Dvesa

Dvesa
Membalas Surat


__ADS_3

Raja Gopal berlari ke pelataran istana di mana para prajuritnya bersorak-sorai meneriakan nama puteramya.


“Ayo pangeran!” teriak semua prajurit yang ada di sana.


“Apa yang terjadi tanya Gopal panik pada Yadav orang kepercayaanya.


“Pangeran Govinda sedang berlomba memanah dengan Raja Saksenya” ujar Yadav di antara kerumunan orang yang menyaksikan pertandingan itu.


Pertandingan panahan itu berhakir dengan kekalahan Govinda dari Saksenya.


“Tinggal menunggu waktu, Govinda akan melampauimu” ujar Saksenya berjalan ke arah Gopal yang sekilas melihat puteranya dibopong oleh para prajurit.


 Mereka berdua berjalan menuju kolam istana. Tempat favorit Saksenya di Indrajaya.


“Aku telah bertemu istri Siddarth. Dia tidak seistimewa yang dibicarakan orang-orang.


Selain cantik, dia tidak tahu apapun tentang Siddarth” ujar Saksenya, ada nada


mengejek dalam kalimatnya.


“Sudah ku duga. Istrinya hanya pajangan dan alat diplomasi” ujar Gopal menanggapi nada mengejek Saksenya.

__ADS_1


“Tapi kau harus waspada pada seorang penari wanita di istana. Perempuan itu dilindungi Siddarth lebih dari dia melindungi isterinya” ujar Saksenya menatap Gopal dengan pandangan yang tidak dapat Gopal artikan.


Sementara itu, Raja Daneswara dan rombongannya menuju pelabuhan. Raja Daneswara tidak sabar menyurati


puterinya tentang lahan yang mereka siapkan.


“Kirimkan surat ini untuk Gayatri di istana wanita Astapura” ujar Raja Daneswara bukan pada rakyat Astapura yang ada di pelabuhan melainkan pada urusan khusus Dwipajaya. Raja Daneswara ingin surat itu sampai pada tangan Gayatri tanpa melalui perantara orang-orang di kerajaan Astapura.


Dalam perjalanan kembali ke istana Raja Daneswara meminta rombongannya mengurangi kecepatan berkuda.


Raja Daneswara melihat rakyat-rakyat Dwipajaya yang sedang beraktifitas.


Sepanjang perjalanan Patih Naraya terus bertanya kenapa Raja Daneswara mengizinkanGayatri dipersunting oleh putera Raja Sri Narendra. Perekonomian Dwipajaya tergantung pada hubungan dagang Dwipajaya dan Astapura. Dibandingkan hubungan


menguntungkan.


Letak keuntungannya karena selain murah, barang yang dikirim adalah barang yang


berkualitas. Sedangkan barang dari tiongkok adalah barang dengan kualitas


standar yang dijual dengan harga lebih tinggi. Selain itu perjalanan barang

__ADS_1


dari tiongkok lebih lama karena mereka singgah di banyak pelabuhan.


Sistem yang tiongkok gunakan adalah bermalam di pelabuhan yang mereka singgahi sedangkan Astapura akan menurunkan pedang-pedagang lokal ke pelabuhan yang mereka singgahi tanpa bermalam. Barang yang datang ke Dwipajaya akan tiba pada waktu


yang disepakati.


“Peradaban Hindustan lebih maju, bukan berarti peradaban Nusantara mengalami kemunduran. Astapura menguasai daerah-daerah penting di Hindustan, sedangkan Dwipajaya perang


dingin melawan saudara sendiri”


Perang dingin dengan saudara sendiri yang dimaksud Raja Daneswara adalah kerajaan-kerajaan di Nusantara yang memiliki komoditi utama, menjual dengan harga tinggi ke luar wilayah Nusantara. Jika kerajaan dalam Nusantara ingin membeli komoditi tersebut mereka harus bersaing dengan tawaran harga tinggi dari luar.


Kerajaan Dwipajaya bukanlah kerajaan yang besar. Dwipajaya hanya memiliki dua belas


kepala wilayah dan tidak berniat memperluas kerajaannya. Perluasan kekuasaan di masa itu harus dilakukan dengan berperang atau kudeta. Berperang memakan anggaran yang besar untuk logistik dan atribut perang.


Dwipajaya cukup aman karena Buto Abang masih menjaga wilayah perbatasan. Tidak ada satu kerajaan pun yang berani pada Buto Abang.


Bicara tentang Buto Abang sudah bertahun-tahun rasanya sejak kelahiran putra terakhirnya, Raja Daneswara mengunjungi Buto Abang agar memberi berkat pada putera-puterinya. Raja Daneswara percaya, Buto Abang adalah raksasa peliharaan Dewa yang


ditugaskan untuk menjaga Dwipajaya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2