
Ada apa ini?” tanya Rupika panik.
Segerombolan prajurit yang terkenal sebagai prajurit terlatih datang menghadap Gayatri. Mereka membacakan surat perintah pemindahan Gayatri. Tanpa banyak bicara gayatri meminta para pelayannya menyiapkan keperluannya. Gayatri hanya diizinkan membawa Gunjana ikut bersamanya.
Malam itu Gayatri meninggalkan bangsal wanita, rasa dendam dan marah mulai tersulut dalam dadanya. Saat mereka keluar dari istana, Gayatri bersumpah Siddarth dan keturunannya harus membayar apa yang telah mereka perbuat.
Gayatri tiba di pinggir kota yang dimaksud. Ada sebuah rumah tua yang nampak tidak terawat, seperti telah ditinggal lama oleh pemiliknya. Ada sisa debu yang menempel, Gayatri yakin tempat ini baru saja dibersihkan.
Senyum licik tergurat di wajah Gayatri, Siddarth tidak menganggap ancamannya sebagai omong kosong. Jhanvi dan bayi yang dikandungnya lah yang membuat Siddarth menjadi lemah.
“Baiklah Siddarth, jika aku tidak memiliki keturunan maka Jhanvi atau perempuan lainnya di dunia ini yang menjadi istri atau selirmu akan merasakan hal yang sama” batin Gayatri.
“Nyonya, tempat tidur anda telah siap silahkan beristirahat” ujar Gunjana takut.
“Gunjana, jika kau keberatan menjadi pelayanku kau bisa meninggalkanku sendiri” sindir Gayatri.
__ADS_1
“Seumur hidup saya merasa bersalah atas apa yang menimpa anda, saya akan mempertaruhkan apapun untuk menebus kesalahan saya” Gunjana kembali berlutut di hadapan Gayatri sambil mengatupkan kedua tangannya di atas kepalanya.
“Memangnya apa yang bisa kau pertaruhkan untuk menebus kesalahanmu? Uang, kekuasaan, atau apa? Kau bahkan lebih miskin daripada ku” ujar Gayatri menatap sinis Gunjana.
“Kehidupan saya adalah milik anda nyonya” ujar Gunjana gemetar.
“Benarkah? Siddarth akan menebas kepalamu jika aku katakan ini padanya” Gayatri tersenyum licik sambil mengangkat dagu Gunjana dengan telunjuknya.
“Lakukan apa yang kuperintahkan, jika sedikit saja kau membuat kesalahan maka nyawamu adalah taruhannya” ancam Gayatri.
Gayatri yang sekarang bukanlah Gayatri lemah seperti yang terlihat di istana, kali ini Gayatri dipenuhi kabut hitam. Rasa marah telah menutupi rasa belas kasihnya yang ada di hadapannya hanya kegelapan dan amarah yang siap menghancurkan siapa saja dan apapun yang menghalangi jalannya.
Malam itu Gunjana berusaha tertidur lelap, sedangkan Gayatri telah mengenakan saree hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa aturan, dia melumuri seluruh tubuhnya dengan abu yang diambil dari tempat pembakaran.
Gayatri duduk bersila di pojok ruangan dan mulai bermeditasi. Dia memejamakan matanya menajamkan pendengarannya dan mulai mengosokan pikirannya. Perut lapar ditahannya, kaki yang mulai kesemutan dibiarkannya bahkan dia tak menghiraukan suara-suara yang memanggil namanya.
__ADS_1
Perlahan-lahan suara itu mulai menjauh dan hilang. Kakinya mati rasa dan telingannya dapat mendengar nafas yang keluar dari hidungnya. Tubuhnya menjadi lebih ringan dan segar namun dia menolak membuka matanya. Apakah ini adalah kematian yang sesungguhnya? Gayatri bertanya-tanya dalam hatinya. Tidak dia belum boleh mati sampai dendamnya terbalaskan. Gayatri membuka paksa mukanya dan menemukan dirinya ada di sebuah gunung yang puncaknya diselimuti salju. Diantara gunung-gunung itu terdapat kuil, Gayatri mendengar suara merdu sedang bernyanyi dia mencoba mengikuti suara itu.
Gayatri yang bertelanjang kaki menapaki bebatuan gunung. Sepoi angin menusuk kulitnya, dingin. Gayatri semakin dekat ke arah suara orang bernyanyi tampak ada daratan hijau di antara gunung itu. Suara itu hilang. Yang nampak hanya sungai jernih dan seisinya.
Tempat ini nampaknya tidak asing pikir Gayatri. Siang dan malam berlalu begitu cepat. Beberapa hari di tempat itu gayatri merasa dirinya semakin tua. Kuku dan rambutnya mulai memanjang. Wajahnya mulai menampakan guratan yang semakin jelas. Setelah sekian lama mencari asal suara itu Gayatri tersadar dirinya berada di Kailas. Kediaman Mahadewa dan istrinya Parvati.
Gayatri semakin bersemangat mencari di mana Mahadewa berada agar sekiranya Dewa membantunya menyelesaikan persoalan batinnya, namun Mahadewa tidak pernah tampak di hadapannya. Hingga suatu ketika bumi berguncang, terdengar ledakan di mana-mana pemandangan indah di hadapannya berubah menjadi tandus dan lapang. Tampak seorang raksasa, tubuhnya berwarna hitam, matanya menyala, rambut panjangnya terurai tanpa arah. Dia memiliki delapan tangan yang masing-masing pedang, trisula, kerang dan senjata lainnya berlumuran dara. Lidahnya menjulur, kalung tengkoraknya bergoyang-goyang saat dia berjalan. Hentakan kakinya mampu menggetarkan seluruh alam. Dia berlari ke arah Gayatri, semakin dekat, dekat, dan ... arghhhhh
Gayatri terbangun. Nyonya anda tidak apa-apa? Tanya Gunjana cemas.
“Anda telah bersemedi selama satu minggu tanpa makan dan minum”
Gayatri tidak percaya apa yang baru saja dilaluinya.
“Aku haus dan lapar” ujar Gayatri lemah.
__ADS_1
“Basuhlah tubuh anda nyonya sebelum makan” Gunjana menyodorkan sebaskom air hangat. Gayatri melihat pantulan dirinya dalam air. Wajahnya persis seperti raksasa yang mengejarnya. Dibasuhnya mukanya hingga air dalam wadah itu menjadi coklat dan keruh.
Sudah waktunya, batin Gayatri.