Dvesa

Dvesa
Purnama Tiba


__ADS_3

Bansheer duduk di atas kursi singasana yang di bawa menuju perbatasan Wilisgiri. Semua tamu sakti mandraguna dipimpin oleh Patih Dursasana. Mereka merafalkan matra tidur saat bulan purnama penuh. Jauh di tengah hutan, Wilis raksasa merah tertidur dalam meditasinya. Alunan mantra itu sudah lama tak terdengar sejak patih Mahesa membacanya.


Selama mantara dibaca, Ankush bersama prajurit terbaiknya masuk hingga ke tengah hutan. Mereka menjelajahi lembah dan gua yang ada di hutan itu bersama tetua yang pernah bertemu raksasa merah. 


"Cepat, waktu kita tak banyak" teriak Ankush.


Mereka berpencar hingga menemukan sebuah gua yang cukup luas. Tak jauh dari mulut gua terbaring raksasa merah. Demgkurannya membuat tempat manusja berpijak guncang suaranya bisa terdengar hingga ke luar gua.


Ankush memerintahkan agar racun yang telah mereka persiapkan dilumuri dibagian vital raksasa seperti mata dan telinga. Racun yang diambil dari lendir katak itu adalah racun yang pernah membunuh raja tiga jaya dan menaklukan kerjaan besar di Hindustan.


Setelah racun dituang ke mata dan telinganya mereka juga menuangkan racun ke makanan dan minuman dalam tempayan milik raksasa lalu bergegas pergi sebelum purnama berakhir.


"Segera pergi dari sini" perintah Bansheer membiarkan para tamu menyelesaikan pekerjaan mereka sampai bulan kembali penuh.


Wilis, raksasa merah terbangun dari tidurnya. Dia merasa sesuatu yang hangat mengalur di mata, telinga dan ujung bibirnya. Tak lama berselang tubuhnya berunah menjadi semerah api.


Wilis mengamuk, menghancurkan belantara tempnya tinggal berserta isi tempat itu. Suaranya meraung ganas terdengar hingga istana Dwipajaya.

__ADS_1


"Raksasa sudah bangun" tebak Piyush.


Bansheer mengerutkan keningnya. Racun itu langsung membunuh mahluk hidup dari mana pun asalnya. Raksasa itu masih mengaum berarti racunnya tak bekerja maksimal.


"Lapor tuan. Para tamu telah meninggalkan perbatasan. Tak ada yang tersisa. Mereka hanya berpesan sebaiknya segera tinggalkan Dwipajaya" ujar prajurit mata-mata.


Wilis yang mengobrak abrik hutan lari ke perbatasan desa. Pelindung di perbatasan telah hancur, dengan penuh amarah dia merusak desa.


Amukan Wilis menghancurkan seluruh desa apalagi Wilis mencium tak ada darah murni keturunan Dwipajaya di tempat itu.


Seluruh badan Wilis semerah darah. Racun yang diteteskan ke matanya membuat penglihatannya kabur dan telinganya tak bisa mendengar teriakan minta tolong. Wilis menghancurkan apapun yang ada di depannya.


Piyush membawa panah buatan guru Drona yang digantung dalam kamar raja. Panah itu ukurannya cukup besar. Bansheer kesusahan membidik. Anak panah selalu terlepas dari tangannya. Panah itu semakin berat setiap kali diangkat.


Bansheer yang panik membiarkan saja panah itu di sana dan berlari ke tempat senjata. Dia membawa belati, kantong racun dan sumpit racun yang dipelajarinya dari penduduk lokal.


Bansheer berlari ke benteng istana tampak olehnya raksasa dengan wajah dipenuhi lepuhan akibat efek racun. Badannya semerah darah. Bukan, bukan lagi darah melainkan semerah lahar panas. 

__ADS_1


Raksasa itu mengamuk menghancurkan seluruh desa. Bansheer berlari, mengamati raksasa Wilis dari jarak yang lebih dekat. 


Sempurna


Bansheer berlari melewati orang-orang yang sibuk menyelamatkan diri. Naluri Wilis mengatakan ada sesuatu yang mendekat di jalan yang telah diterobosnya. Dicarinya sosok yang mengganggunya itu namun penglihatannya tak kunjung membaik. 


Ternyata hanya memerah namun tak ada efek dari warna merahnya.


Bansheer berlari di antara kaki raksasa itu. Wilis yang memaksakan penglihatannya mengibas-ngibaskan tangannya di area kaki dan menghentakan kakinya.


Tanah tempat Bansheer berdiri bergetar namun tak membuat Bansheer gentar. Dia terhempas berulang kali namun bangkit lagi lalu mengincar urat di kaki raksasa itu. Karena desakan dan keadaan tak memungkinkan Bansheer tak bisa menancapkan belati beracunnya melainkan hanya berhasil menorehkan luka panjang di kaki kanan Wilis.


Wilis meraung memekakakkan telinga. Bansheer segera berlari menjauh dan memanjat pohon terdekat. Wilis yang terluka secara naluriah kembali ke lembah Wilisgiri.


"Tuan, anda berhasil" sorak Piyush girang.


Bansheer menggeleng. 

__ADS_1


"Siapkan pasukan terbaik yang akan berjaga selama 24 jam. Raksasa itu akan datang lagi dan kemungkinan semakin kuat" ujar Bansheer rendah. Dia baru saja menyatakan perang yang akan menghabiskan satu generasi.


...----------------...


__ADS_2