Dvesa

Dvesa
Firasat Paramitha


__ADS_3

"Hutan ini luar biasa" ujar Bansheer membuka daun-daun yang menutupi jalannya menuju lembah Wilisgiri.


"Tuan, sebaiknya kita kembali saja" tahan Piyush. 


Bulu roman Piyush merinding. Dia merasa ada yang memperhatikan mereka sejak mereka melewati perbatasan hutan itu.


"Aku ingin lihat seperti apa wujud raksasa merah. Semua raksasa di dunia ini telah punah dan menjadi sejarah" ujar Bansheer sombong.


"Tuan pelankan suara anda. Hutan ini rasanya semakin gelap" ujar Piyush.


Cahaya matahari tidak dapat menembus rimbunan dedaunan. Udara sejuk terasa di antara jari-jari dan leher mereka. Piyush merapatkan syal yang menutupi lehernya. 


"Di mana monster itu tinggal" umpat Bansheer terus menjelajah ke dalam hutan.


"Tuan, hawa di sini terasa makin berat. Kita sudah masuk terlalu jauh" ujar Piyush menyingkirkan ranting yang menghalangi dirinya dan Bansheer.


"Kita baru berjalan sebentar. Belum seluruh lembah ini kita jelajahi" bisik Bansheer.


Erangan kuda menghentikan langkah mereka. Kedua orang itu berlari kesetanan menuju tempat kuda yang mereka tunggangi di ikat. Bandsheer dan Piyush menerobos ranting-ranting agar segera sampai.

__ADS_1


Bunyi nafas keduanya beradu ketika mereka melihat siapa yang sedang menarik tali kekang kuda.


"Ternyata ada tuannya di sini" ujar Patih Drona melepaskan tali kekang yang ditariknya.


"Tuan, jika anda ingin hidup lebih lama sebaiknya anda mengindahkan peringatan yang telah kami berikan" ujar Patih Drona tenang.


"Kau salah paham kawan. Kami hanya ingin melihat lembah yang sangat indah ini. Tidak bermaksud menyinggungmu" ujar Bansheer.


"Wilayah ini bertuan. Jangan anggap ini lelucon. Jaga diri anda" ujar Patih Drona meninggalkan Bansheer.


"cihh" Bansheer meludah.


Apa dia pikir lelucon tentang raksasa itu akan membuatku takut? sudah kukatakan berulang kali aku Bansheer panglima strategi perang Astapura yang sekarang menguasai tiga Jaya akan memiliki hutan ini


"Piyush, sepertinya aku tahu siapa yang harus kita hancurkan terlebih dahulu" ujar Bansheer.


"Persiapkan seluruh tentara kita, dan jalankan misi kita besok. Aku tidak ingin si tua itu ikut campur terlalu jauh" bisik Bansheer.


Malam itu, Piyush beserta seluruh anak buahnya menyiapkan meriam, bubuk mesiu, jerami kering dan peralatan memanah sesuai perintah Bansheer. Semua tombak dan pedang milik prajurit terbaik mereka lumuri dengan racun katak yang tersisa.

__ADS_1


Piyush memimpin perjalanan menuju Dwipajaya, sedangkan Bansheer berada di Jiwang. 


Sedangkan di Dwipajaya, Mahesa menunggu mata-mata memberikan informasi terbaru. Perasaan Paramitha tidak tenang. Paramitha bolak balik melihat keadaan suaminya yang sedang memeriksa kondisi keuangan Dwipajaya.


"Suamiku, entah kenapa ada perasaan aneh yang membuatku tidak tenang" ujar Paramitha pada Daneswara.


"Adinda, kau terlalu memikirkan percakapan kami hari itu. Semuanya akan baik-baik saja" ujar Daneswara meyakinkan istrinya.


Paramitha menemui Swastika


"Di mana Adhiyaksa dan Atmadewa?" tanya Paramitha.


"Kakak duduklah, ada apa?" tanya Swastika melihat raut panik Paramitha.


"Di mana mereka?" tanya Paramitha tanpa mengindahkan ajakan Swastika.


"Adhiyaksa sedang bersama Patih Mahesa, Atmadewa sedang belajar memanah bersama Patih Drona" ujar Swastika.


Paramitha terkulai lemah. Dia menceritakan perasaan aneh yang dia rasakan antara takut, sedih, marah, semuanya bercampur aduk. Bagi Paramitha ini bukan kekhawatiran biasa semata, ada firasat buruk yang singgah di benaknya.

__ADS_1


"Kumpulkan semua wanita di istana ini sekaran di ruang kesenian" ujar Paramitaha pada pelayan yang ikut bersamanya.


...----------------...


__ADS_2