Dvesa

Dvesa
Katak Beracun


__ADS_3

“Mereka akan tiba malam ini, sebaiknya kita susun senjata kita agar saat mereka tiba nanti tinggal kita kerjakan” ujar Bansheer pada Siddarth.


“Kau dan yang lainnya susun senjata itu, aku pergi sebentar”


Siddarth meninggalkan ruang senjata.


“Laksmi di mana dia?” tanya Siddarth pada Rishi yang sedang bercana dengan beberapa penari.


Rishi memberi kode bahwa Laksmi ada di kamarnya.


Siddarth masuk ke kamarnya, mengagetkan Laksmi yang sedang duduk.


“Ada apa?” tanya Siddarth melihat wajah ketakutan Laksmi.


Wajah Laksmi pucat dan tubuhnya tampak lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Siddarth dengan wajah cemas.


“Dia baik-baik saja. Hanya demam beberapa hari ini. Jika anda ingin bersama dengannya, saya sarankan anda urungkan niat anda. Anda bisa saja terjangkit demam darinya” ujar Rishi melirik Laksmi yang tampak ketakutan.

__ADS_1


Siddarth berusaha mendekatkan punggung tanggannya ke dahi Laksmi mengecek suhu tubuhnya. Rishi buru-buru menghentikan tindakan Siddarth. Rishi mengingatkan Siddarth bahwa Laksmi butuh istirahat untuk mengembalikan kondisinya. Siddarth boleh memilih penari lain.


Siddarth menolak saran Rishi, dia meminta tabib datang memeriksa kondisi Rishi lalu kembali ke tempat peralatan.


“Tuan, kondisi nona Laksmi dalam keadaan demam. Denyut nadinya dan nafasnya dua kali lebih cepat dari kondisi normal. Saya telah memberinya obat terbaik, dalam beberapa hari ke depan saya yakin kondisinya akan segera pulih” ujar Tabib yang menemuinya di gudang obat. Berita dari tabib membuat perasaan Siddarth berkurang.


“Tuan, mereka sudah tiba” ucap Bansheer melihat dua prajurit yang sedang ditunggunya.


“Perintahkan mereka menuju gudang senjata” ujar Siddarth.


Kedua prajurit itu segera mengigat kuda mereka tidak jauh dari gudang senjata. Mereka membawa empat buli-buli yang diikatkan pada pinggang mereka.


Mereka bermpat menggenakan sarung tangan, dan mengeluatkan katak tersebut secara hati-hati dan meletakannya di atas daun pisang yang telah di jadikan sebagai alas untuk menaruh katak-katak tersebut di meja.


"Keluarkan racun katak itu" perintah Siddarth.


Kedua prajurit itu mulai membedah dan menyayat tubuh katak tersebut, memisahkan kulit dari tubuh katak.


Satu persatu kulit katak tersebut di oleskan pada ujung tombak, pedang, belati, anak panah, dan benda tajam lainnya.

__ADS_1


Setelah selesai mengoles, mereka membiarkan senjata tersebut di ruang terbuka hingga racun tersebut mengering dan memasukan kembali ke ruang senjata.


Racun katak ini sangat berbahaya. Racunnya akan bekerja lebih cepat jika terkena luka terbuka.


Siddarth memilih strategi yang akan membunuh lawannya dengan cepat. Luka bakarnya belum sembuh, dia tidak akan sanggup menghabisi seluruh kerajaan ketiga jika hanya mengandalkan keahlian pedangnya.


Siddarth mengeryit saat tabib membuka bajunya. Waktunya mengganti balutan lukanya.


Siddarth berusaha melihat punggungnya yang tampak kemerahan sedang dibersihkan oleh tabib lewat pantulan cermin.


Siddarth memejamkan matanya saat tabib selesai membalut lukanya.


Siddarth terperanjat saat sebuah tangan halus menyentuh permukaan punggungnya.


"Jangan banyak bergerak" ujar Gayatri dingin sambil membantu Siddarth mengenakan baju.


"Kembalilah dalan keadaan selamat dan penuhi janjimu"


Gayatri membereskan sisa balutan dan luka dan pergi dari tempat itu diikuti tabib. Sedangkan Siddarth menatap kepergian Gayatri dengan senyum kecil di wajahnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2