Dvesa

Dvesa
Keputusan Sri Narendra


__ADS_3

Siang itu perpustakaan kerajaan Astapura tampak sepi. Siddarth berada di ruangan itu mencari literatur tentang sistem pengairan yang pernah di bacanya. Tadi pagi utusan Bansheer datang membawa surat sekaligus


menceritakan kondisi lahan bernama Jiwang itu.


“Ayah biarkan aku menyusul Bansheer” ujar Siddarth pagi itu di hadapan ayahnya yang telah mendengar surat Bansheer dibacakan oleh utusan itu.


“Tidak. Ayah telah menyiapkan pengganti yang cocok untuk mendampingi Bansheer” ujar Raja Sri Narendra.


“Salam Raja” Sebuah suara sontak membuat Siddarth memalingkan wajahnya.


Saksenya Raja kerajaan Suballa muncul dengan senyum konyolnya.


Siddarth menyambut Saksenya dengan tatapan sinis sedangkan Saksesnya mengabaikan wajah kesal Siddarth.


“Raja Saksenya akan membantu kita mengontrol para pekerje di Dwipajaya” ujar Raja Sri Narendra tersenyum pada Saksenya.


“Percayakan tugas itu pada saya Baginda, saya tidak akan mengecewakan anda” ujar Saksenya penuh percaya diri.


Siddarth tidak habis pikir dengan keputusan ayahnya. Dia bermaksud membujuk ayahnya untuk menggantikan

__ADS_1


Saksenya dengan Raja lain yang menurutnya lebih baik.


Raja Sri Narendra meminta Siddarth mengusulkan nama-nama Raja tersebut untuk dipertimbangkan. Nama-nama yang Siddarth ajukan di tolak oleh Raja karena kemapuan mereka tidak ada yang setara dengan Raja Saksenya.


Raja Saksenya tersenyum puas mendengar keputusan akhir Raja Sri Narendra.


Siddarth menerima keputusan itu dengan berat hati. Selepas sidang itu, Siddarth segera menuju perpustakaan.


Siddarth membolak-balikan literatur tua yang tengah menumpuk di hadapannya. Dia belum menemukan sistem pengairan yang cocok untuk diterapkan di Dwipajaya. Siddarth perlu mencari cara cepat yang tidak mengeluarkan banyak biaya. Jika dia mendatangkan para cendekia tentu akan memakan waktu yang lama hanya untuk melakukan penelitian dan uji coba pengairan di sana.


Setelah yakin tidak ada cara yang tepat, Siddarth menghentikan kegiatannya membaca literatur.


Gayatri agar ayahnya atau sudaranya menyediakan tenaga dan bantuan lainnya agar pekerjaan menanam segera di laksanakan batin Siddarth.


Siddarth menuju bangsal wanita namun tidak menemukan Gayatri di kamarnya.


“Kemana Gayatri?” tanya Siddath pada Sanjana yang kebetulan lewat.


“Raja Saksenya bersama Puteri Gayatri sedang mengelilingi istana” ujar Sanjana

__ADS_1


Siddarth mengelilingi istana kesana-kemari mencari Gayatri. Siddarth mendengar suara Gayatri di kolam istana yang berada persis di timur taman istana.


“Sebagai Raja yang beretika anda harusnya tahu, jika menemui istri orang lain maka anda harus meminta izin suaminya” ujar Siddarth dingin.


Gayatri memandang Siddarth heran. Raja Saksenya sedang berkunjung, dirinya tidak menemukan Siddarth di manapun, maka Gayatri menawarkan diri menemani Saksenya mengobrol dan mengellingi istana. Lagi pula seluruh daratan Hindustan tahu, Gayatri adalah istrinya tidak ada yang akan berani menyentuhnya.


“Raja....” belum sempat gayatri menyelesaikan kalimatnya Siddarth mengangkat tangannya bertanda agar Gayatri berhenti bersuara.


“Aku tidak bicara padamu” ujar Siddarth pada Gayatri namun pandangannya tetap terarah kepada Saksenya.


“Tidak masalah tuan puteri, ini hanya perdebatan kecil tentang siapa yang akan menuju Dwipajaya. Tampaknya Pengeran Siddarth belum menerima keputusan Raja” ujar Saksenya menekan kalimat terakhirnya.


Gayatri semakin binggung. Kenapa baru sekarang Siddarth ingin ke Dwipajaya. Bukankah di awal pria itu beralasan situasi politik sedang tidak stabil?


Saksenya membaca raut terkejut Gayatri dan raut marah Siddarth bertanda apa yang dia katakan barusan, mungkin saja rahasia yang Siddarth simpan sendiri.


“Maafkan aku, sepertinya mulutku ini terlanjur berbicara tanpa berpikir” ujar Saksenya pura-pura terkejut.


Saksenya segera pamit sebelum bom di hadapannya meledak. Rencananya memicu pertengkaran Siddarth dengan Gayatri sukses dilakukannya. Sekarang tinggal menunggu waktu Keberangkatannya ke Dwipajaya, tidak ada yang akan menghalanginya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2