
Gayatri keluar dari ruang belakang bangsal wanita. Dia melihat mendengar bunyi-bunyian dari arah Odissa.
Gayatri sengaja berjalan ke arah dapur, melihat dari jauh keramaian apa yang ada di Odissa.
"Ada apa?" tanya Gayatri pada pelayan yang sibuk lalu lalang di tempat itu.
"Tuan mempersiapkan pesta penyambutan untuk putri Jhanvi"
Gayatri diam sejenak lalu mengucapkan terima kasih pada pelayan yang lewat. Gayatri berjalan menuju dapur, dinyalakan tungku dan mulai memasak. Dia memasak makanan yang sama yang diberikan pada para penari waktu itu.
"Tuan putri anda tidak perlu melakukan ini" bujuk Rupika berusaha menghentikan Gayatri.
"Tidak masalah. Sebagai nyonya rumah, aku perlu menyambut anggota baru di tempat ini".
Rupika terpaksa membantu Gayatri. Sepanjang mereka memasak Gayatri hanya diam sambil sesekali menyeka keringat dan mengibaskan asap.
"Bersiaplah tuan puteri, pesta penyambutan akan dimulai" ujar Rupika saat semua makanan telah diantar ke Odissa.
Gayatri menurut. Dia kembali ke kamarnya. Mandi sambil merenungi nasibnya. Dia memakai baju berwarna biru gelap. Rambutnya dipintal, Gayatri menolak mengenakan aksesoris yang dipilih kedua pelayannya.
"Tuan puteri ini terlalu sederhana. Anda harus tunjukan bahwa anda adalah nyonya di rumah ini" ujar Gunjana gemas melihat dandanan Gayatri yang menurutnya jauh dari kata mewah.
Gayatri menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Gunjana, sejak kemarin aku lihat kau tidak meninggalkan bangsal wanita. Bukankah kau harus melayani Siddarth dan Jhanvi?" ujar Gayatri.
__ADS_1
Gunjana terdiam. Pertanyaan itu menyiratkan bahwa Gayatri tahu kalau Gunjana adalah orang kepercayaan Siddarth.
"Maaf nyonya, selir tidak berhak mendapatkan pelayan" ujar Gunjana tak berani menatap wajah Gayatri.
"Sejak kedatanganku dan kau dipilih menjadi pelayanku, aku selalu melihat kau cemberut dan bersungut-sungut saat melayaniku"
"Kau harusnya senang, Siddarth menikah dengan wanita Hindustan. Wanita yang mengerti adat dan lahir dari kaum bangsawan Hindustan" ujar Gayatri.
"Aku tidak akan melarangmu jika kau mengabdi pada Jhanvi. Kapanpun ingin berhenti katakan padaku. Jangan memaksakan dirimu bekerjasama dengan orang yang tidak kau sukai. Itu hanya memupuk amarah dalam hatimu" ujar Gayatri tenang.
"Maafkan saya nyonya, saya pantas dihukum" Gunjana bersujud di hadapan Gayatri.
"Bangunlah, aku katakan ini bukan untuk meminta permohonan maafmu, atau untuk menghukummu. Aku masih tidak percaya kau menghiburku" ujar Gayatri.
Mereka bertiga berjalan memasuki Odissa. Jhanvi dikelilingi para penari dan Siddarth sedang berbincang dengan para menteri yang hadir dalam ruangan itu.
"Tuan putri duduklah" sambut Jhanvi saat melihat kehadiran Gayatri.
Mereka berdua duduk diantara tamu yang sibuk makan dan bersenda gurau.
"Tuan putri aku berterima kasih. Makanannya sangat enak" ujar Jhanvi memuji masakan Gayatri.
Gayatri mengangguk kaku. Wajahnya sangat dingin. Terasa sekali bahwa dia membuat jarak dengan Jhanvi.
"Kami bertemu di …"
__ADS_1
Gayatri mengangkat salah satu tangannya.
"Aku telah mendengarnya dari Siddarth. Aku meminta pada Siddarth agar dia berlaku adil. Sejujurnya, bukan aku yang mendekati Siddarth melainkan keluarga Siddarth lah yang meminta kami untuk menikah dan Siddarth menyetujui itu" sindir Gayatri.
"Aku tidak ingin menjadi munafik. Kami punya perasaan yang sama, kebiasaan yang sama, dan hobi yang sama. Kami cocok dalam banyak hal" ujar Jhanvi ceria.
Gayatri menelan ludahnya susah payah. Ada sesuatu yang perih dalam dadanya, entah apa itu.
"Aku ingin bertemu Siddarth di kamar Laksmi. Tolong bicara padanya untuk menemuiku" ujar Gayatri.
"Laksmi?" tanya Jhanvi kebingungan namun dia tetap membisikan pesan itu pada Siddarth.
"Jika kau pikir menyebut nama Laksmi akan menghancurkan perasaanku, selamat! kau tidak berhasil melakukannya" ujar Siddarth pada Gayatri di kamar Laksmi.
"Beri dia seorang pelayan" ujar Gayatri mengabaikan raut marah Siddarth.
"Jhanvi tidak butuh pelayan. Semua penari di Odissa bersedia melayaninya sepenuh hati. Lagi pula kami akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar istana"
"Kalau dia butuh seorang pelayan. Salah satu dari pelayanku akan melayaninya"
"Tidak! tidak perlu. Jhanvi bisa mengurus dirinya sendiri" ujar Siddarth cepat.
Gayatri mengakhiri percakapan itu. Dia menemui Jhanvi dan mengucapkan salam perpisahan karena dia dan pelayannya akan kembali ke bangsal wanita.
...----------------...
__ADS_1