Dvesa

Dvesa
Bab 125 : Menyingkir dari Istana


__ADS_3

Anjali berjaga di lorong menuju halaman istana, sementara Gayatri sibuk mebolak balikan arsip Dwipajaya mencari literatur raksasa merah. Catatan itu tidak berhasil ditemukannya. Berbekal potongan ingatannya, raksasa itu tidak menyentuh keturunan Raja Dwipajaya, tidak ada informasi lainnya.


“Tuan Putri, kita tidak punya banyak waktu. Prajurit kita terluka parah, raja sedang bertarung melawan Ankush,” ujar Anjali menyadarkan Gayatri.


Gayatri menatap ruangan itu, tidak mungkin baginya mencari diantara rak tersebut mereka akan kehabisan waktu. 


“Pergilah ke lorong istana, bawakan aku obor,” ujar Gayatri.


Anjali dengan sigap menyelnap di lorong, ada satu lorong menuju tempat persembayangan yang obornya tidak padam. Anjali segera membawa obor tersebut kembali ke tempat Gayatri berada.


Gayatri membakar sudut-sudut ruangan itu sembari berdoa pada Dewa Ganesha.


Asap dan bau terbakar menyeruak begitu saja.


Saksenya dan Ankush yang sedang beradu pedang mengalihkan pandangan ketika mendengar langkah kaki mendekat.


Anjali dan gatari muncul, Saksenya membiarkan Ankush terbengong melihat Gayatri muncul. Berarti desas-desus itu bukan omongkosong, Gayatri dan Saksenya pasti telah menikah batin Ankush.

__ADS_1


“Segera tinggalkan tempat ini, kita harus mencari raksasa merah,” pinta Gayatri.


“Kalian datang membuat kekacauan di sini maka tidak akan kulepaskan,” teriak Ankush.


“Kau rupanya setia menjilat kaki Bansheer, akulah pewarisah kerajaan ini Putri Gayatri dari Dwipajaya. Ini adalah tanah leluhurku, beraninya bandit seperti kalian bersikap licik dan membunh semua keluargaku,” balas Gayatri. Matanya melotot marah.


“Hahaha, tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk gelar dan kedudukan. Semuanya dalah sah dalam perang dan cinta. Akulah Bansheer, pemilik kerajaan ini. Raja baru Dwipajaya,” ujar Bansheer muncul dibelakang Ankush.


Belum sempat gayatri membalas perkataan Bansheer, api telah merambat ke tiari yang ada di lorong. Saksenya dan Anjali segera menarik tangan Gayatri meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Ankush dan Bansheer tidak mampu mengejar mereka karena terhalang asap dan bau terbakar yang menusuk hidung.


Gayatri menunjukan jalan  keluar hingga tiba didekat pohon ketapang, ketiganya satu persatu memanjat pohon itu agar bisa melompati tembok Dwipajaya. Kaki Gayatri terkilir saat melompat ke balik tembok, namun mereka tidak punya banyak waktu untuk berhenti. Saksenya segera menggendongnya naik ke punggung kuda. Gayatri mengarahkan mereka menuju ke lembah Wilisgiri.


“Bukankah lebih baik kita menjauh dari area ini dan bersembunyi dahulu,” tanya Saksenya dengan wajah binggung.


“Sudah hampir tiga hari Raksasa Merah terkena racun, kita belum tahu kondisinya. Biar bagaimanapun juga, raksasa itu memiliki hubungan erat dengan keluarga kerajaan. Hanya keluarga kerajaan yang mampu berkomunikasi dengan mereka,” jawab Gayatri.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju lembah, Gayatri mulai khawatri. Lembah itu tidak lagi memiliki hawa sejuk seperti sebelumnya, tanaman-tamannya tampak layu. Mereka masuk semakin dalam. 


Saksenya menghentikan rombongan melihat wajah pucat Gayatri, bekas kaki terkilirnya tampak membengkak dan berwarna kebiruan.


“Istiraharlah dulu,” kata Saksenya.


Mereka menepi mendirikan tenda dan membuat api unggun. Karena rombongannya terbiasa berburu di hutan Hindustan, prajurit Suballa terbiasa mencari tempat berteduh yang tidak dilewati dan tidak diatndai oleh hewan buas. Tanpa menunggu lama mereka telah menemukan sumber air terdekat untuk dimasak.


Anjali sedang menghaluskan kunyit yang entah digalinya dari mana. Gadis itu dengan telaten memanskan tumbukan kunyit itu menggunakan peralatan makan yang mereka bawa. Gayatri diam memperhatikannya.


“Tuan Putri ulurkan kaki anda,” ujarnya.


Kunyit panas itu langsung dibalurkan ke kakinya, Gayatri hampir saja berteriak keras. Namun panas yang menyentuh kulitnya perlahan membuat rasa sakitnya sedikit berkurang.


“Tolong jangan banyak bergerak,” ujarnya menyenderkan tubuh Gayati ke tumpukan baeang yang cukup empuk.


“Dari mana asalmu,” tanya Gayatri sambil memandangi wajah Anjali.

__ADS_1


“Anda tidak mengenal saya?,” tanya Anjali sambil tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2