Dvesa

Dvesa
Berikan Upah Kami!


__ADS_3

Saksenya berdiri di hadapan para pekerja. Dia menyampaikan bahwa tidak pernah ada pembicaraan tentang upah pekerja sebanyak satu kantong emas.


Pekerja menjelaskan bahwa Bansheer menjanjikan mereka upah tersebut jika mereka berhasil.


Sekarang Jiwang telah mendapatkan hasil pertama dan mereka sudah mengolah semua lahan. Tinggal menunggu panen kedua berlangsung.


"Jika kalian ingin protes maka tujukanlah hal itu kepada Bansheer. Aku hanya bisa membantu meneruskan pesan kalian ke Astapura" tolak Saksenya saat salah satu dari mereka memaksa agar upahnya di bayar saat itu juga.


Berita ini Saksenya teruskan ke Raja Sri Narendra.


"bugh!!"


Sebuah tinju mendarat di perut Bansheer.


Siddarth tampak murka mendengar berita tersebut.


Bansheer menahan sakit sambil memegang perutnya.


"Bodoh! sekarang siapa yang akan membayar upah orang-orang itu?"


Tanya Siddarth melototi Bansheer yang balas menatap Siddarth sambil mengeraskan rahangnya.


Saksenya sialan! Idiot itu mengadukan hal tersebut pada Raja. Harusnya dia diam saja dan membunuh salah satu diantara orang-orang tak berguna itu!


Batin Bansheer.

__ADS_1


"Kau mengacaukan rencana yang telah kita susun untuk menghancurkan kerjaaan ketiga! sekarang raja sedang marah! sebaiknya kau tinggalkan tempat ini dan selesaikan masalahmu di Hindustan. Tidak peduli apa yanga kau lakukan di sana jangan sampai Astapura mengalami kerugian yang lebih besar!"


Bansheer pamit dari hadapannya. Dia membawa Piyush dan tiga prajurit Piyush berlayar menuju Jiwang.


Sementara itu Saksenya meninggalkan Jiwang sementara, dia meminta para pekerja menunggu keputusan Raja dan meminta pekerja terus melakukan tugasnya.


"Sebaiknya kalian selesaikan ini sebelum Siddarth sendiri yang memenggal kepala kalian" ujar Saksenya .


Begitu mendengar nama Siddarth, tidak ada lagi yang mengajukan protes. Mereka bagai hamba yang setia menjalankan tugas untuk manjikanya.


"Jaga mereka jangan sampai ada yang lolos" ujar Saksenya pada kepala prajurit.


Saksenya memacu kudanya menuju Dwipajaya dia memilih beristiraht sebentar sambil mengunjungi Raja Daneswara yang mulai akrab dengannya.


"Ke mana perginya Raja Suballa?" ujar Laksmi pada dirinya sendiri.


Dia mondar-mandir sebentar, lalu turun dari kudanya.


"Hmphh!" sebuah tangan membekap mulutnya dari belakang.


"Apa Siddarth menjadikanmu tumbal atas omong kosong Bansheer?" tanya Saksenya.


Laksmi menarik-narik tangan Saksenya minta di lepas.


"Atau kau kabur dari Siddarth!" hardik Saksenya lagi.

__ADS_1


Laksmi berhasil melepaskan tangan Saksenya saat pria itu mengendurkan bekapannya.


"Tolong jangan beri tahu Siddarth keberadaanku" pinta Laksmi.


Dia tidak punya pilihan, selain memohon pada Raja Suballa.


Laksmi menceritakan perjalanannya dan keinginanya bertemu Raja Dwipajaya.


"Kau pikir aku percaya kata-katamu. Katakan padaku berita yang akan kau sampaikan pada Raja Daneswara"


Laksmi memohon agar Saksenya mengerti posisinya. Rahasia ini harus dia sampaikan pada Raja atas perintah puterinya Gayatri.


Wajah Saksenya berbinar-binar mendengar nama Gayatri di sebut. Sosok Gayatri yang anggun menari di pikirannya.


"Baiklah ikuti aku. Aku akan membawamu pada Raja" ujar Saksenya memastikan Laksmi mengikuti arahannya.


Mereka berjalan pelan. Sesekali Saksenya menatap Laksmi.


*Gayatri sedang membangun pasukannya sendiri. Terbukti dengan kepatuhan yang ditunjukan Laksmi. Menyebrang dalam keadaan hamil? wanita benar-benar mahluk yang susah ditebak. Saat mereka menginginkan sesuatu maka tidak ada satu iblis pun yang berani menghadang mereka.


Saksenya penasaran siapa lagi yang memihak pada Gayatri selain pelayan dan wanita di Odissa.


Berhati-hatilah Siddarth suatu saat kau akan tunduk pada perintah Gayatri*.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2