
Sinar mentari pagi menyeruak masuk melalui ventilasi ruangan itu. Siddarth dan Jhanvi menyipitkan mata mereka menghindari cahaya mentari yang masuk begitu saja. Kedua orang itu menyibakkan kelambu, dan turun dari ranjang. Tampak oleh mereka Gayatri membawa nampan berisi dupa, dan persembahan pemujaan, ujung sareenya tampak basah.
“Hari ini hari Surya Puja. Bangun dan duduklah, Gayatri mengibaskan asap dupa kepada dua orang di hadapannya. Siddarth mengambil Sindoor yang ada di dalam nampan itu lalu mengusapkannya pada dahi Gayatri dan Jhanvi.
“Suamiku, aku ingin berbicara denganmu, bisa kau ikut aku sebentar?” tanya Gayatri lembut.
Siddarth mengerutkan keningnya, kebiasaan yang sering dia lakukan di saat dia merasa heran dan waspada. Siddarth pamit pada Jhanvi, Jhanvi enggan melepas Siddarth namun dia sadar saat ini Siddarth sepenuhnya bukan miliknya. Siddarth menatap mata Jhanvi dalam, seraya meyakinkan Jhanvi bahwa semuanya baik-baik saja. Siddarth mengelus pelan pipi Jhanvi dan mengecup keningnya lalu perlahan menghilang dari pandangan Jhanvi.
Gayatri berdiri di ruang latihannya. Ruang kososng di belakang bangsal wanita yang mengarah langsung ke jalan samping istana. Tampak hamparan rumput liar dan tanah berabu.
Siddarth berdiri di samping Gayatri, meminta penjelasan lebih dari istri pertamanya yang tampak diam beberapa detik. Gayatri memutar tubuhnya, kini dia dan Siddarth saling berhadapan. Gayatri menatap wajah Siddarth. Pria itu tampak tenang. Gayatri menarik nafas pelan sebelum mengutarakan maksudnya.
“Apa benar kau mencampurkan ramuan pembunuh benih dalam makananku selama kita menikah?” tanya Gayatri
__ADS_1
“Benar” jawab Siddarth tak mengelak pertanyaan Gayatri
Gayatri tidak lagi merasa sakit seperti saat pertama dia mendengar berita itu dari Gunjana.
“Aku memeriksakan kandunganku pada tabib setelah upacara Surya Puja”
“Lalu?” tanya Siddarth acuh tak acuh.
“Sekalipun makananku bebas dari ramuan, itu tidak akan berguna bagi rahimku karena telah meminum ramuan itu dalam jangka waktu yang lama. Rahimku telah kering dan mati”
“Kesempatanmu dan kesabaranku telah habis, jika benar rahimku kering maka kau tidak akan pernah memperoleh apa yang kau inginkan” ujar Gayatri tanpa sedikit pun berkedip. Dia memandang Siddarth dalam.
“Lakukan saja jika kau pikir itu akan menghalangi aku mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau tinggal dan hidup di tanahku, sedikit saja kau membuat keonaran maka neraka adalah tempatmu” ancam Siddarth.
__ADS_1
Siddarth meninggalkan Gayatri menuju istana.
“Perketat penjagaan di sekitar istana dan ruang tidur Jhanvi, pelayan wajib mencoba semua makanan sebelum diserahkan kepada Jhanvi, Gayatri tidak boleh mendekat ke dapur, ruang linen, Istana maupun Odissa. Siapapun yang berani melanggar perintah ini aku sendiri yang akan memenggal kepalanya.
Jhanvi mulai ketakutan. Dia tidak menyangka Siddarth melakukan itu, penghancur benih. Ramuan itu memiliki efek samping yang kuat. Jhanvi beruntung Gunjana dan Rishi melewatkan hari di mana mereka harus mencampurkan ramuan itu. Dewa memberkati rahimnya dengan tumbuhnya seorang putra.
“Putraku, ibu akan selalu menjaga dan melindungimu. Ibu akan mempertaruhkan hidup demi kamu nak” Jhanvi mengelus perutnya. Dia dapat merasakan tendangan kecil di perutnya.
Ruang gerak Jhanvi semakin terbatas. Dia mudah lelah, kedua kakinya mulai bengkak. Nafasnya kadang tersenggal jika dia banyak beraktifitas. Meski Siddarth mengatakan Gayatri tidak dapat mendekat ke kediamannya, namun Jhanvi tetap khawatir Gayatri akan mencelakakan dirinya.
“Suamiku, tidakkah kau berpikir bahwa Gayatri bisa datang kapan saja? dia telah menarik simpati semua orang di istana ini, mereka bisa membantunya dengan berbagai cara” ujar Jhanvi lemah.
“Bagaimana kalau Gayatri dipindahkan ke luar istana dan dijaga pergerakannya, aku lebih tenang jika seperti itu” pinta Jhanvi.
__ADS_1
Siddarth berpikir sejenak dan menyetujui usul Jhanvi. Malam itu Gayatri dipindahkan secara paksa dari istana menuju pinggiran kota tanpa diketahui oleh rakyat Astapura.