
"gggrrrr," auman suara asing membahana sepanjang tanah Dwipajaya. Lembah wilisgiri dihantam badai sedangkan di Lima Daksa tanaman berduri mulai tumbuh di sepanjang perbatasan.
"Tuan, kita harus bergerak," ujar Piyush khawatir.
"Tenang! siapkan pasukan," perintah Bansheer.
Piyush sedikit kebingungan, pasukan sudah banyak yang dibunuh raksasa merah. Sedangkan sisanya melarikan diri. Ankush dan dirinya sudah berusaha menghalangi prajurit yang melarikan diri namun kekuatan mereka terbatas.
Piyush meminta Bansheer meninggalkan Dwipajaya sementara waktu. Namun lelaki itu menolak keras. Baginya jabatan dan kekuatan adalah segalanya. Jika raksasa merah mati di tangannya maka seluruh Nusantara akan tunduk padanya.
Piyush cukup ketakutan. Dia tahu Bansheer gila kekuasaan tapi tak menyangka lelaki picik itu tak peduli pada nyawanya. Nurani Piyush sedikit terguncang. Jika Bansheer tak peduli pada nyawanya sendiri bagaimana dengan nyawa bawahannya?
Piyush meragukan loyalitasnya. Dia mengikuti laki-laki itu dan menyimpang dari Astapura, penilaian sinis tentang Siddhart tak pernah terbukti. Meskipun kejam, Siddarth tak membunuh orang tanpa alasan. Perang batin Piyush membuatnya gelisah antara mengabdi dan melarikan diri seperti pengecut. Jauh dalam nuraninya dia merasa tak perlu menyingkirkan raksasa merah, raksasa itu adalah leluhur penjaga Dwipajaya. Pusat keseimbangan alam di bumi Nusantara.
"Tuan hentikan sementara rencana anda. Raksasa itu bisa menghancurkan 7 generasi. Pikirkan dirimu juga," cegah Piyush.
__ADS_1
"Kau memerintahku??" tanya Bansheer dengan nada tinggi. Matanya melotot marah.
Ankush yang ada di dekat Piyush mencegah lelaki itu berbuat lebih jauh. "Biarkan dia bicara," bisik Ankush.
Sesuai perintah Bansheer, kedua orang itu pergi menyusun prajurit. Sedangkan Piyush menempatkan dirinya di garda terdepan, kali ini Piyush merasa dirinya pantas mati.
"Hentikan omong kosong ini dan cepat menyingkir," Ankush menarik kerah baju Piyush, menyeretnya menjauh dari garda depan.
Lelaki itu hanya mengikuti kemana Ankush menarik kerah bajunya, menuntunnya menjauh dari kumpulan prajurit yang berpura-pura tegar menghadapi kemarahan Wilis.
Mata Gayatri berkilat marah. Perasaannya berkecamuk, dalam hati dia berdoa pada Dewa agar mengampuni semua nyawa yang tak bersalah.
Nahkoda memacu kapal mendekati dermaga. Saksenya khawatir Gayatri terlalu memaksakan diri. Wanita itu tak menyentuh makananya sejak siang, dia sibuk menulis dan menyusun sesuatu yang entah apa.
"Makanlah," Saksenya menyodorkan nampan berisi makanan yang dipanaskan ulang.
__ADS_1
"Tidak, sebentar lagi kita sampai," Gayatri keras kepala.
"Kalau kau tak makan. Kita tidak akan menepi," Saksenya memelankan suaranya.
"Aku tidak ingin bertengkar. Kalau kau tak niat membantu, ambil kapalmu dan pulanglah. Aku bahkan bisa berenang menuju dermaga," hardik Gayatri.
Saksenya diam, menatap Gayatri sejenak lalu menyingkir ke sisi lain kapal. Dia menatap lautan lepas yang telah mereka layari, setitik rasa rindu pada Subala muncul. Saksenya tak tahu apa yang harus dia lakukan. Gayatri tak mungkin dihentikan.
Kapal perlahan menepi. Angin laut yang menerpa tubuhnya cukup membuat Gayatri menggigil. Saksenya mengeluarkan rajutan terbaik miliknya untuk menyelimuti Gayatri namun wanita itu menghindar, lalu berjalan menuju kereta kuda yang disewa mata-mata Subala.
Sepanjang perjalanan Gayatri sibuk memikirkan cara menghentikan Wilis dan mencari harta tersembunyi Dwipajaya. Saksenya memejamkan mata, menahan hasratnya untuk ikut campur kegiatan Gayatri.
Hentakan kaki kuda berlari menapaki jalan yang mereka lewati, sepanjang jalan terasa mencekam. Hawa kematian terasa namun Gayatri tetap pada tekadnya menyingkirkan Bansheer.
...----------------...
__ADS_1