
“Di sini kau rupanya, aku mencarimu ke Odissa” ujar Gayatri melihat Siddarth sedang mengasah pedangnya.
Gayatri masuk ke gudang yang berisi tombak dan perisai perang. Di sana dia menemukan Siddarth hanya mengenakan celana, sedang mengasah pedang dan belati miliknya.
“Ada apa?” tanya Siddarth sambil meraba bagian yang diasahnya dengan ibu jarinya, mengecek seberapa tajam pedang yang diasahnya.
“Surat dari Ayahku sudah tiba. Tanah yang kau minta sedang di persiapkan” ujar Gayatri sambil meneliti tombak dan perisai yang ada di ruangan itu.
“Beritahu aku jika tanahnya sudah siap, aku akan kirimkan bibit. Bibit dari Hindustan adalah yang terunggul dibanding bibit dari negeri lain” ujar Siddarth angkuh.
“Sebelum kau pikirkan bibitmu, sebaiknya kau siapkan para pekerja untuk membantu ayahku membuka lahan dan mengolah lahan di sana” ujar Gayatri tak kalah angkuhnya.
“Apa maksudmu?” tanya Siddarth. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
“Penduduk di kerajaanku punya tugasnya masing-masing. Kirimkan pekerjamu untuk mengerjakan lahan kalian. Ayahku memberi tanah 1000 hektar, butuh setidaknya dua waduk untuk mengairi lahan tersebut” ujar Gayatri sambil memegang sebuah tombak yang mulai berkarat.
“singggg!” Siddarth menahan tombak yang dipegang Gayatri dengan pedang yang telah diasahnya.
“Jelaskan dengan rinci keadaan lahan itu” ujar Siddarth murka.
Gayatri melepas tombak yang dipegangnya. Dia berjalan mengelilingi ruangan itu.
“Lahan yang diberikan ayahku letaknya dua hari perjalanan dari kerajaanku. Lahan itu tandus dan belum terjamah, jauh dari sumber air” Jelas Gayatri.
“Aku tidak menyangka ayahmu semiskin itu, hingga memberikan tanah tandus pada suami anaknya. Bahkan meminta pekerja!” ujar Siddarth memancing kemarahan Gayatri.
“Jangan menghina ayahku!”
Gayatri berbalik mendekat ke arah Siddarth. Dia menantang Siddarth dengan tatapan melototnya. Bola matanya seolah akan keluar dari matanya.
“Aku meminta bagianku sebagai seorang anak. Tanah yang diberikan ayahku adalah tanah yang dihadiahkan oleh Raja, yang dulu berniat menikahkan anaknya denganku” ujar Gayatri bohong.
“Jika ayahmu sekaya itu, kenapa meminta lahan di Dwipajaya?”
__ADS_1
“Kau boleh marah padaku, tetapi tunjukan rasa hormatmu dan rasa terima kasihmu pada ayahku!”
Siddarth diam seribu bahasa. Kata-kata Gayatri memukulnya telak.
“Lihat, siapa yang tidak tahu malu di sini” ujar Gayatri memelankan suaranya.
Gayatri segera meninggalkan tempat itu. Berada satu ruangan dan menghirup udara yang sama dengan Siddarth membuat dadanya sesak.
Jangan menanggis, jangan menaggis!Gayatri melantunkan kata-kata itu dalam
kepalanya, menyadarkan dirinya bahwa dia terikat sumpah agar tidak menanggis
karena Siddarth.
Siddarth memakai baju dan segera menemui ayahnya.
Siddarth menjelaskan kata-kata Gayatri dengan bahasa yang diperhalus agar ayahnya atau orang lain yang mendengar informasi itu, tidak menghina mertuanya.
Raja Sri Narendra memutuskan untuk sementara para pekerja di Karmanagar yang akan dikirim ke Dwipajaya.
Raja Sri Narendra.
Siddarth meminta bantuan Bansheer mengumpulkan para pekerja di Karmanagar dan membawa mereka ke istana malam ini.
Siddarth menuju Odissa dan duduk di ranjang Laksmi.
Wajahnya menampakan ekspresi, seolah sedang menysusun strategi perang. Dahinya berkerut dalam.
Laksmi yang melihat ekspresi itu berusaha menenangkannya dan mengalungkan tangan di leher Siddarth.
Siddarth terlonjak kaget, lalu menghempas Laksmi hingga tubuh Laksmi membentur dinding kamar.
Siddarth meninggalkan
__ADS_1
Laksmi dan menuju bangsal wanita.
Gayatri sedang menyulam dengan wajah murung, ditemani Rupika yang membantunya mengelompokan
benang berdasarkan warna.
“Kau tahu Rupika, di Dwipajaya kami dilarang menggunakan benang dan jarum di malam hari. Semua orang tua takut kejadian buruk akan menimpa kami” ujar Gayatri berbicara tentang mitos di Dwipajaya.
“Tuan puteri sepertinya kejadian buruk akan menghampiri” ujar Rupika yang mendengar langkah kaki menuju bangsal wanita.
Mereka berdua mengintip lewat ventilasi, tampak Siddarth berjalan ke kamarnya.
“Cepat pergi!” ujar Gayatri pada Rupika.
Terlambat.
Siddarth sudah berada di depan pintu kamarnya, berpapasan dengan Rupika yang berpamitan dan berlari meninggalkan ruangan itu.
“Gayatri” panggil Siddarth pada Gayatri yang sedang meniup obor, membiarkan ruangan itu gelap. Dia tidak ingin melihat wajah Siddarth.
“Gayatri” panggil Siddarth lagi. Gayatri naik ke tempat tidur dan tidur menghadap ke arah yang berlawanan, dengan tempat Siddarth berdiri.
“Gayatri!” kesabaran Siddarth habis karena Gayatri tidak menyahutnya.
“Pergilah, jangan membuat keributan di tempat ini!” usir Gayatri.
“Malam ini aku tidur di sini” ujar Siddarth naik ke tempat tidur.
“Jika kau tidur di sini, maka aku akan tidur di kamar Laksmi!” ucapan Gayatri berhasil
menghentikan Siddarth.
Siddarth mengalah dan meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
...----------------...