Dvesa

Dvesa
Menunggu Waktu


__ADS_3

Siddarth mendekat ke arah Gayatri yang tampak kosong. Istrinya duduk menghadap tembok ruang belakang tempat di mana dia rutin berlatih. Wajah Gayatri tampak sembab, pandangan matanya sayu. 


"Aku turut berduka atas apa yang terjadi di Dwipajaya" ujar Siddarth pelan.


"tsk" Gayatri mencibir Siddarth.


"Bansheer ada di luar kendaliku saat ini. Ayah sedang bersiap menuju Dwipajaya" ujar Siddarth berusaha menenangkan Gayatri.


"Apa gunanya? apakah kedatangan ayah mertua bisa menghidupkan ayah dan seluruh keluargaku?" tanya Gayatri suaranya berat.


"Aku tidak menyangka Bansheer akan melakukan ini. Ini diluar dugaan kami. Maafkan aku tidak mampu menyelamatkan Dwipajaya" ujar Siddarth, dia tidak tahu bagaimana caranya meyakinkan Gayatri bahwa dia bukan dalang dari segala kekacauan itu. Siddarth tidak dekat dengan mertuanya, kata-kata yang keluar dari mulut Siddarth terdengar seperti sampah bagi Gayatri.


"Tidak perlu menghiburku, Dewa telah menggariskan takdirku. Jangan berbicara seolah kau peduli dengan keluargaku" ujar Gayatri sinis.


"Baiklah jika itu maumu. Aku rasa kau butuh waktu untuk menyendiri" ujar Siddarth.


Gayatri tidak habis pikir dengan sikap Siddarth. Sikap apa yang barusan Siddarth tunjukan? Kematian keluarganya tampak tidak berarti bagi Astapura. Bela sungkawa yang anggota istana ini tujukan padanya tampaknya hanya formalitas. Tidak ada empati sama sekali.


Air mata Gayatri tumpah. Dia buru-buru mengusap wajahnya dengan sari yang di kenakannya. Dia tinggal di dalam kamarnya selama 40 puluh hari tanpa mau berinteraksi dengan siapa pun. 

__ADS_1


Kedua pelayannya tampak khawatir. Tidak terkecuali dengan Jhanvi. Di sisi lain Jhanvi senang karena Siddarth menghabiskan banyak waktu di kamarnya, di sisi lain dia benci mendengar para pelayan yang bergosip dengan Rishi diam-diam memberikan Gayatri makanan tambahan yang bergizi agar Gayatri tetap sehat.


"Sampai kapan tuan putri akan berada di dalam kamar" bisik Sanjan pada Rupika.


"Pergilah! jangan bergosip" usir Rupika.


"Aku hanya bertanya. Tuan Siddarth tampaknya sedang bersenang-senang dengan putri Jhanvi" ujar Sanjana mengeraskan suaranya agar Gayatri mendengarnya.


"Hey! hentikan tingkah bodohmu" ujar Gunjana memarahi Sanjana.


"Kalian berhentilah bertengkar" hardik Gayatri.


"Bawakan aku makan ke ruang belakang" perintah Gayatri.


Gayatri berjalan menuju kuil. Dia menatap wajah Mahadewa dalam hati kecilnya dia berdoa semoga Dewa mengampuni kesalahannya karena telah meninggalkan Mahadewa selama 40 hari. Dia tidak meminta apapun selain keteguhan hati karena saat ini dia telah menjadi yatim piatu. 


"Aku turut berduka cita atas kematian keluargamu dan rakyat Dwipajaya" ujar Saksenya yang telah berada persis di belakang Gayatri.


Saksenya mengikuti langkah kaki menuju ruang belakang yang baginya tampak kumuh. Dinding ruagan itu penuh lumut. Ada debu yang menempel di lantainya dan jendela batu yang mengarah ke jalan belakang istana.

__ADS_1


"Makanlah" tawar Gayatri. 


Saksenya tidak menolak. Mereka makan dalam diam. 


"Tidakkah kau ingin berjalan di rumput-rumput kering itu?" tanya Saksenya.


"Ada hal yang ingin kuceritakan" 


Saksenya menceritakan semua perjalanannya menuju Dwipajaya dan keserakahan Bansheer. Cerita Saksenya nampak jelas bagi Gayatri. Siddarth dan ayahnya tidak terlibat tetapi karena kelalayan mereka sebuah kerajaan harus menanggung akibatnya.


"Kau ingin balas dendam?" tanya Saksenya.


"Tidak" balas Gayatri.


Balas dendam akan menimbulkan lebih banyak korban dan penyesalan. Lagi pula balas dendam tidak akan menghidupkan nyawa orang-orang yang meninggal.


Gayatri tahu ibunya melakukan ritual Sati, yakni membakar diri dalam api suci dan ayahnya bersumpah untuk keturunan Bansheer. Alam Dwipajaya dilindungi raksasa abang dan biksu tantra. Tinggal menunggu waktu kapan Bansheer akan musnah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2