Dvesa

Dvesa
Raja Madhyaprasta


__ADS_3

Aryan menyambut kedatangan putrinya di pelataran istana. Pria paruh baya itu meneliti Siddarth dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Salam ayah" ujar Jhanvi.


"Salam" balas Aryan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Siddarth.


Siddarth balas memandang Aryan. Pria gagah di hadapannya memiliki bekas luka di ujung alisnya. Kumis tipis Aryan dihiasi rahang kokoh khas pria membuat ketampanan Aryan bertambah. Sorot matanya tajam penuh curiga. Aryan memiliki kharisma yang tidak dapat Siddarth pungkiri.


"Salam ayah, aku putra Raja Sri Narendra dari Astapura" ujar Siddarth memperkenalkan diri.


Aryan hanya mengagguk singkat.


"Aku tidak pernah mengampuni siapa pun yang mrmanggilku ayah selain putriku" ujar Aryan tajam.


"Hentikan ayah, kami datang dengan kabar gembira" ujar Jhanvi menarik tangan ayahnya duduk di kursi yang ada di pelataran istana.


Jhanvi mulai menceritakan perjalanannya menemui Siddarth dan Gopal. Aryan mendengarkan sambil sesekali melirik Siddarth.


"Jadi apa rencana kalian selanjutnya" tanya Aryan.


"Kami akan mempersiapkan pertahanan dan strategi sambil memantau Hagai Khan" ujar Jhanvi yakin.


"Raja Aryan, aku secara langsung menemuimu agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara kita. Aku dan putrimu bekerjasama untuk kepentingan politik, tidak lebih" ujar Siddarth.


"Anak muda, kau baru saja membuatku salah paham dengan memanggilku ayah" ujar Aryan sinis.

__ADS_1


"Saat bertemu anda saya jadi teringat ayah saya. Tentu saja anda lebih tampan dan berwibawa" elak Siddarth.


Aryan melunakan pandangannya.


"Tinggalah di sini beberapa hari, pantang bagi tamu menolak keinginan raja" ujar Aryan.


Jhanvi sangat senang. Dia menyusun rencana untuk mengajak Siddarth berkeliling Madhaprasta.


"Apa ayahmu selalu seperti itu" tanya Siddarth dalam perjalanan menuju kamar yang disiapkan untuknya.


"Maksudmu?" tanya Jhanvi tak mengerti.


"Sinis dan penuh curiga seolah aku akan membawa kabur putrinya" ejek Siddarth.


"Hahahah hanya iblis ini yang bisa membantu kerajaanmu" Siddarth terbahak.


"Hentikan bodoh! kalau tidak terpaksa aku tidak akan menemuimu" ujar Jhanvi, emosinya mulai terpancing.


"Benarkah? perlu aku ingatkan bahwa kau terpana saat pertama kali melibatku. Pesonaku tidak bisa kau anggap remeh" ujar Siddarth sambil menyisir rambutnya dengan jemarinya.


"Kau terlalu berlebihan, sekarang istirahatlah besok sore nanti aku akan datang menjemputmu. Jangan banyak bicara" ancam Jhanvi.


Dia melemparkan selimut ke muka Siddarth lalu pergi meninggalkan Siddarth yang tersenyum jenaka.


Sore hari tiba, Jhanvi sudah siap dengan kudanya.

__ADS_1


"Naiklah" perintah Jhanvi.


"Kau yakin?" ujar Siddarth sambil mencari kuda yang lain.


"Tentu saja, ayahku mengizinkanku menunggangi kuda yang sama denganmu"


Siddarth menatap Jhanvi tak percaya. Dia menyadarkan tubuhnya pada tembok bangunan kamarnya menunggu penjelasan Jhanvi.


"Aku memberikan alasan yang masuk akal pada ayah" ujar Jhanvi


"Katakan" Siddarth meminta Jhanvu menjelaskan alasannya.


"Aku akan meninggalkanmu di gurun jika kau berulah"


Siddarth tertawa, baginya alasan Jhanvi sangat bodoh. Dia adalah Siddarth, menakljkan gurun adalah salah satu keahliannya.


Siddarth naik ke atas kuda, duduk tepat di belakang Jhanvi.


"Biar aku saja yang pegang tali kekangnya, kau tunjukan saja jalannya" bisik Siddarth.


Bulu roman Jhanvi bergidik. Suara Siddarth terdengar sangat lembut di telingannya. Jhanvi tersipu ditunjukannya jalan yang dimaksud pada Siddarth.


Siddarth menyadari telinga Jhanvi berubah menjadi merah, dia tahu Jhanvi pasti sangat malu. Siapa suruh gadis di depannya ini berani menantangnya. Sekarang rasakan akibatnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2