Dvesa

Dvesa
Jayabaya


__ADS_3

“Salam Raja. Raja Daneswara beserta rombongannya sedang menuju istana” ujar Prajurit jaga memberi laporan pada Raja Jayaswara yang sedang menyantap makan siangnya.


“Ambilkan mahkotaku!” perintah Raja Jayaswara sambil terburu-buru menghabiskan sisa


makanannya.


Tamatlah riwayatku, 1000 keti belum


terkumpul dengan sempurnabatin Raja Jayaswara berusaha tetap tenang.


“Salam saudaraku! Ada apa gerangan engkau datang tanpa memberitahuku terlebih dahulu?” ujar Raja Jayaswara basa-basi.


“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan” ujar Raja Daneswara


“Mari kita bicarakan di dalam” ujar Raja Jayaswara membawa Raja Daneswara, Patih Naraya, Patih Mahesa, dan Guru Drona menuju ruangan khusus pembicaraan rahasia.


“Silahkan duduk tuan-tuan” Jayaswara mengatur tempat duduk yang akan mereka duduki.


Raja Daneswara menceritakan isi surat yang dikirim Gayatri dari Astapura.


Muka Jayaswara sedikit pucat mendengar isi surat yang dituturkan secara rinci oleh Raja Daneswara.

__ADS_1


“Apa yang Raja inginkan?” Tanya Jayaswara pada Raja Daneswara.


“Aku ingin menukar 1000 Keti dengan 1000 hektar tanah Jayabaya” ujar Raja Daneswara.


“Tidak masalah jika tanah itu tidak subur, kami akan berusaha yang terbaik untuk mengolah tanaman tersebut” Patih Naraya menambahkan perkataan Raja.


Jayaswara sangat senang. Hutangnya telah dihapuskan digantikan dengan penyerahan tanah Jayabaya yang baginya tidak ada artinya. Lahannya tandus dan ditumbuhui gulma. Lahan seluas 1000 hektar jika tidak dikerjakan dengan baik akan sia-sia.


Ah biarkan saja. Ini semua adalah kemauan


Raja Daneswara, jika tanamannya tidak berhasil aku bukan orang yang harus


akan mereka terima bila bercocok tanam di lahan tandus batin Raja Jayabaya.


Raja Jayabaya dan Raja Daneswara membuat kesepakatan tertulis yang diabadikan kedua patih dari kerajaan Jayabaya dan Dwipajaya dalam catatan penting kerajaan. Guru Drona


membantu Mpu Wiyasa yang tidak ikut dalam perjalanan mereka menulis dalam kitab yang terbuat dari daun lontar tersebut.


Raja Jayabaya mengantar rombongan tersebut ke tanah yang dimaksud.


“Meskipun tanah ini adalah wilayah Jayabaya, tapi leluhur Jayabaya menamainya Jiwang, karena berharap di tanah ini dapat ditanami biji sesawi. Hari ini Dewa mengutus anda untuk menanam sesawi itu di tanah tandus ini” ujar Jayaswara tersenyum bahagia.

__ADS_1


“Anda terlalu berlebihan Raja Jayaswara. Saya akan mengirim pekerja besok untuk membuka lahan di tempat ini”


Raja Daneswara beserta rombongannya bergerak meninggalkan istana Jayabaya.


“Istriku, hari ini aku terbebas dari hutang pada Raja Daneswara!” ujar Raja Jayaswara memeluk istrinya.


“Aku bisa berjalan dengan kepala tegak tanpa takut diremehkan lagi” Raja Jayaswara bersenandung ria.


...*****...


“Beristirahatlah, tidak perlu menemaniku” ujar Raja Daneswara pada Patih Naraya dan Guru Drona yang berdiri di dalam kemah.


“Baginda, anda harus beristirahat besok pagi kita harus menuju Dwipajaya” ujar Guru Drona memperingati Raja.


“Surat untuk puteriku lebih penting dibanding tidurku. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantunya” Raja Daneswara terus mengoreskan penanya, menulis surat balasan untuk puterinya.


Guru Drona dan Patih Naraya saling berpandangan. Raja Daneswara memiliki tabiat keras kepala dan itu menurun pada puteri keduanya Parvati dan puteri bungsunya Gayatri.


“Dalam suratnya Gayatri memutuskan akan mengabdi pada suaminya apapun yang terjadi. Di masa yang akan datang, jika Astapura berperang melawan Dwipajaya atau kerajaan lain di Nusantara biarkan Gayatri memilih jalan sesuai dengan apa yang ia yakini” ujar Raja Daneswara pada Patih Naraya dan Guru Drona.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2