
Jhanvi bersorak gembira menyambut kedatangan Siddarth. Dia sudah lama merindukan suaminya yang sedang menjalankan perintah raja menjalin persahabatan dengan daerah sekutu.
"Terimalah hadiah ini, ucapan selamat dari daerah sekutu" ujar Siddarth sembari menyerahkan perhiasan dan pakaian mahal. Jhanvi takjub melihat hadiah itu. Matanya berbinar bahagia.
"Ada apa?" tanya Siddarth saat melihat raut wajah Jhanvi berubah.
Jhanvi mengutarakan kegundahan hatinya tentang berita kaburnya Gayatri. Jhanvi merasa hatinya tak tenang seolah Gayatri akan muncul di hadapannya sewaktu-waktu. Siddarth meyakinkan Jhanvi bahwa Gayatri tidak akan bisa menyentuh gerbang istana tanpa izin darinya.
"Aku tetap merasa khawatir karena saat ini aku hanyalah selir dan tidak memiliki status apa-apa" air mata Jhanvi perlahan menetes sambil terus mengatakan bahwa dia adalah putri raja, seumur hidup dia tidak bermimpi menjadi seorang selir, status yang menurutnya hina.
Tergeraklah hati Siddarth. Tanpa berpikir panjang dia memerintahkan orang untuk mencari dan menangkap Gayatri dan Gunjana, membawa mereka kembali ke istana.
"Ayah, waktu kelahiran anakku tinggal menghitung hari. Sebelum hari kelahiran biarkan aku mengesahkan status Jhanvi menjadi permaisuri dan saat anak kami lahir nanti dia akan menjadi calon putra mahkota" ujar Siddarth tegas.
"Anakku, pikirkan kembali rencanamu. Jangan terburu-buru" ujar Lakshita mengingatkan putranya.
"Ini keputusan yang sudah lama ku buat sejak Gayatri lari dari Karmanagar. Ini adalah kesalahannya sendiri" bantah Siddarth.
Rencana Siddarth mendapat dukungan penuh dari Ayah dan juga neneknya sedangkan di bangsal wanita mereka masih berharap Gayatri kembali bersama mereka.
"Nona Jhanvi memang tidak pernah menginjakan kakinya di dapur dan bangsal istana, tapi sikap tidak terpujinya tidak mencerminkan bangsawan hindustan" bisik Sanjana pada para pelayan.
"Coba saja dia bertukar posisi dengan putri Gayatri haru menyeberangi samudra dan hidup sendirian, kehadirannya disini hanya pelengkap saja" sambung yang lainnya.
"Hey dia adalah tuan putri yang terkenal selalu memenangkan semua persaingan bahkan ada yang memujanya sebagai jelmaan Dewi Laksmi"
"Ayo segera bersiap, sepertinya Rishi dan para pelayannya akan menuju ke sini" ujar Sanjana melihat rombongan itu dari pilar-pilar bangsal wanita.
"Salam Tuan Putri" sambut Sanjana kepala pelayan.
__ADS_1
"Tunjukan padaku dimana kamar Gayatri" ujar Jhanvi.
Sanjana memanggil Rupika agar dia menemani Jhanvi dan lainnya berkeliling tempat dimana Gayatri selalu berada. Rupika dengan berat hati mengantar sambil menjelaskan tempat yang mereka kunjungi.
"Aha, apa putri Gayatri sedang belajar cara memenggal kepala lawan?" tanya Jhanvi saat melihat ruang latihan, kertas jurus dan peralatan yang terpanjang rapi di dinding ruangan itu.
"Katakan padanya belajarlah yang rajin jangan sampai lawan yang akan memengalnya duluan"
Rupika tidak senang mendengar kalimat itu, namun dia sadar betul di hadapannya berdiri calon permaisuri. Jika dia sembarangan berbicara nyawanya akan menjadi taruhan.
"Jangan khawatir, Gayatri akan hadir di sini di hari peresmian permaisuri dan putra mahkota" ujar Jhanvi lirih, menatap Rupika melalui ekor matanya.
Rupika sudah mendengar berita itu sejak pagi, kata-kata Jhanvi semakin menusuk hatinya. Gayatri dan Gunjana belum memberinya kabar.
Semoga saat hari itu tiba , Dewa menunjukan keadilan.
