
Siddarth baru kembali dari perjalanan mengantarkan mertuanya keluar gerbang kerajaan. Dia menemukan Gayatri berdiri menatapnya dingin di depan pintu kandang kuda miliknya.
"Aku sedang tidak ingin bertengkar" ujar Siddarth malas.
"Kasih aku kesempatan" ujar Gayatri.
"Kita menghabiskan setahun bersama" balas Siddarth dingin.
"Kau terlalu sibuk, dan hanya berkunjung sesekali" balas Gayatri tak terima.
"Cukup! jangan memulai Gayatri. Aku harus fokus merawat istriku yang sedang hamil. Tanggungjawabku bukan lagi satu, melainkan dua. Jhanvi dan putraku"
Urat-urat di wajah Siddarth nampak jelas. Gayatri memilih diam. Mencerna tiap kata yang Siddarth lontarkan. Kesekian kainya rasa perih menghujam dadanya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Gayatri pada kedua pelayannya setelah dia menumpahkan seluruh rasa sakitnya lewat sorot matanya.
Kaki Gunjana gemetar. Keringat membasahi pelipis dan telapak tangannya. Tidak, dia tidak tahan lagi. Gunjana jatuh bersimpuh di depan kaki Gayatri, memohon ampun sambil menanggis.
Gayatri panik dan mulai bertanya-tanya. Ada apa dengan pelayan pilihan Siddarth itu. Setelah tangisnya mereda. Gunjana perlahan mengatur nafasnya dan mulai bercerita.
Bak petir di siang bolong Gayatri menanggis sejadi-jadinya. Demi Dewa, mengapa kisah hidupnya begitu memilukan.
Siddarth tidak pernah menginginkan pernikahan ini tapi mengapa dia harus setega itu menyuruh Gunjana mencampurkan ramuan pembunuh benih dalam makanan dan minuman Gayatri. Suatu waktu Gunjana lalai melakukan hal yang sama pada Jhanvi, dia lupa namun Siddarth tidak menghukumnya melainkan memberinya hadiah.
Rishi yang diam-diam menguping pembicaraan itu. Dia kembali ke Odissa dengan sebongkah rasa bersalah dan kegundahan hatinya. Rishi berusaha ada di pihak netral namun melihat Gayatri membangunkan sisi lelakinya untuk melindungi istri tuannya.
Rishi sama seperti pelayan lainnya, dia tidak menyangka Gayatri bisa bertahan selama itu. Mulai dari Siddarth yang terus mengunjungi Lakshmi, hingga Jhanvi dipindahkan ke istana Gayatri masih sanggup memberkati kedua wanita itu.
__ADS_1
"Ada apa, apa yang terjadi" tanya Jhanvi ingin tahu. Dia melihat perubahan wajah Rishi.
"Putri Gayatri wanita yang tak banyak bicara. Dia tinggal dalam kamarnya tanpa berbicara apa-apa. Tertidur sejak sore" ujar Rishi berusaha menutupi fakta bahwa Gayatri menanggis sepanjang hari.
Jhanvi kembali melemparkan pandangannya jauh ke bangsal wanita. Bangsal itu sepi, hanya diterangi obor di sepanjang lorong. Kamar Gayatri pun gelap sejak sore. Tidak ada tanda kehidupan di sana. Jhanvi sedikit lega, Gayatri tidak merencanakan sesuatu yang akan mrnghancurkan posisinya sebagai menantu kesayangan baginda.
Malam itu Jhanvi tidur sambil tersenyum, membayangkan dia akan bertemu putera yang dikasihinya bersama Siddarth berada di sampingnya.
"Sttt" Siddarth meminta Rishi tidak bersuara. Dia menuju ranjang Jhanvi. Jhanvi terdiur dengan senyum menghiasi wajah cantiknya. Jhanvi begitu anggun dan kuat di saat bersamaan, rambut cokelat bergelombangnya adalah favorit Siddarth. Siddarth meneliti wajah Jhanvi, tanpa sadar membandingkannya dengan Gayatri.
Kecantikan mereka sebanding namun bagi Siddarth tidak ada ikatan cinta di antata dirinya dan Gayatri. Gayatri terlalu keras kepala, susah diatur, dan mudah terbawa emosi. Jhanvi kebalikannya, mudah diatur, penuh tawa dan semua hal tentang Jhanvi adalah surga bagi Siddarth.
"Aku tidur di sini malam ini. Padamkan lampunya dan tinggalkan kami berdua"
__ADS_1
Rishi menutup pintu, membiarkan dua insan itu terlelap dalam peraduan.
...----------------...