
Gayatri membuka sedikit tirai, menengok ke luar. Mereka akan memasuki Dwipajaya. Gayatri menarik saree agar membungkus badannya semakin erat. Saksenya di sampingnya diam saja menyaksikan Gayatri memandang sekitarnya. Pelankan langkah kudanya, perinta Gayatri pada juru mudi di depannya. Juru mudi memelankan laju kuda, Gayatri memerintahkan mereka melewati jalan lain agar lebih dekat ke jiwang.
Meskipun suasana di luar diselimuti mendung dan kabut, Gayatri masih bisa menyaksikan kondisi sepanjang jiwang yang menyedihkan. Tiga jaya benar-benar kehilangan kewibawaan karena ulah Bansheer.
Jiwang tak terurus. Gayatri menduga panen terakhir dilaksanakan terburu-buru. Gayatri meminta agar mereka berhenti sebentar. Dia turun lalu menuju bedeng itu dan meraba gundukan tanah yang sedikit basah. Teringat olehnya raja-raja tiga jaya yang mengajarkannya tentang hidup bersama alam. Meskipun ketiganya tak pernah akrab, namun mereka welas asih terhadap rakyatnya. Gayatri teramat sedih saat mendengar mereka harus saling membunuh di akhir hayatnya.
Semoga jiwa mereka menuju moksa doa Gayatri di tanah itu.
Gayatri nampak termenung sepanjang perjalanan, melihat perjuangannya pulang ke tanah pertiwi membuatnya tak bisa memilih mundur. Hatinya dan batinnya mulai ragu. Beberapa saat kemudian sakit kepala menyerangnya, Gayatri menduga perubahan cuaca lah yang membuat kondisinya buruk.
“Carikan aku tempat penginapan, aku ingin beristirahat sebentar,” pinta Gayatri.
__ADS_1
Saksenya mengernyitkan dahinya. Permintaan apa ini, jelas-jelas mereka di tengah belantara. Mustahil menemukan penginapan sementara sebagian desa dikabarkan telah kosong.
Saksenya membuat keputusan tanpa bicara pada Gayatri. wanita itu sedang memijat kepalanya pelan. Mereka datang ke salah satu rumah warga yang nampaknya belum lama ditinggalkan. Prajurit yang datang bersama mereka sebagian berjaga sebagian lagi ikut bersama Saksenya mencari makan. Sedangkan Gayatri dibiarkan berbaring di antara tumpukan jerami yang ada di dekat dapur bersama pelayan wanita yang ikut bersama mereka.
“Mana yang lain?” tanya Gayatri sambil menyibak jerami yang menutupi wajahnya.
Anjali, pelayan yang ikut bersama mereka segera mendekat ke arah Gayatri membantu Gayatri bersandar.
“Prajurit sedang berjaga di sekeliling tempat ini, tuan dan sisanya menuju hutan mencari apa saja yang bisa dimakan,” bisik Anjali.
“Ampun Ratu, demi keselamatan kita sampai yang mulia pulang tidak diizinkan menyalakan api atau melakukan aktivitas. Kita hanya bisa berdiam dan bersembunyi, jika kita terpaksa pergi dari sini kita harus meninggalkan tanda,” jelas Anjali.
__ADS_1
Sebelum Gayatri bertanya, Anjali kembali melanjutkan penjelasannya.
“Prajurit yang berjaga di luar, berada di antara semak belukar agar tidak terlihat mencolok. Mereka mengintai rumah ini dari jarak yang cukup aman. Jumlah kita sedikit. Kami bukan hanya bertanggungjawab pada anda tetapi juga pada diri kami sendiri,” bisik Anjali, matanya bergerak mengawasi sisi ruangan. Telinganya fokus mendengar suara yang ada di luar.
“Lalu bagaimana kau mengenali raja dan rombongannya?” tanya Gayatri balas berbisik
“Kami punya tanda khusus,” jawab Anjali singkat.
Gayatri mengamati Anjali. Dia tak menyangka Saksenya menempatkan orang-orang hebat di sekelilingnya.
“Apa kau seorang bangswan?” tanya Gayatri
__ADS_1
Anjali diam sejenak, dia bergeser menjauh dari Gayatri. Awalnya Gayatri merasa pelayannya ini tidak sopan pada ratu, tetapi akhirnya di sadar pelayan pun punya hak tidak membicarakan masalah pribadinya. Gayatri kembali mengamati Anjali, gadis itu usianya mungkin lebih tua dua tahun di atasnya, memiliki mata coklat yang cantik. Rambut hitamnya dipotong hingga sebahu, kulitnya nampak kecoklatan lengannya tampak berisi. Gayatri dapat melihat urat yang menonjol di antara pergelangan tangannya.
Dia pasti wanita hebat, batin Gayatri tenang