
“Mengapa ini terjadi padaku Dewa Indra!”
“Jawab aku Dewa!” teriak Gopal kesetanan.
Kekalahan Ankush adalah penghinaan baginya. Sekarang Astapura telah menguatkan hubungan politik dengan menikahkan Siddarth, dan puteri bungsu Raja Daneswara dari Dwipajaya.
Gopal mondar mandir di depan takhtanya memikirkan cara yang tepat untuk menghancurkan Astapura.
“Apa yang kau risaukan kawanku, mari kita bermain Catur” ujar Raja Saksena dari kerajaan Suballa.
“Indrajaya berhasil menguasai lembah obat, dan menutup akses penjualan jahe dan kunyit ke Astapura yang mana merupakan bahan baku pengobatan tradisional. Sekarang Dwipajaya telah menjadi pemasok utama bahan baku tersebut” ujar Gopal duduk di hadapan Saksena.
“Apa yang kau risaukan, suatu saat bahan baku yang dikirim dari Nusantara pasti akan habis. Astapura tidak akan bisa menanam kedua tanaman tersebut di negeri ini, karena aku siap membantumu menebarkan hama pada bibit-bibit baru” ujar Saksena licik sambil menjalankan bidak Caturnya.
“Tapi sampai kapan aku harus menunggu? Astapura sedang membangun angkatan perang di bawah pimpinan Siddarth, pasukanku semakin berkurang. Sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan Indrajaya!” teriak Gopal.
“Tenangkan dirimu saudaraku, orang-orangku akan menjadi mata-mata bagi Indrajaya” ujar Saksena.
__ADS_1
Hati Gopal sedikit tenang mendengar ucapan Saksena. Gopla mulai berpikir keras. Jika dia memberontak terang-terangan seperti beberapa waktu yang lalu, maka kekalahan ada di pihaknya. Dia harus memata-matai apa langkah yang akan di ambil Astapura.
Gopal dan Saksena telah bekerjasama menebarkan hama pada tanaman palawija di perkebunan Astapura. Para cendekia Astapura tidak dapat mengembangkan penemuan obat baru jika kualitas bahan utama obat-obatan sangat buruk.
Gopal menatap Saksena yang lagi-lagi menjalankan bidaknya. Saksena termasuk salah satu lawan yang harus Gopal waspadai, karena Saksena juga bekerja untuk Raja Sri Narendra. Bekerja dengan dua kaki, pepatah yang digunakan pada masa itu apabila ada salah satu pihak yang bekerja untuk pihak kawan maupun lawan.
Kerajaan Suballa luput dari keganasan perang karena mengadakan negoisasi dengan Astapura. Saksena tunduk pada Sri Narendra dan mengakui kedaulatan Astapura atas Suballa. Sebagai gantinya, Saksena menjadi sekutu sekaligus mata-mata Astapura.
Gopal tidak punya pilihan lain, selain turut bekerjasama dengan Saksena. Saksenya tidak mungkin membantunya lebih lama, Gopal juga memikirkan sekutu lain untuk
Gopal tidak akan membiarkan kerajaan manapun menguasai Indrajaya. Selama Gopal hidup, selama itu pula Indrajaya harus tetap kokoh.
“Aku akan meminta orang-orangku mencari tahu tentang istri Siddarth” ujar Saksena sambil membaca raut wajah Gopal.
Gopal setuju dengan ide Saksena. Siapa tahu ada informasi penting yang bisa Gopal gali dari wanita itu.
“Paman Saksena” ujar Govinda putra Gopal berlari memeluk Saksena.
__ADS_1
“Hai jagoan paman, apa yang kau pelajari hari ini” tanya Saksena pada Govinda.
“Aku belajar berkuda. Guru bilang, kalau aku mahir berkuda aku akan dilatih memanah” ujar Govinda ceria.
Govinda, putra semata wayang Gopal saat ini berusia sepuluh tahun. Govinda sangat dekat dengan Saksena. Gopal perlu memikirkan ulang rencana menyingkirkan Saksena setelah tujuannya tercapai.
“Paman, ajarkan aku juga bermain catur” ujar Govinda sambil duduk di pangkuan Saksena.
“Akan paman ajarkan setelah kau mahir berkuda, memanah, dan menggunakan pedang. Permainan Catur akan menyempurnakan semua teknik yang kau pelajari” ujar Saksena mendekap Govinda.
“Baiklah paman, aku akan giat berlatih agar segera diajarkan cara bermain catur”
Gopal menatap interaksi Saksena dan putranya.
Batin Gopal gelisah, mereka terlalu dekat.
...----------------...
__ADS_1