
"Nyonya, mereka telah berangkat!" lapor Rupika.
"Biarkan saja. Lagipula aku tidak wajib mengantar mereka pergi" jawab Gayatri.
"Baiklah nyonya, apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya Rupika lagi.
"Aku akan ke perpustakaan. Kau dan Gunjana tidak perlu ikut. Kalian beristirahatlah."
Gayatri pergi ke perpustakaan Astapura, sesampainya di sana dia disambut oleh Nandini pria yang bertugas di tempat itu. Nandini sedang menyapu dan membersihkan debu yang menempel pada peralatan yang ada di ruangan itu.
"Salam Nyonya, suatu kehormatan anda berkunjung ke tempat ini" hormat Nandini.
"Aku akan sering ke tempat ini. Mohon kerjasamanya" balas Gayatri.
Gayatri berjalan menyusuri ruangan itu. Bangunan itu dibuat dengan atap rendah, padahal dari luar gedung itu sangat menonjol di antara gedung lainnya. Interior ruangan itu sangat sederhana. Terdapat beberapa lukisan di dinding. Di ujung ruangan terdapat pintu yang diukir wujud Dewi Saraswati.
"Pintu apa itu?" tanya Gayatri penasaran.
"Itu buku khusus kerajaan" ujar Nandini
"Simbol Dewi Saraswati apa banyak pengetahuan tersembunyi di dalamnya?" tanya Gayatri.
"Tidak ada yang bisa masuk ke sana selain keturunan kerajaan Astapura. Bahkan menantu raja sekalipun tidak diperbolehkan" ujar Nandini memperingati Gayatri.
Gayatri diam sejenak.
"Apa kau punya buku tentang dasar beladiri dan belajar pedang untuk pemula?" tanya Gayatri.
"Tentu saja Nyonya. Bela diri apa yang ingin anda kuasai? kami punya banyak versi termasuk belajar pedang."
"Kau punya saran untuk pemula sepertiku?"
"Tentu saja. Tunggu sebentar" ujar Nandini berjalan ke arah tumpukan buku di ruangannya, meninggalkan Gayatri yang menatap peralatan tulis berserakan di meja Nandini.
__ADS_1
"Ini Nyonya. Bangsa Agra dikenal sebagai pengguna pedang yang handal dalam sejarah Hindustan mereka menaklukan banyak negeri dengan kemampuan memakai pedang"
"Untuk beladiri anda bisa mempelajari Kalaripayattu ini bela diri asli dari Hindustan" ujar Nandini bersemangat.
Gayatri membuka buku yang tampak lusuh itu. Kertas buku itu berwarna kekuningan ditulis dengan tinta hitam tebal. Buku itu hanya terdiri dari lima puluh halaman.
"Apa kau yakin, buku setipis ini akan membantuku?" tanya Gayatri tidak yakin.
"Anda adalah pemula Nyonya, jika anda selesai berlatih ini datanglah kembali ke sini" ujar Nandini sambil tersenyum.
"Aku ingin menyalin isi buku ini. Bolehkah aku menggunakan kertas dan alat tulismu" ujar Gayatri sambil menunjuk alat tulis milik Nandini.
"Dengan senang hati Nyonya" ujar Nandini.
Gayatri duduk di meja yang berada di pojok ruangan, dia menulis isi buku itu. Sepanjang hari Gayatri sibuk menulis sambil mempelajari isi buku itu.
Hari mulai beranjak siang. Nandini sudah lebih dari lima kali bolak balik dari mejanya menuju meja Gayatri ingin memastikan apakah Gayatri baik-baik saja.
"Apa nyonya ada di sini?" tanya Rupika tergesa-gesa pada Nandini.
"Sstt, Nyonya sedang belajar" ujar Nandini menempelkan telunjuk di bibirnya mengisyaratkan agar Rupika tidak berisik.
"Aku khawatir, nyonya belum makan seharian" ujar Rupika cemas.
"Nyonya, makanlah dulu anda belum makan sejak pagi" ujar Rupika pada Gayatri, dia mengabaikan Nandini yang berusaha mencegahnya.
"Bawa semua makananku ke tempat ini. Bawakan sebanyak empat porsi" ujar Gayatri.
"Nandini kemarilah sebentar" pinta Gayatri.
"Duduklah" Gayatri meminta Nandini duduk disampingnya.
"Berapa lama kau bekerja di tempat ini? tanya Gayatri.
__ADS_1
"Hampir lima belas tahun nyonya"
"Apa kau membaca semua jenis buku di tempat ini?"
"Tentu saja nyonya. Tiga tahun belakangan ini hampir tidak ada buku yang datang. Aku gunakan waktu luang untuk menyalin buku yang rusak"
"Berdasarkan pengetahuanmu, hukum pernikahan seperti apa yang berlaku di kerajaan ini? Kau tahu Siddarth menikah tanpa membicarakan terlebih dahulu denganku, alasannya dia telah melanggar adat di Madhyaprasta"
"Nyonya, hukum pernikahan yang dipakai di Astapura, digunakan di seluruh kerajaan Hindustan. Sekarang peraturan di kerajaan lain tidak seketat dulu mereka menyesuaikan dengan budaya setempat"
"Putra raja memiliki hak khusus menikah lagi tanpa perlu menunggu persetujuan istri pertamanya"
"Jika Putri Raja Madhyaprasta memiliki keturunan apa yang akan terjadi denganku?" tanya Gayatri.
"Selama hubungan politik Astapura - Dwipajaya masih berjalan, anda akan aman" ujar Nandini pelan.
"Nyonya kalau boleh saya bilang, masa depan anda telah ditentukan sejak anda dalam rahim ibu anda. Tidak ada yang bisa menolak itu. Yang bisa anda lakukan sekarang adalah menghadapinya dengan bijak"
Gayatri mengakhiri tulisannya pada lembar terakhir dia merapikan meja itu.
"Nyonya apa boleh saya katakan satu hal. Semoga ini tidak menyinggung anda" ujar Nandini gugup.
"Katakan" ujar Gayatri tenang.
"Melanggar adat atau tidak saya rasa Tuan Siddarth akan tetap menikahi Putri Raja Aryan"
"Nyonya, makanan sudah siap" Rupika dan Gunjana menghentikan percakapan Gayatri dan Nandini.
Gayatri meminta mereka menata makanan tersebut dan mereka mulai duduk melingkar di lantai yang dilapisi karpet.
"Makanlah, ini permintaanku jangan ada yang membantah ataupun bertanya" ujar Gayatri sambil tersenyum menyembunyikan perasaan kalutnya.
...----------------...
__ADS_1