
Armada Bansheer tiba di pelabuhan Dwipajaya. Mereka disambut puluhan gadis pribumi yang dipaksa menari menyambut kedatangan mereka. Rakyat yang hadir di sana tak tersenyum menyapa Bansheer. Wajah mereka tampak tegang. Marah, sedih, kecewa, dengan pemimpin baru mereka.
Rakyat tak terurus, pajak menjadi sangat tinggi bahkan Bansheer meminta agar kuil khusus untuk dirinya di bangun di tengah kota. Mereka dipaksa bekerja melebihi beban yang bisa mereka tanggung. Anak lelaki pergi berperang sedangkan gadis-gadis cantik diseret paksa menuju istana.
"Piyush, panggil Ankush ke sini!" teriak Bansheer.
Ankush, pria berperawakan kekar yang menjadi mandor para pekerja Jiwang datang menghadap.
"Sudah waktunya kita mengambil alih Wilisgiri" ujar Bansheer matanya berkilat serakah.
"Mitos konyol itu harus segera berakhir di era kekuasaan Bansheer. Jangan biarkan siapapun menghalangi langkah kita merebut Wilisgiri. Singkirkan setan, raksasa, atau siapapun yang ada di hutan itu" teriak Bansheer.
"Tuanku, Daneswara memiliki empat orang putri yang masih hidup. Rumor yang ku dengar salah putra selirnya masih hidup" jawab Ankush.
__ADS_1
"Suami putri-putrinya bahkan tak peduli dengan Dwipajaya. