Dvesa

Dvesa
Biar Aku Saja


__ADS_3

"Apa rencana anda selanjutnya?" tanya Jhanvi.


Siddarth mengangkat sebelah alisnya. Wajahnya seolah menunjukan apa urusanmu.


"Jangan salah paham. Aku akan membantumu melakukan negoisasi ke pada Raja Gopal di Indrajaya" ujar Jhanvi sembari menceritakan bahwa Raja Gopal lumayan dekat dengan keluarganya. Jika Jhanvi melakukan nego maka dia yakin akan dipertimbangkan oleh Gopal.


"Kenapa Astapura yang harus datang ke Indrajaya" ujar Siddarth tidak terima.


"Apa yang terjadi dengan laki-laki di bumi ini? gengsi tidak akan membawamu memenangkan perang. Ingat tujuan utamamu adalah menguasai Hindustan. Aku yakin Indrajaya juga tidak akan membuang biaya untuk dua kali perang dan Astapura tidak akan kehilangan prajurit". Jhavi berbicara panjang lebar.


Siddarth memperhatikan Jhanvi. Semua yang Jhanvi katakan terasa masuk akal baginya.


"Bagaimana, apa kau setuju? biar aku yang melakukannya untuk Astapura" ujar Jhanvi lagi.


"Baiklah aku setuju dengan usulmu"


"Percayakan saja padaku" ujar Jhanvi senang.


...****************...


Bansheer mengeram marah saat membaca surat yanh dikirimkan prajurit yang dia sewa untuk melaporkan semua pergerakan dan rencana Siddarth.


APA DIA SUDAH GILA!!


Umpat Bansheer. Siddarth bekerjasama dengan putri raja Madhyaprasta tanpa perjanjian, kompensasi, dan sanksi? apa yang dia pikirkan. Kejayaan Astapura sudah di depan mana, hanya karena rayuan seorang wanita Siddarth menjadi lemah? tidak! ini tidak boleh terjadi.


Bansheer bersama antek-anteknya menuju Jiwang. Saksenya memberi kabar dirinya sedang berada di Dwipajaya, silahkan Bansheer selesaikan masalahnya.


Bansheer muncul di hadapan para pekerja. Mereka menghentikan akrifitas mereka dan mulai komplain pada Bansheer.

__ADS_1


Bansheer memberi isyarat agar Piyush melakukan tugasnya.


Piyush mengeluarkan cambuknya dan mulai mencambuki kerumunan orang tersebut.


"Kalian harusnya sadar diri! Beruntung kalian bisa makan dan tidur gratis, sekarang malah meminta upah!"


"Pekerjaan kalian belum menghasilkan apa-apa. Upah kalian sudah digunakan untuk membayar pajak, membayar kebutuhan kalian selama perjalanan, dan membayar tanah ini!" teriak Bansheer marah.


"Tapi tuan...."


"singgg"


Bansheer menebas kepala pekerja yang berani menyelanya saat berbicara.


Darah pekerja itu terpercik ke mana-mana. Kepalanga terpisah dari kepalanya. Pekerja yang lain mundur, membiarkan tubuh tanpa kepala itu jatuh tanpa ada yang menolong.


"Kalau ada yang berani menentang Astapura, dan berani melarikan diri, aku bersumpah akan menghabisi anak istri dan keluarga kalian" ujar Bansheer murka.


Semua pekerka diam membisu. Mereka digiring kembali berkerja tanpa banyak bicara.


"Bereskan mayat ini"


"Kirim orang untuk mengecek kebenaran berita Hagai Khan"


Piyush segera melaksanakan perintah Bansheer.


Bansheer memrintahkan salah satu prajurit dari Nepal untuk memperkenalkan pekerja dari Nepal sambil berkeliling melihat hasil kerja Saksenya.


Saksenya telah melakukan dua kali panen selama perpindahan tugas mereka. Sekarang semua lahan telah penuh ditanami palawija yang telah mereka rencanakan.

__ADS_1


Bansheer melihat kunyit yang telah di panen. Ukurannya lebih besar dibandingkan yang ada di Karmanagar. Jika mereka meningkatkan produksi palawija di tempat ini maka Dwipajaya bisa saja membeli produk mereka.


Dewipajaya boleh saja membebaskan pajak untuk kapal Astapura tapi tidak ada perjanjian akan memberikan sebagian hasil di Jiwang untuk Dwipajaya pikir Bansheer.


Kalau Raja Daneswara menghargai Astapura dan menantuanya harusnya dia berani membayar dengan harga dua kali lipat dari harga pasar. Batin Bansheer memikirkan rencana agar Raja Daneswara mau membeli dengan harga yang lebih mahal.


Bansheer bejalan-jalan sebentar hingga tiba di pinggir hutan Wilisgiri. Dia teringat pesan patih Mahesa tentang raksasa Abang.


Bansheer berjalan memasuki hutan lembah Wilisgiri. Sedangkan di dalam hutan raksasa Abang mencium bau badan yang menyengat dan mendengar langkah kaki yang asing.


Raksasa Abang berjalan menuju asal suara. Dia ingin tahu bedebah mana yang tidak sopan masuk ke wilayah yang dijaganya. Penduduk lokal tidak mungkin memasuki Wilisgiri tanpa seizinnya lagi pula bau badan penduduk lokal sudah di kenalnya.


Hutan ini luar biasa subur tampak dari tanah gambut dan pepohonan hijau yang tampak di hadapannya. Bansheer tidak menemukan dedaunan kering di tanah huta itu. Cuacanya sejuk, cocok untuk membuka lahan baru.


"Sedang apa anda di sini?" tegur Guru Drona pada Bansheer.


"Saya hanyq melihat sebentar" elak Bansheer dengan senyum palsunya.


"Kembalilah ke Jiwang. Tempat ini bukan tempat yang bisa anda kunjungi" ujar Guru Drona sambil memberikan hormat.


"Baiklah" ujar Bansheer bangga pada penghormatan yang dilakukan Guru Drona.


Bansheer segera meninggalkan hutan Wilisgiri. Guru Drona masih berada di sana dalam posisi menunduk.


"Maafkan saya" ujar Guru Drona pada raksasa Abang yang sejak tadi berdiri dk belakang Bansheer bersiap menghabisi lelaki itu jika dia menolak meninggalkan huta Wilisgir.


Raksasa Abang meninggalkan Guru Drona, kembali ke tengah hutan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2