
Seorang raja duduk di singasana yang berada persis di depan kuil seribu tangga milik kerajaannya.
Raja memiliki perwakan setinggi seratus sembilan pukuh dua senti meter. Kepalanya botak, wajahnya dipenuhi tindik yang terdapat di sepanjang garis alis dan telinganya.
Tubuhnya kekar berotot di penuhi tato bergambar raja iblis dan neraka. Dialah Virbadra Raja kerajaan Asyur. Kerajaan ketiga yang ingin ditaklukan Siddarth.
Virbadra membangun kuil dan memerintahkan semua rakyatnya untuk menyembahnya. Dia mendirikan patung setinggi dua meter di dalam kuil itu dan seribu anak tangga untuk mencapai kuil itu.
Dari atas tahtanya Virbadra mampu melihat seluruh sudut kotanya dan pemandangan terjauh di luar benteng Asyur.
Suara ringkikan kuda dan debu yang berterbangan menandakan bahwa rombongan Siddarth telah mencapai gerbang kerajaan Asyur.
Virbadra kedatangan tamu-tamu tak di undang beberapa waktu lalu yang melaporkan bahwa Siddarth telah menancapkan bendera di dua kerajaan sebelumnya.
Tibalah hari di mana Siddath datang bersama pasukannya mencari kematian di kerajaan Asyur.
Siddarth menerobos gerbang kota Asyur. Dia langsunh dikepung oleh tentara Asyur dengan baju perang lengkap.
__ADS_1
Siddarth sudah memprediksi hal ini akan terjadi namun dia yakin rencana yang telah mereka persiapkan akan berjalan lancar.
Tentara Asyur maju dan menghujamkan pedang dan tombaknya ke arah Siddarth dan pasukannya.
Berbekal bela diri, kemampuan pedang dan racun di semua senjatanya Siddarth balik menyerang tentara Asyur dengan percaya diri.
Siddarth turun dari kudanya dan mulai menunjukan kemampuan pedangnya.
Satu persatu tentara Asyur yang terkena sabetan pedangya jatuh.
Mereka meringis kesakitan karena luka yang dihasilkan oleh goresan pedang Siddarth teramat sangat perih dan mulai menimbulkan lepuhan putih di sekitar luka.
Siddarth terus mengayunkan pedangnya berusaha menyentuh bagian tubuh terdekat dari lawanya agar goresannya mengenai kulit mereka.
Strategi Siddarth cukul menghemat tenaganya karena dia yakin Virbadra menunggunya untuk duel satu lawan satu.
Kurang dari dua jam setengah tentara Asyur telah jatuh bergelimpangan di hadapannya.
__ADS_1
"syuut" sebuah panah melesat hampir mengenai dadanya. Siddarth refleks menebas panah tersebut hingga patah.
Siddarth menganggukan kepalanya kepada dua prajuritnya yang diam-diam telah berganti pakaian dengan tentara Asyur yang telah meninggal dalam pertarungan tadi.
Kedua tentara itu memanjat bubungan dan bagunan lain yang tidak lebih tinggi dari tempat tentara memanah Asyur berada.
Mereka mengeluarkan sebuah sumpit tiup yang terbuat dari bambu. Sumpit itu sudah di bentuk sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bunyi saat ditiup.
Dua prajurit itu mengeluarkan anak sumpit beracun dan mulai meniupnya. Sasarannya pertama mereka ada pemandu tentara pemanah dan kepala tentara pemanah.
Mereka memperhitungkan jarak antara peniup sumpit dan target. Terlalu jauh, anak panah ini akan mubazir jika tidak mengenai target. Mereka mendekat lalu secepat kilat meniupkan anak sumpit tersebut.
Dua target mereka berhasil rubuh karena racun yang langsung menancap di tenggorokannya.
Tentara memanah yang kebingungan mulai memanah membabi buta. Siddarth dan yang lainnya mencari tempat persembunyian diantara hujan panah. Sedangkan dua orang tersebut kembali melancarkan aksinya.
Satu persatu tentara memanah berguguran. Kedua prajurit itu kehabisan anak sumpit. Mereka memanjat benteng tempat kelompok memanah yang tersisa berada.
__ADS_1
Baju perang yang kedua prajurit Siddarth kenakan disangka pasukan yang datang membantu oleh tentara Asyur maka tidak ada yang curiga saat kedua mengambil pedang dan memengal kepala pemanah satu persatu
...----------------...