
“Rishi aku ingin bertemu Tuan Siddarth. Ini penting” ujar Gunjana menerobos Odissa tanpa mepedulikan Rishi yang siap mengomelinya.
“Tuan Siddarth, saya datang bersama surat yang akan dikirim besok ke Dwipajaya” ujar Gunjana di balik tirai kamar Laksmi.
“Masuklah” perintah Siddarth
Gayatri masuk ke dalam kamar Laksmi. Dia berlutut di depan ranjang Laksmi sambil menunduk dan mengangkat tambung surat itu dengan kedua tangannya.
Siddarth menyingkap tirai ranjang Laksmi dengan hanya mengenakan sehelai kain yang melilit di sebelah bawah perutnya.
Siddarth membuka gulungan surat tersebut.
“Keluarlah!” perintah Siddarth pada Gunjana.
Gunjana pamit dan segera meninggalkan Odissa melalui pintu belakang. Dia kembali ke kediaman para pelayan.
“Gunjana kembali tanpa gulungan nyonya” ujar Rupika melalui cela-cela ventilasi kamar Gayatri.
“Istirahatlah” ujar Gayatri pada Rupika yang langsung meninggalkan Gayatri kembali ke kediaman para pelayan.
Gunjana masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Rupika sedang terlelap.
Gunjana tidur di rajangnya, mengawasi Rupika dalam gelap.
“Terjemahkan ini” perintah Siddarth pada Laksmi.
Laksmi membaca kata perkata dan Siddarth mendengarnya sambil memeriksa gulungan tersebut berjaga-jaga jika ada sesuatu di sana. Setelah memastikan isi surat tersebut
__ADS_1
dan tabung surat tersebut secara saksama Siddarth menyimpan surat tersebut.
Kokok ayam pertama mebangunkan Gunjana. Dia telah siap di depan kamar Laksmi. Gunjana menerima kembali isi gulungan tersebut dan membawanya ke kandang kuda istana.
Gunjana membisikan sesuatu pada pria yang telah menunggunya di kadang kuda. Pria tersebut bergegas memacu kudanya menuju pelabuhan istana.
Seperti biasa Gunjana, Gayatri dan Rupika melantunkan pujian pagi kepada Mahadewa setelah itu mereka bertiga duduk di benteng bangsal wanita dan menyulam ditemani burung-burung.
Gayatri melempar butir-butir gandum memberi makan burung tersebut.
“Suratnya sudah saya kirimkan kepada utusan yang akan ke Dwipajaya” ujar Gunjana senang.
“Baiklah” ujar Gayatri sambil terus menyulam.
“Gunaja baju-bajumu terbakar!” ujar seorang pelayan wanita membawa berita mengejutkan.
Rupika menyerahkan sebongkah kain pada Gayatri.
Ditengah kericuhan kebakaran, Gayatri diam-diam meninggalkan istana wanita dengan seekor kuda menuju pelabuhan.
Sebentar lagi kapalnya akan berangkat batin Gayatri yang telah berganti pakaian dan melepaskan perhiasannya di semak-semak yang agak jauh dari bangsal wanita.
“Berhenti” ujar Gayatri sambil menarik lengan seorang pria.
“Tuan Siddarth memberikan surat yang baru, ada penambahan pada isi surat” ujar Gayatri yang menutup kepala dan bagian hidung dan mulutnya dengan baju yang diberikan Rupika.
“Benarkah?” tanya pria itu tidak percaya.
__ADS_1
“Tentu saja” ujar Gayatri cepat.
“Siapa yang bertanggungjawab atas surat ini?” tanya pria itu lebih lanjut.
“Gunjana” ujar Gayatri mantap.
Gayatri berhasil menukar surat tersebut dan kembali ke istana secepat mungkin.
“Apa yang kau lakukan pada baju-bajuku” ujar Gunjana memarahi tukang sapu yeng sedang membakar sampah istana.
“Maafkan saya nona, saya memunggut semua kain yang telah dibuang dan membakarnya tanpa tahu kain itu adalah baju-baju yang jatuh dari jemuran” ujar tukang sapu itu.
Gunjana melihat saree-sareenya yang telah kotor, berdebu, dan mengeluarkan bau yang
menyengat. Terpaksa dia merelakan baju-baju tersebut dilahap api.
Kebiasaan buruk Gunjana meninggalkan pakaiannya selama berhari-hari di jemuran, dimaanfaatkan oleh Rupika. Rupika melumuri pakaian tersebut dengan debu yang dicampur belerang lalu membiarkannya menumpuk bersama perca-perca tidak terpakai yang siap di bakar.
“Ada apa ini?”
Gayatri muncul di antara kerumunan orang dengan wajah cemas.
Rupika tersenyum lega sedangkan Gayatri menghibur Gunjana dengan memperbolehkannya untuk membeli
beberapa pasang baju di Citraganda tekstil.
...----------------...
__ADS_1