Dvesa

Dvesa
Tulah


__ADS_3

Gayatri terpaku menatap raksasa merah. Ukuran tubuh raksasa itu menyusut hingga seperti orang dewasa normal. Gayatri hampir jatuh saat raksasa maju mendekatinya. Bau busuk memenuhi ruangan itu, kepala Gayatri mual, menahan aroma busuk yang semakin menusuk indra penciumannya.


“Berhenti,” gertaknya membuat raksasa berhenti.


“Aku Gayatri, putri bungsu Raja Daneswara,” ujarnya.


“Apa gunanya turunan Daneswara ada di sini, kalian tidak mampu menjaga tanah leluhur dan perjanjian dengan keempat penjuru mata angin,” ujar sebuah suara yang terasa jauh. 


Gayatri memandang sekitar gua, mencari sumber suara, raksasa di hadapannya tidak membuka mulutnya tetapi, ada suara menggema menyahut ucapannya.


“Ayah dan saudara tiriku dibunuh, saudara perempuanku harus patuh pada suami mereka,” isak Gayatri. 


“Selain ayah dan ibumu, tidak ada satupun dari kalian yang pernah memperhatikan Wilisgiri. Lembah dan hutan ini mendatangkan kesuburan bagi desa kalian, tetapi kalian lupa kewajiban kalian untuk terus menjaga hutan ini. Kalian mengotori sungai, segala isinya habis dan tidak bisa bertahan hidup, kalian mengeruk isi bumi hingga tanah menjadi tandus. Lalu sekarang kau datang membawa nama ayahmu untuk minta pengampunan!,” teriakan menggelegar di hutan itu. Bahkan Saksenya yang tengah berjaga merasakan guncangan di tempat itu.

__ADS_1


“Manusia dibentuk dari 7 dosa, keserakahan, keangkuhan, kesombongan, tipu muslihat, ketakamakan, Culas, dan iri hati. Karena itu kalian tidak pernah puas. Kalian menghukum makhluk lain dan menyamakan mereka dengan binatang, sesungguhnya kalian lebih rendah daripada binatang,” mata raksasa yang telah dipenuhi borok melotot marah pada Gayatri dengan mulut terkatup.


“Terkutuklah tanah terjanji ini dan seluruh isinya. Empat penjuru mata angin, di utara kalian akan merasakan kesengsaraan, di selatan kalian akan saling membunuh untuk bertahan hidup, di timur kalian akan melihat semua jenis tanaman hijau tetapi semuanya beracun, di barat kalian akan menderita kemarau dan kelaparan sepanjang musim,” teriak suara itu. 


Bersama dengan itu, raksasa merah menghancurkan dirinya dengan ilmu kanuragan terakhir miliknya. Seluruh tubuhnya hancur berserakan, darah dan nanah tiba-tiba semakin luas dan perlahan menggenangi ruangan itu.


Anjali dan prajuritnya menarik Gayatri keluar dari gua itu. 


“Segera kita tinggalkan tempat ini,” ujar Anjali ketika mereka telah sampai di mulut gua.


Gayatri ingin singgah ke istana, melihat bangunan itu terakhir kalinya. Tetapi Saksenya mencegahnya dan memaksa kuda mereka untuk berlari semakin kencang. Waktu tempuh yang harusnya satu minggu dipersingkat menjadi empat hari hingga tiba di dermaga.


“Hebat, hebat, hormat putra Raja Suballa dan Putri Daneswara,” ujar Bansheer sambil tergelak.

__ADS_1


Bansheer bersama prajuritnya telah menguasai kapal milik mereka dan menawan prajurit Suballa.


Saksenya yang geram mengangkat senjatanya namun cepat dicegah oleh Gayatri.


“Kita tidak punya banyak waktu di sini darah raksasa merah mengandung racun. Cepatlah naik ke kapal dan tinggalkan tempat ini,” ujar Gayatri.


“Kalau begitu kami yang akan pergi,” ujar Bansheer bergegas naik.


“Beberapa jalur perdagangan dikuasai tiongkok, kau tidak akan bisa melewati meriam dan panah para penjaga,” ujar Gayatri sambil menunjukan lencana giok, izin berlayar miliknya.


“Kita tidak punya banyak waktu darahnya semakin meluas,” ujar Anjali menunjuk sebagian gunung yang telah kering karena racun. Pulau itu akan hancur.


‘Segeralah naik pecundang, sedang apa kalian di situ,” teriak Bansheer yang sudah berada di Kapal.

__ADS_1


Rombongan Saksenya segera naik ke kapal dan meninggalkan kerajaan Dwipa Jaya. Gayatri tak bisa menahan tangis sambil melihat kerajaan milik ayahnya hancur. 


...----------------...


__ADS_2