Dvesa

Dvesa
Berusaha Menghibur


__ADS_3

"Aha, apa yang membuat anda tersenyum sepagi ini?" tanya Saksenya.


Senyum Gopal memudar mendengar suara yang akhir - akhir ini paling dibencinya.


"Pergilah jangan tampakkan wajahmu di kerajaanku" ujar Gopal menggulung surat yang telah selesai dibaca.


"Ayolah Paman, apa aku juga harus memanggilmu ayah?" tanya Saksenya.


"Hentikan sikap konyol itu" Gopal menerobos Saksenya yang menghalangi jalannya bersiap meninggalkan pria itu.


"Aku akan berangkat ke Astapura hari ini apa kau ingin menitipkan sesuatu pada putri dan calon raja?" tanya Saksenya.


Gopal menghentikan langkahnya.


"Kau tahu apa yang paling kusyukuri saat ini?" 


Saksenya menggelengkan kepalanya.


"Jhanvi tidak menikah dengan pria sepertimu. Tunggulah sebentar aku akan mempersiapkannya" 


Saksenya terbahak-bahak. Paman Gopal jauh lebih bersahabat hari ini. Meskipun kata-katanya sinis namun hal tersebut dia maklumi karena sikapnya pergi ke Nusantara tanpa pamit.


"Katakan pada putri kecilku, aku tidak bisa memberikannya secara langsung. Tidak perlu aku jelaskan. Aku memberkati cucuku semoga kelak dia berlaku adil terhadap semua orang" ujar Gopal melepas kepergian Saksenya.

__ADS_1


Saksenya memacu kudanya dengan cepat. Dia akar segera sampai di istana. 


Setibanya di istana Saksenya menemui Jhanvi, teman masa kecilnya. Orang tua mereka dan Paman Gopal bersahabat jadi tidak ada rasa canggung di antara mereka.


"Terberkatilah calon permaisuri dan dan calon penerus Astapura" ujar Saksenya mengagetkan Jhanvi yang sedang mengelus perutnya sambil melamun.


"Kau hampir saja membuat permaisuri jantungan" ujar Jhanvi cemberut.


"wahh dari mana kau belajar bersikap seperti itu" goda Saksenya melihat perubahan tingkah teman masa kecilnya yang terkenal suka berkelahi itu.


Saksenya menceritakan keadaanya sebelum berangkat menemui Jhanvi sekaligus membawa hadiah dan pesan dari Raja Gopal. 


Jhanvi juga menceritakan kejadian saat tabib memeriksanya. Mereka berbincang cukup lama sebelum akhirnya Jhanvi mengatakan bahwa Siddarth sedang memantau perkembangan di Karmanagar dan pelabuhan paling ujung negeri ini. Siddarth akan pulang satu minggu lagi. Berita ini tentu saja membuat Saksenya semakin berseri-seri. Dia segera mengakhiri obrolannya dengan Jhanvi dengan dalih Jhanvi harus beristirahat.


"Kau membiarkan Siddarth begitu saja?" tanya Saksenya tanpa basa-basi. Dia mencomot camilan yang ada di meja kecil itu tanpa permisi.


"Itu yang dia inginkan" jawab Gayatri 


"Kalau aku jadi kau, aku akan meminta hak yang sama. Aku juga harus ditempatkan di istana yang sama dengan Jhanvi" 


"Untunglah kau bukan aku karena aku tidak mungkin melakukan hal konyol hanya karena salah satu diantara kami hamil" 


Saksenya kesal dengan jawaban Gayatri.

__ADS_1


"Pantas saja Siddarth mengacuhkanmu" 


Gayatri menatap Saksenya sejenak. Saksenya yang sibuk mengunyah membalas tatapan Gayatri.


"Apa, jangan bilang kau tidak tahu kenapa Siddarth betah bersama Jhanvi" tebak Saksenya.


Gayatri diam sambil mengamati tingkah saksenya.


"Kenapa dunia pernikahan begitu konyol" canda Saksenya.


Dia kembali menatap Gayatri. Reaksi Gayatri tetap sama.


"Aku mengenal Jhanvi sejak kecil. Dia wanita yang selalu cari masalah. Sikapnya tidak jauh beda dengan pria kasar yang hobi berkelahi. Tadi aku mengunjunginya di istana. Kau tahu? sikapnya 100% berbeda. Dia bukan lagi gadis kasar yang kutemui bertahun-tahun lalu, melainkan gadis manja yang bisa cemberut  Aku tidak tahu dia punya ekspresi seperti itu" ujar Saksenya berbinar membayangkan sikap Jhanvi.


"Pria seperi Siddarth seumur hidup telah bertemu dengan banyak orang kuat. Begitu dia bertemu wanita yang bisa berperilaku manja, naluri ingin melindungi wanita itu semakin kuat. Dia bahkan sanggup membelah gunung dan lautan demi melindungi wanita itu" 


"Lagipula kalian berdua jauh berbeda. Jhanvi bagai dua sisi berbeda. Di satu sisi dia kuat di sisi lain dia menunjukan kelemahannya dia pandai memainkan kedua peran itu. Sedangkan anda" Saksenya menatap Gayatri miris, Gayatri menunggu kata-kata selanjutnya.


"Anda selalu bersikap kuat, karena itu Siddarth merasa tidak perlu khawatir meninggalkan anda sendirian. Bahkan jika anda dilempar ke padang pasir pun anda akan kembali dengan selamat" 


Wajah Gayatri berubah sendu. Saksenya jadi merasa bersalah. Dia tidak bermaksud melukai hati Gayatri.


"Tidak semua laki-laki seperti Siddarth. Ada laki-laki yang suka wanita kuat" ujar Saksenya berusaha menghibur Gayatri.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2