
Langit mulai mendung, tampak awan hitam memenuhi langit Dwipajaya. Petir bergemuruh di mana-mana, disertai hembusan angin. Gayatri merasakan kulitnya seolah terbakar karena hembusan angin tersebut.
"Apa ini?" batin Gayatri.
Saksenya yang menyadari kegusaran hati Gayatri mensejajarkan langkah kuda mereka berdua.
"Apa di daerah ini hembusan angin memang panas?" tanya Saksenya memecah keheningan.
"Tidak, baru pertama aku merasakan hawa panas ini," jawab Gayatri cepat.
Tak lama kemudian Gayatri melihat burung-burung beterbangan, bahkan langkah hewan-hewan terdengar di hutan itu. Fenomena ini persis seperti yang terjadi saat letusan gunung.
"Tuan berapa lama lagi kita tiba," tanya Anjalj gusar.
Mendengar pertanyaan pelayannya, Gayatri segera memacu kudanya memimpin rombongan tersebut hingga merek tiba di prasasti tua yang tampak berlumur. Gayatri turun dari kudanya diikuti semua anggota rombongan.
__ADS_1
"Ini jalan rahasia menuju inti kerajaan Dwipajaya. Akan aku jelaskan lebih lanjut. Sekarang lepaskan ikatan kuda itu, biarkan mereka membawa pesan pada rombongan kita yang lain," jelas Gayatri.
Sebelum melepaskan kuda-kuda tersebut, Saksenya menuliskan surat singkat dan diselipkan pada pelana kuda kesayangannya. Saksenya bukan hanya ahli berkuda, tetapi mampu menyampaikan pesan pada hewan peliharaannya dan kemampuan inilah yang Gayatri butuhkan.
Rombongan memasuki jalan panjang yang telah dipenuhi lumut. Jelas sekali jalan ini sudah lama tidak digunakan, lumut yang menempel cukup tebal ditambah lagi dengan tanaman Pakis yang tumbuh di mana-mana.
Anjali mengeluarkan biji tanaman jarak dari kantongnya dan ditancapkan di sangkurnya. Biji jarak yang telah kering itu dibakarnya, berguna bukan hanya sebagai penerang jalan tapi juga mengusir serangga-serangga kecil yang beterbangan di sekitar mereka.
"Tanaman ini kami gunakan sebagai ganti pelita. Syaratnya biji jarak harus benar-benar kering. Biji ini mengandung minyak, baunya aneh tetapi tidak berbahaya," jelas Saksenya.
Semakin mereka masuk ke dalam-semakin gelap hingga tibalah mereka di lorong yang terang. Sekali melihat Saksenya langsung tahu ada api abadi yang dihidupkan dengan mantra di sepanjang lorong.
Saksenya mengamati Anjali yang mulai mematikan biji jaraknya. Ujung sangkurnya tampak menghitam karena api dan minyak dari biji jarak tersebut.
"Mantra ini dihidupkan oleh Guru Drona da Patih Mahesa. Ini api abadi, jika ada yang melewati lorong ini api ini akan menyala dan akan padam jika tidak ada yang lewat," jelas Gayatri.
__ADS_1
Saksenya menerka-nerka, ke mana akhir ujung lorong ini. Semakin jauh berjalan, semakin dalam lorong ini berada. Ini jelas bukan menuju ke singgasana, taman, atau pendopo istana seperti lorong rahasia pada umumnya.
Saksenya juga tidak mendengar suara langkah kaki. Kalau memang ruangan ini jalan rahasia dan keadaan di luar akan ada bencana maka setidaknya dirinya mendengar langkah kaki di atas kepalanya. Apa ruangan ini meredam semua suara? pikir Saksenya.
"Tidak mungkin!," teriak Gayatri saat mereka tiba di sebuah pintu besar berukir lambang kerajaan Dwipajaya.
Sisi pitu itu dijaga oleh Dwarapala memegang Gada. Dwarapala dikenal masyarakat Nusantara sebagai penjaga tempat suci.
Gayatri meraba-raba tembok dan pintu itu berulang-ulang berusaha menemukan cara agar pintu dapat dibuka. Saksenya dan lainnya ikut meraba-raba namun tidak menemukan apapun.
"Tampaknya Dwarapala sudah lama tidak mendapat persembahan," kata Saksenya.
Gayatri segera tersadar, sejak tadi dirinya mengabaikan Dwarapala. Sambil memejamkan mata dan berdoa, Gayatri mengiris ujung telunjuknya dan menyentuh kaki dua Dwarapala itu dengan darahnya.
Pintu perlahan terbuka dan debu berhamburan keluar dari pintu tersebut.
__ADS_1
...----------------...