
Bansheer mengibas-ngibaskan bajunya sambil memantau Piyush dan prajuritnya memindahkan hasil panen yang telah dibeli ke kapal milik pedagang langganan mereka.
Cuaca siang itu cukup terik meskipun langit tampak mendung. Bansheer menyimpan uang ke dalam kantong khusus yang ditaruh di pelana kuda miliknya. Setelah semuanya terjual dia segera kembali ke Jiwang.
"Tuan sudah kami jalankan sesuai perintah anda" lapor Piyush.
"Hmm" gumam Bansheer.
Bansheer sedang membuat laporan untuk diantar kepada Sri Narendra. Utusan khusus yang mengambil laporan dan uang hasil penjualan telah sampai. Bansheer harus menyelesaikan pekerjaannya dan menyerahkan pada utusan tersebut.
Setelah berjam-jam berkutat dengan laporan tersebut akhirnya Bansheer berhasil menyelesaikannya. Bansheer sendiri pula yang menyerahkan kedua benda penting itu pada utusan Astapura.
Utusan khusus dipilih langsung oleh Sri Narendra dan dijamin tidak akan berkhianat. Laporan dan uang ini akan aman tiba di Astapura.
"Tuan apa kita harus bergerak sekarang?" bisik Piyush setelah utusan tersebut pergi.
"Kita akan melakukannya besok pagi, tetap tenang dan jangan gegabah. Tunggu perintah dariku" Bansheer mengingatkan Piyush.
__ADS_1
Malam itu Bansheer dan antek-anteknya mengeluarkan sisa panen dari tempat penyimpanan. Mereka membawa sisa panen tersebut ke pelabuhan nusantara yang lain. Mereka melakukan penyamaran agar tidak dikenali sebagai orang Astapura.
Fajar menjelang mereka tiba di pelabuhan yang jaraknya dua puluh kilometer dari Jiwang. Mereka bergabung bersama pedagang lain yang menjajakan jualannya.
"Kita orang baru di sini. Perhatikan kondisi pasar, jangan lengah. Tujuan kita adalah berjualan bukan mencari keributan" bisik Bansheer pada pengikutnya.
"Hey anda siapa, ini tempat jualan kami" ujar seorang pedagang pada Bansheer.
"Aku telah membayar pajak yang tinggi agar bisa memiliki tempat ini" ujar Bansheer.
"Tunjukan buktinya!"
Melihat bukti dan jumlah bayar pajak yang ditunjukan Bansheer, tanpa banyak bicara pedagang itu meninggalkan Bansheer dan kelompoknya.
Bansheer tersenyum licik. Bukti pajak itu adalah bukti pajak palsu yang dia tiru sedemikian rupa agar mirip aslinya. Tanpa membuang waktu, mereka membuka karung dan menata isinya agar pembeli melihat dagangan mereka.
Hasil panen yang mereka tata menarik perhatian tengkulak yang datang di pagi itu. Terjadilah tawar-menawar antara Bansheer dan para tengkulak yang datang.
__ADS_1
"Tuan turunkan harganya sedikit. Di tempat lain kami bisa memperoleh barangnya sama dengan harga yang lebih rendah" tawar tengkulak.
"Hentikan omong kosongmu tuan! jika barang di tempat lain lebih murah kenapa tidak membeli di sana saja" ujar Piyush geram.
"Tuan maksud kami, tanaman ini kami tanam sendiri dan kami pastikan sendiri kualitasnya. Jika anda menawar dengan harga rendah, maka anda boleh mencari penjual lain" ujar Bansheer menengahi pertengkaran.
Tengkulak tampak bimbang. Dia menatap Bansheer dan jualannya bergantian.
"Tidak perlu bimbang tuan, hasil panen kami hanya cocok untuk pembeli yang punya banyak uang" ujar Bansheer lagi.
Merasa tersinggung tengkulak itu memborong semua hasil panen dengan harga dua kali lipat. Bansheer tentu saja senang jualannya terjual dalam sekejap, mereka harus segera meninggalkan pelabuhan itu sebelum ada yang curiga.
"Piyush, hari ini kau kuampuni" ujar Bansheer menatap wajah ketakutan Piyush.
Bansheer menceramahi mereka semua tentang cara berdagang. Bansheer menimang-nimang kantong berisi uang. Bansheer menganggap uang itu adalah bayaran bagi kerja kerasnya di Jiwang dan awal baru perjalanannya.
Dia sudah tidak sabar menyaksikan amarah Siddarth dan ayahnya si tua Sri Narendra.
__ADS_1
...----------------...