Dvesa

Dvesa
Menanti Purnama


__ADS_3

Hari yang ditunggu Bansheer hampir tiba. Dua hari lagi bulan purnama akan muncul di langit Dwipajaya. Bansheer telah mengumpulkan semua orang sakti dari seluruh negeri. Mereka akan menghancurkan barrier Wilisgiri dan akan menyerang raksasa merah. Sampai hari itu tiba, Bansheer telah mengumpulkan kekuatan penuh untuk menguasai daerah paling subur di Dwipajaya.


"Piyush, pastikan semua tamu spesial kita mendapat makan, penginapan dan hiburan yang cukup" ujar Bansheer smirk licik muncul di wajahnya.


"Sudah ku pastikan tuan. Tamu kita tak akan kekurangan apapun. Prajurit terbaik kita juga sudah siap menghadapi purnama.


Bansheer mencatat semua persiapan yang mereka lakukan. Satu persatu ditelitinya kembali. Sifat tidak mudah percaya nya membuat dia selalu detail melakukan rencananya.


Bansheer yakin rencananya akan berhasil. Dia telah mendapatkan banyak petunjuk tentang wilayah perbatasan Dwipajaya dan Tiga Jaya semua ada dalam genggamannya.


"Tuan tidakkah anda terlalu memaksakan diri? belum pernah sekalipun saya melihat anda menghibur diri" ujar Piyush penasaran. Meskipun dia sudah lama mengikuti Bansheer tapi banyak yang belum diketahuinya tentang tuannya itu.


"Menghibur diri? tidakkah kau lihat semua tulisanku tentang kekuasaan baru Dwipajaya dibawah pimpinan Bansheer?" ujar Bansheer menaruh curiga pada pertanyaan Piyush.


"Bukan itu maksudku, anda tak pernah terlihat bersama wanita" ujar Piyush 


Bansheer tertawa keras. Tawanya menggelegar di ruangan itu. Tak menyangka Piyush akan menanyakan pertanyaan konyol.


"Aku memiliki istri. Kami menikah di Tamil tanpa seorang pun tahu. Saksi nikah kami orang tua angkat Siddarth" ujar Bansheer mengenang pernikahannya.


"Lalu?" tanya Piyush meminta Bansheer menjelaskan lebih rinci.


"Lalu?" Bansheer bertanya balik.


"Mengapa anda tak membawanya ke sini dan melanjutkan keturunan?" 

__ADS_1


"Aku baru saja menjadi raja dan kedudukanku belum stabil. Saat aku stabil nanti aku akan membawanya ke sini" ujar Bansheer yakin.


"Pantas saja aku tak melihat wanita di sekeliling anda bahkan selir pun tidak" ujar Piyush kagum.


"Kalau suatu saat kau bertemu wanita yang tepat, pandanganmu hanya akan tertuju padanya tak peduli seberapa banyak wanita yang merayumu" ujar Bansheer matanya memancarkan kerinduan hal langka yang belum pernah Piyush lihat.


Piyush makin penasaran, wanita seperti apa yang bisa membuat pria licik ini jatuh cinta dan hanya setia padanya.


Sementara itu di Subala, Gayatri meminta izin Saksenya menuju Dwipajaya. Jika rencana Bansheer berhasil maka habislah raksasa merah penjaga Wilisgiri. Gayatri tak mau membayangkan apa yang terjadi.


Saksenya menolak. Dia meminta Gayatri tak terlibat pada masalah ini karena persiapan mereka belum sepenuhnya matang. Gayatri tentu saja tak terima dengan penolakan Saksenya, dengan sadisnya dia mengungkit alasan mereka menikah dan di mana janji Saksenya.


"Kalau kau tak berniat membantuku harusnya kau tak menjebakku dalam pernikahan" ujar Gayatri geram.


"Sampai kapanpun Subala tidak akan bisa menandingi jumlah Dwipajaya. Raksasa Wilisgiri melindungi kami turun temurun. Bagaimana mungkin aku hanya berdiam diri menyaksikan Bansheer membunuh keturunan terakhir penjaga Wilisgiri!" teriak Gayatri.


Saksenya tak mampu meredam kemarahan Gayatri. Dia meninggalkan istana Gayatri. 


Mengapa Gayatri tak memahami kekhawatiranku batin Saksenya. Wajahnya murung memikirkan Gayatri yang keras kepala.


Sonarikha mengusap punggung Saksenya. Putranya balas memeluk ibunya menyembunyikan wajah terlukanya. 


Sepanjang malam Gayatri tak bisa tidur. Sikapnya siang tadi sangat keterlaluan. Besok dia harus meminta maaf pada Saksenya dan menjelaskan maksudnya. Dia tak ingin mereka bertengkar lagi.


Pagi-pagi buta, Gayatri pergi ke dapur istana. Dia memasak makanan kesukaan Saksenya sebagai tanda permintaan maafnya.

__ADS_1


"Permaisuri anda di sini rupanya" seorang pelayan datang menemui Gayatri.


"Raja Saksenya pamit, beliau hanya menyampaikan bahwa dia akan pergi hingga besok pagi" 


"Ke mana?" tanya Gayatri.


"Maafkan saya permaisuri, raja tak memberitahu kemana beliau pergi" 


Ada rasa perih di hati Gayatri. Apa karena mereka bertengkar Saksenya sengaja menghindarinya agar dia tidak berangkat k Dwipajaya? batin Gayatri risau.


Gayatri menggurung diri di kamar. Dia tidak mau diganggu. Hatinya sedih memikirkan nasib Dwipajaya. Jaraknya dengan Subala lebih jauh dibandingkan Astapura. Lagi pula waktunya tinggal besok mustahil baginya mencegah Bansheer.


Ayah Ibu, maafkan aku.


Saksenya kembali ke istana. Dia baru saja melihat daerah penghasil emas yang dilaporkan menterinya. Selama ini mereka menjalankan penjualan dan penabangan secara sembunyi-sembunyi denga menyuap para bandit. Hal itu luput dari perhatian Saksenya. Dia harus melindungi aset berharga kerajaannya dan menumpas bibit penggelapan dana di kerajaannya.


"Ada apa?" tanya Saksenya saat pelayannya datang membawa sapu tangan hitam yang berarti permaisuri tidak ingin dikunjungi.


Gayatri masih marah. Saksenya tidak akan bertemu Gayatri sampai dia sendiri mengirimkan sapu tangan putih. Entahlah siapa yang memulai kebiasaan ini namun Saksenya suka permainan kode seperti ini terlihat lucu dan menggemaskan.


Selama Gayatri menolak bertemu dengannya dia mendapat laporan bahwa permaisurinya yang menyiapkan hidangan, dan menjalankan tugas pemerintahan sesuai posisinya dengan baik.


"Berikan ini pada permaisuriku" ujar Saksenya menyerahkan sekumpul bunga ungu. Bunga itu hanya tumbuh di sabana yang letaknya jauh dari Subala. Arti bunga itu adalah permintaan maaf.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2