Dvesa

Dvesa
Hutang Darah


__ADS_3

"hoek, hoek" terdengar suara muntahan dari kamar Jayamangkala.


"Suamiku apa yang terjadi?" tanya Andini istrinya.


Jayamangkala memegang tangan istrinya menyanggah badannya yang tampak gemetar. Andini melihat muntah itu bercampur darah. Dia berteriak histeris memanggil anak-anaknya.


Mata Jayamangkala tampak membesar dan berair. Kepalanya menegadah ke atas dan mulutnya tampak membuka. Andini melihat lidah suaminya tertelan. 


"Panggilkan tabib!" teriak putra tertuanya.


Mereka berusaha membaringkan Jayamangkala, namun terlambat. Jayamangkala telah meninggal. Tubuhnya kaku dengan mata setengah tertutup dan mulut yang masih terbuka.


"Ayah, bangun ayah" teriak anak-anaknya histeris.


"Siapapun panggil paman Jayakarsa kemari" ujar putranya panik.


Jayakarsa yang mendengar berita itu, buru-buru menuju kerajaan Jayamangkala.


"Kakak, kakak, panggilnya sambil berlari ke arah kamar Jayamangkala.


Jayakarsa terduduk lemas saat menyaksikan tubuh kaku kakaknya yang terbaring dikelilingi anak dan istrinya yang tengah berurai air mata. Dia menangis sejadi-jadinya. 

__ADS_1


Fajar hampir menjelang, mereka memandikan mayat Jayamangkala. Memakaikannya jubah kebesaran saat dirinya dinobatkan menjadi raja. Membawanya ke peristirahatan terakhir, tumpukan kayu yang dipakai untuk membakar mayatnya.


"Semoga nyawanya mencapai nirvana" idak putra tertuanya sambil membakar bagian tubuh ayahnya. Semua orang yang hadir dipemakaman itu selain keluarga kerajaan, berkutut dan menundukan kepalanya. Memberi penghormatan terakhir pada Raja Jayamangkala.


Kobaran api membakar habis tubuh Jayamangkala. Mereka memindahkan debu kedalam kendi, untuk ditaburkan dan dilarungkan di laut. 


"Keponakanku, ajak ibu dan adikmu menuangkan abu kakakku ini. Aku akan menemui iblis!" ujar Jayakarsa. Matanya basah dan merah.


Dia bersama prajuritnya memacu kudanya ke kerayaan Jayanegara. 


"Jayaswara! Jayaswara! keluar kau" teriak Jayakarsa di depan istana Jayanegara.


"Kakaku Jayamangkala telah menjadi abu dan kau sama sekali tidak merasa bersalah?!" teriak Jayaswara.


"Apa maksudmu? Kemarilah dan duduklah kita bicarakan baik-baik" ujar Jayaswara heran.


Jayaswara berteriak sambil menceritakan kematian Jayamangkala. Lemaslah seluruh tubuh Jayaswara mendengar cerita itu. Adiknya tak mungkin berbohong.


"Aku tidak menyangka kau sepengecut itu. Hanya karena Jayamangkala tidak memberitahumu kau menghabisi nyawanya" 


Jayaswara geram dengan tuduhan Jayakarsa.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan apa-apa" Jayaswara mengelak.


"Ingat, di keluarga kita hanya kau yang tidak memiliki hubungan baik dengan Jayamngkala. Rasa iri hati dan dendam telah membutakan mata dan nuranimu!" 


"Hutang darah harus dibayar darah. Hutang nyawa harus dibayar nyawa!" 


"Hentikan adikku. Kemarahan telah menguasai sampai menuduh yang bukan-bukan. Baiklah jika kematianku dapat meredakan amarah dan kesedihan maka akan aku lakukan".


"Biarkan Dewa dan semesta ini yang akan menilai. Kumpulkan semua rakyatku dan pendeta di kuil ini" perintah Jayaswara.


Semua rakyat berkumpul di pelataran istana.


"Hari ini kalian semua akan menyaksikan sidang perkabungan. Kalian semua akan jadi saksi atas dosa yang dituduhkan kepadaku" 


"Jika benar aku memiliki niat jahat pada adikku Jayamangkala dan telah membunuhnya maka aku akan hangus terbakar api suci ini" ujar Jayaswara menunjuk pendeta yang sedang menyalakan api, sambil membacakan mantra meminta keadilan atas perbuatan yang dituduhkan pada Jayaswara.


Jayaswara melepaskan pakaiannya hingga menyisakan sepotong kain melilit pinggangnya. Dia duduk bersila. Pendeta menuangkan minyak, mengambil sepotong kayu yang terdapat nyala api lalu menyulut pada ujung kain Jayaswara.


Api merambat dengan cepat. Istri dan anak Jayaswara berteriak histeris menyaksikan kobaran api melahap tubuh itu. Jayaswara tetap dalam posisi bersila, dia tidak berteriak kesakitan saat api semakin membesar.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2