
Mereka telah berada di kapal, berlayar menuju Suballa. Gayatri bermaksud menoleh melihat pulau tanah kelahirannya, namun segera dicegah oleh Saksenya.
"Masuklah, angin di luar tidak bagus untuk kesehatanmu," bisik Saksenya membawa Gayatri meninggalkan dek kapal.
Bansheer memerintahkan Ankush memantau pergerakan Saksenya dan rombongannya.
"Ikuti mereka dan pantau semua pergerakannya, saat mereka lengah ambil barang itu dan bawa padaku," bisik Bansheer.
Ankush tampak keberatan. Menurutnya kelompok Suballa tidak mengancam keberadaan mereka. Sepanjanh dirinya mengenal Saksenya, laki-laki itu bisa saja bengis dan manusiawi di saat yang berbeda.
Tetapi melihat kondisi istri dan prajuritnya nampaknya Saksesnya bukan ancaman serius. Apalagi lelaki itu dikenal menghindari segala hal yang dapat memecah peperangan.
Ankush mengawasi prajurit Suballa. Jumlah mereka bahkan tidak sampai 30 orang dengan kondisi mengenaskan. Mungkin saja selama perjalanan mereka tidak makan dan istirahat dengan baik.
Ankush melemparkan seekor ayam penyakitan pada prajurit yang sedang memasak di dapur kapal. Meskipun agak curiga dengan sikap Ankush namun mereka tetap mengolah daging itu.
"Apa kalian benar melewati kawasan yang dijaga orang Tiongkok?," tanya Ankush.
Prajurit-prajurit itu enggan menjawab. Mereka terus saja bekerja. Ankush sudah menduga, mungkin saja itu akal-akalan Gayatri agar mereka segera meninggalkan Dwipajaya.
__ADS_1
Ankush diam memperhatikan rombongan Suballa. Terlihat bahwa rombongan itu tidak banyak bicara dan sangat cekatan. Ankush telah banyak menjelajah semua wilayah di Hindustan. Menurutnya tipikal masyarakat Suballa yang paling berbeda di antara daerah lainnya. Kalau di Astapura terkenal dengan cendekiawan dan orang-orang yang pintar berdebat maka di Suballa sebaliknya.
Wilayah Suballa merupakan penghasil tambang nikel. Tentu masyarakatnya tidak punya waktu untuk banyak berbicara ataupun sekedar mendengarkan cerita-cerita penguasa. Setengah kehidupan mereka habis di kawasan pertambangan. Maka tidak heran banyak mantan-mantan prajurit bekerja di sana.
Byur, percikan air membasahi lengan Ankush.
"Maafkan saya tuan, saya kira ada penjahat yang diam-diam melihat putri kami tidur," ejek Anjali.
Wajah Ankush merah padam mendengar ejekan tersebut.
"Wanita di Suballa tidak diajarkan sopan santun! beraninya kau sembarangan menuduh!," geram Ankush.
"Apa anda ingin mencambuk saya?," lakukan sesuka anda, ejek Anjali lagi dengan tatapan menghina.
"Belum ada yang mencurigakan, dan tidak ada informasi tentang jalur yang dijaga oleh tiongkok," lapor Ankush pada Bansheer yang sibuk menggeser bidak catur.
"Undang Saksenya kemari," kata Bansheer tanpa mengalihkan tatapannya pada papan catur tradisional milik Astapura.
Selang beberapa waktu kemudian Ankush kembali disusul oleh Saksenya.
__ADS_1
"Apa hukuman yang pantas bagi orang yang mengganggu ketenangan raja," ujar Saksenya.
"Sejak kau menikah sepertinya banyak hal berubah. Apa semenyenangkan itu punya istri?," tanya Bansheer.
"Dibanding bertanya akan lebih baik kalau kau carikan jawabannya sendiri. Ada banyak wanita di Odissa, mereka akan memperlakukanmu dengan baik," kata Saksenya merujuk pada tempat penari di Astapura.
"Aku punya satu di istana, dan itu lebih buruk dari dugaanku," kata Bansheer.
Saksenya menyipitkan mata, mendengar pengakuan Bansheer. Dia menduga-duga ucapan Bansheer.
"Jalankan bidakmu," perintah Bansheer.
"Kau membunuh mertuaku," kata Saksenya sambil basa-basi.
Sejenak Bansheer menatap wajah Saksenya. Tampak olehnya rahang pria itu mengeras.
"Apa kau mempercayai omong kosong itu?," tanya Bansheer.
"Kau meracuni minuman yang dibawah oleh paman Gayatri dan memberikannya pada mertuaku Raja Daneswara," ujar Saksenya sembari memakan pion yang ditempatkan oleh Bansheer.
__ADS_1
"Percayailah apa yang ingin kau percayai hingga nanti kepercayaanmu berubah menjadi penghinaan," kata Bansheer.
...----------------...