
"Tidak bisakah kita menunda perjalanan sampai besok?" tanya Jhanvi pada Siddarth yang sedang berkemas.
"Tidak bisa. Dalam waktu dekat laporan penjualan di Nusantara akan tiba. Waktunya bagiku untuk memeriksa berkas-berkas itu" ujar Siddarth.
Jhanvi terpaksa menuruti keinginan Siddarth kembali ke istana. Mereka berkemas dan meninggalkan tempat itu sebelum hari beranjak sore.
Siddarth tiba di kerajaan. Dia menyuruh Jhanvi pergi ke Odissa duluan bersama barang bawaan mereka. Siddarth menuju bangsal wanita. Dia tidak menemukan Gayatri di kamar tidurnya.
"Kemana Gayatri?" tanya Siddarth pada salah satu pelayan wanita yang ada di sana.
"Nyonya sedang berada di perpustakaan"
Siddarth menuju perpustakaan. Sesampainya di sana dia melihat Gayatri dan Nandini sedang menulis dalam diam. Keduanya menikmati waktu menulis mereka tanpa ada yang berbicara.
Siddarth memperhatikan Gayatri cukup lama dari tempatnya berdiri. Gayatri memiliki paras yang tidak kalah cantik dari Jhanvi. Pertama kali melihat Jhanvi di lapangannya tempatnya berlatih dia mulai mencari tahu siapa Gayatri. Gayatri cenderung pendiam dan berbicara langsung pada intinya. Dia tidak pandai bergurau. Berbeda dengan Jhanvi. Lagi-lagi tanpa sadar Siddarth membandingkan kedua wanita itu. Bagimana caranya agar dia bisa berlaku adil pada kedua wanita ini? batin Siddarth gelisah.
"Tuan, maaf kami tidak menyadari kedatangan anda" Nandini mengalihkan pandangan Siddarth dari Gayatri, sedangkan Gayatri melihat siapa yang ditegur Nandini.
Mereka beradu pandang sejenak. Gayatri menandai tulisan terakhirnya dan membereskan meja tempatnya menulis.
"Aku baru saja tiba. Kami mundur sementara waktu sampai ada berita terbaru dari Nusantara" ujar Siddarth lalu berjalan mendekat menuju meja tempat mereka menulis.
__ADS_1
"Apa yang kau tulis?" tanya Siddarth pada Gayatri.
"Menyalin skrip yang mulai rapuh" ujar Gayatri.
"Apa hurufmu sebagus itu?" dia berusaha memancing Gayatri seperti dia memancing Jhanvi.
"Tidak. Tapi dapat dibaca"
"Boleh aku melihatnya?"
Gayatri menyerahkan skrip lain yang telah ditulisnya.
"Hurufnya besar kecil, banyak yang miring. Tidak bagus sama sekali. Kau tahu sejak lama Astapura dikenal dengan cendekia dan penyair handal mereka bukan hanya pandai berbicara tetapi juga seni dalam menulis" ujar Siddarth terbahak.
"Kenapa tidak kau undang mereka untuk menulis ulang skrip ini? perpustakaan ini tampak lusuh dan tidak terurus. Nandini menulis skripnya di waktu senggang, dan yang paling menyedihkan adalah tidak ada literatur baru yang dikirim ke tempat ini selama dua tahun terakhir" ujar Gayatri sinis.
Senyum lebar di wajah Siddarth perlahan menghilang. Dia hanya melontarkan lelucon kecil kenapa Gayatri menanggapinya seperti itu.
"Aku ingin mengajakmu mengelilingi istana sesuai janjiku waktu itu. Senja ini sangat cocok untuk menikmati pemandangan indah" ujar Siddarth mengalihkan pembicaraan.
Gayatri perlahan melunak. Dia pamit pada Nandini dan mengikuti langkah Siddarth.
__ADS_1
"Bolehkah aku ikut bersama kalian?" Jhanvi muncul di belakang Gayatri bertanya pada kedua orang itu.
"Tentu saja" sambut Siddarth.
Jhanvi sangat senang. Dia mensejajarkan langkahnya dengan Siddarth menggandeng tangan pria itu. Gayatri melihat dalam diam sambil mengekori kedua orang itu.
"Hey lihat, mereka bertiga sedang berjalan" ujar Rishi pada sekumpulan pelayan yang sedang bercengkrama.
Para pelayan itu berlari menuju lokasi yang dimaksud. Siddarth dan kedua istrinya sedang berada di benteng bagian Timur yang berhadapan langsung dengan perkebunan kelapa dan tanaman palem yang tampak menguning di musim kemarau.
Angin sepoi-sepoi sore itu membawa hawa dingin yang cukup menusuk. Gayatri merapatkan lilitan saree dan menutup sebagian saree pada kepalanya.
"Bukankah itu keterlaluan? bagaimana mungkin putri Jhanvi memonopoli tuan muda" sindir Sanjana pada Rupali.
"Hentikan Sanjana. Apa putri Gayatri pernah bertingkah tidak sopan padamu? sejak awal kau selalu memancing perdebatan diantara para pelayan" hardik Rupali.
Tanpa sempat dicegah Rupali berlari menuju Gayatri. Rishi dan yang lainnya mengikuti Rupali.
"Nyonya cuaca sedang tidak baik. Kembalilah" ujar Rupika. Rishi menyerahkan sareenya pada Gayatri namun Gayatri menolaknya.
Siddarth dan Jhanvi sepakat untuk melanjutkan kegiatan itu di lain waktu. Mereka segera kembali. Jhanvi menatap Gayatri yang dikelilingi para pelayan.
__ADS_1
...----------------...