
"Tuan sudah waktunya" bisik Piyush pada Bansheer.
"Jangan bertindak bodoh. Biarkan mereka menikmati jamuan ini" bisik Bansheer.
"Tapi tuan…"
"Lakukan sesuai perintahku!"
Piyush meninggalkan Bansheer dengan muka masam.
"Tuan-tuan malam sudah larut. Sudah saatnya saya meninggalkan tempat ini" Jayamangkala menginterupsi pesta yang sedang berjalan.
Jam pasir di hadapannya hampir habis pertanda tengah malam.
"Tentu saja Tuan. Kalau anda tidak keberatan terimalah hadiah yang telah kami siapkan" ujar Bansheer senang.
"Aku juga mohon pamit Tuan. Terima kasih atas jamuan mewah dan anggur terbaik ini" Jayakarsa menyusul Jayamangkala.
"Kakak kembalilah, Tuan Bansheer dan orang-orangnya perlu beristirahat" ujar Jayakarsa menyadarkan Jayaswara yang sedari tadi sibuk menyesap anggur.
"Ah ya baiklah. Saudaraku jika kau mengadakan pesta lagi jangan lupa mengundangku" ujar Jayaswara setengah mabuk.
"Bereskan kekacauan ini" perintah Bansheer setelah semua tamunya pulang.
Bansheer merebahkan dirinya di ranjang yang ada di kemah. Besok dia akan melancarkan aksi yang sesungguhnya. Tunggu saja, satu persatu akan ada dalam genggamannya.
Siddarth kau akan menyesal telah meremehkanku dan menghancurkan kesepakatan kita batin Bansheer sebelum terlelap.
__ADS_1
...*****...
Kokok ayam membangunkan Siddarth dari tidur panjangnya. Dia meraba-raba sisi ranjangnya mencari keberadaan Jhanvi istri keduanya.
Kemana Jhanvi pikir Siddarth panik. Dia segera berpakaian dan berkeliling sekitar tempat persembunyian mereka dekat pelabuhan.
Tampak olehnya Jhanvi sedang meratakan adonan roti bersama juru masak yang dibawanya dari istana.
Siddarh memandang Jhanvi yang sibuk bercengkrama. Tanpa sadar dia membandingkan Jhanvi dan Gayatri. Perbedaan mencolok antara mereka adalah Gayatri pendiam dan berwibawa sedangkan Jhanvi pandai bergaul dan lucu. Sejak bertemu Jhanvi dunia Siddarth berubah. Ada rasa aneh yang mengelayar setiap dia menatap wanita itu. Siddarth tidak ingin menduga-duga perasaan itu, biarkan mereka menikmati waktu bersama.
"Belum ada tanda-tanda pergerakan" ujar Siddarth usai sarapan.
Dia dan Jhanvi duduk berhadapan dalam sebuah rumah tua. Mereka sedang mendiskusikan langkah apa yang tepat untuk mencegah kedatangan Hagai Khan.
"Apa Hagai mengetahui strategi kita?" tanya Jhanvi.
"Hari ini ayahku akan tiba. Jaga sikapmu dan jangan memancing keributan" ujar Jhanvi.
"Siapa yang akan menggantikan ayahmu di Madhyaprasta?" tanya Siddarth heran.
"Maksudku Raja Gopal. Dia ayah angkatku sekarang" ujar Jhanvi mengingatkan Siddarth akan bujukan Jhanvi pada Raja Gopal.
"Ah, baiklah"
"Raja Gopal datang" ujar prajurit yang berjaga.
"Umur panjang, mari kita sambut ayahku" ujar Jhanvi bersemangat.
__ADS_1
Mereka berdua keluar menyambut Gopal, Naveer, dan satu pasukan prajuritnya.
"Salam ayah. Kami telah menunggu kedatanganmu sejak kemarin" ujar Jhanvi memberi salam pada Gopal.
"Ada kendala dalam perjalanan kemari. Kuda dan prajurit kami butuh istirahat jadi kami tiba lebih lambat dari perkiraan" ujar Gopal menatap sinis Siddarth.
"Jangan khawatir ayah, aku menjaga putrimu dengan baik" sindir Siddarth.
"Jangan panggil aku ayah. Kau menikahi Jhanvi bukan berarti kai bisa seenaknya padaku" hardik Gopal.
"Baiklah tuan. Selamat datang dan selamat bergabung" ujar Siddarth mempersilahkan Gopal masuk.
Siddath mengedipkan sebelah matanya melihat wajah cemberut Jhanvi. Mereka bertiga duduk sambil berdiskusi. Sepanjang percakapan mereka Gopal terus menatap Siddarth menilai pria iblis di hadapannya. Siddarth yang sadar diperhatikan makin berulah.
"Apa yang terjadi pada Jhanvi" tanya Gopal saat Jhanvi meninggalkan mereka berdua.
"Maksud paman?" tanya Siddarth.
Gopal baru saja akan menyemprotnya karena panggilan yang berubah-ubah.
"Apa alasan Jhanvi menikahi pria iblis dihadapanku" ujar Gopal.
"Pria iblis ini yang berhasil membuat Jhanvi tergila-gila" ujar Siddarth tersenyum jahil, memancing kemarahan Gopal.
Senyum jahil Siddarth membuat Gopal tertegun sejenak.
...----------------...
__ADS_1