria" ujar Siddarth tersenyum jenaka.


"Katakan padaku, kalau tidak kau tidak bisa keluar dengan tenang dari sini" ujar Jhanvi menodongkan pedangnya.


Siddarth mencemooh Jhanvi. Tidak imbang jika salah satu diantara mereka menggunakan senjata sedangkan lainnya tidak. Jhanvi harus adil, keduanya memiliki senjata atau keduanya bertarung tanpa senjata.


Jhanvi melemparkan salah satu pedangnya. Kedua orang itu saling menyerang.


Harus Siddarth akui Jhanvi memiliki kemampuan bertarung hampir setara dengan pasukan elit milik Astapura namun Jhanvi belum setara dirinya. Gerakan kaki dan tangan Jhanvi dapat dibaca Siddarth dengan mudah. Tidak ada satu gerakan pun yang mengenai badan atau ujung baju Siddarth.


Bunyi pedang beradu memenuhi tempat itu. Tidak ada yang berani mendekat saat kedua orang tersebut bertarung bahkan kepala pelayan memberikan isyarat 'tinggalkan mereka' tempat itu menjadi sunyi.


Sesekali terdengar suara pedang, suara nafas terengah dan suara kedua orang itu berbicara.

__ADS_1


"sreet" ujung pedang Siddarth menyentuh lengan baju Jhanvi hingga merobeknya.


"Hentikan!" ujar Jhanvi saat dirinya terpojok.


"Kenapa? kau keberatan aku mengalahkanmu?" ejek Siddarth seolah dapat membaca pikiran Jhanvi.


"Kau menipuku" ujar Jhanvi tidak menerima kenyataan bahwa kemampuan Siddarth jauh melampaui perkiraanya.


"Aku tidak menipumu, kau saja yang terlalu percaya diri" elak Siddarth.


Jhanvi cemberut. 


"Jangan cemberut" bujuk Siddarth. Tidak sepatutnya pejuang wanita menunjukan wajah menggemaskan dihadapan lawanya.


Siddarth meletakan pedang yang dipegangnya dia berbalik meninggalkan Jhanvi.


"Mau kemana kau?" tanya Jhanvi.


"Mandi" ujar Siddarth datar.


Jhanvi membiarkan pria itu pergi. Untung saja waktu itu Siddarth mengalah dalam pertarungan mereka, sehingga dia bisa melihat senyum manis Siddarth. Batin Jhanvi berbunga-bunga.

__ADS_1


Hari-hari berlalu, hubungan Jhanvi dan Siddarth semakin intens. Siddarth membuat alasan menyusun strategi di Madhyaprasta karena ada Aryan yang bersedia membimbingnya dan Jhanvi. Alasan sebenarnya adalah dia belum rela berpisah dengan gadis manis di hadapannya.


Mereka diam-diam sering berkuda bersama dan membahas tentang kerajaan. Siddarth merasa dirinya jauh lebih hidup. Sejak Bansheer meninggalkan Hindustan Siddarth tidak punya teman untuk bertukar pikiran sampai Jhanvi muncul. Kecerdasan wanita itu menarik atensi Siddarth.


Suatu sore Siddarth dan Jhanvi duduk di kolam istana yang dibangun khusus oleh Aryan untuk Jhanvi. Kolam itu menghadap ke timur istana.


"Ini tempat favoritku. Saat aku rindu ibuku, aku akan menghabiskan waktu di sini" ujar Jhanvi. Dengan mata berkaca-kaca wanita itu menceritakan bahwa ibunya meninggal saat dia berusia delapan tahun karena penyakit bawaan yang dideritanya. Sejak ibunya meninggal Aryan sendirian mendidik Jhanvi hingga gadis itu dewasa.


Tanpa sadar, Siddarth memeluk Jhanvi. Membiarkan gadis itu menangis dipelukannya sembari mengelus rambut Jhanvi.


Pada elusan yang terakhir Jhanvi menahan tangan Siddarth dengan kedua tangannya persis di puncak kepalanya. 


Siddarth yang kebingungan membiarkan Jhanvi mengengam tangannya agar tetap berada di puncak kepalanya.


"Berjanjilah satu hal padaku" ujar Jhanvi.


Siddarth menatap Jhanvi tanpa berkata-kata.


"Kau tidak akan meninggalkanku sampai kapan pun" ujar Jhanvi lirih.


"Kita harus menikah" 

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2