Rupika memejamkan mata sambil merapalkan kalimat itu berulang kali menunggu ada keajaiban di hari itu.
Mereka tidak berontak saat digiring paksa ke istana. Untung saja mereka telah mandi dan bersiap, mereka tahu mereka akan ditangkap dan dibawa ke istana.
Setelah pemujaannya di kuil Dewi Durga, Raja Saksenya menemuinya dan meminta agar mereka tinggal bersamanya di kerajaan Suballa. Saksenya membawanya turun kuil melalui jalan rahasia yang dilalui Pandita yang sudah berumur di sana terdapat ruang pertapaan dan jalan potong tanpa harus menuruni 1000 anak tangga.
Pagi tadi Saksenya mendapat kabar rencana penobatan Jhanvi dan calon bayinya. Saksenya tidak ingin Gayatri digiring dalam kondisi menyedihkan dengan kotoran penuh badan dan pakaian yang tidak layak. Dia memberi makan dan baju serta menyuruh kedua wanita itu sengaja memesan makan di warung murah agar tidak ada yang curiga.
Tibalah mereka di istana dan telah ditunggu oleh penghuni istana Astapura. Siddarth menatap Gayatri dingin, Jhanvi memeluk lengan Siddarth dan menautkan jemarinya pada jemari Siddarth.
Gayatri menatap kedua orang itu tanpa minat. Tidak ada raut bersalah di wajahnya. Dia telah melepaskan semua kemarahannya di kuil Durga, jika dia berbohong maka dia akan menerima kutukan, jika tidak maka merekalah yang akan musnah.
"Bawa dia ke Odissa" ujar Siddarth.
__ADS_1
Apakah sekarang kedudukannya sama dengan para penari? batin Gayatri.
"Tidak boleh ada dua ratu di bangsal wanita" lanjut Siddarth.
Rupika menahan tanggis dan menyembunyikan wajahnya di antara para pelayan. Perintah Siddarth bagai sembilu yang menghujam sisi hatinya. Jhanvi tidak pernah tinggal bangsal wanita bagaimana mungkin dia ditempatkan di antara wanita penghibur.
Gayatri tidak bereaksi. Dia dan Gunjana menuju bangsal wanita. Rishi yang kini menjadi kepala pelayan Jhanvi menyembunyikan wajahnya di balik tudung yang menutup kepalanya menghindari tatapan Gayatri.
Gayatri dan Gunjana ditempatkan di dua bilik yang saling berhadapan dekat dengan tempat mencuci baju. ruangan itu sempit dan lembab. Hanya ada dua dipan kecil. Satunya dipakai untuk tidur, yang satunya lagi terdapat beberapa pakaian bekas untuk baju gantinya.
"Gayatri, waktu makan sudah tiba. Keluarlah" ujar sebuah suara di depan biliknya. Gayatri menyingkap tirai biliknya, seorang penari menundukan kepalanya terlihat salah tingkah.
"Maafkan saya, kami diperintahkan memanggil namamu tanpa gelar" ujar gadis itu.
Terjawablah keheranan Gayatri. Dia berjalan mengikuti langkah gadis itu menuju ruang makan yang adalah aula berkumpul. Di sana tampak beberapa tamu pria yang datang. Dari gaya bicara dan gaya berpakaian mereka Gayatri dapat menebak mereka adalah bangsawan dan saudagar.
"Makan lalu menarilah bersama kami" tegur wanita yang lain.
"Aku tidak bisa menari" Tolak Gayatri halus.
"Bukankah semua wanita belajar menari sejak kecil?" tanya yang lain heran.
"Di Nusantara, menari bukan kewajiban. Yang menjadi kewajiban adalah membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu aku belajar memanah"
"Di sini memanah umumnya dilakukan para lelaki. Jodohmu akan menjauh kalau tahu kau bisa menggunakan busur dan panah"
Gayatri mendengar beberapa orang berbisik, karena kemampuan memanahnya lah yang membuat Siddharth memutuskan mencari selir. Tidak tahukah mereka bahwa Jhanvi pernah membunuh banyak orang dalam perang?
"Ini sedikit terlambat, tapi kami akan mengajarimu menari. Di acara penobatan nanti, semua wanita Odisa akan mempersembahkan tari penghormatan.
__ADS_1
Jhanvi, apakah kau sebegitu inginnya mempermalukan aku di hadapan rakyat Astapura?
...----------------...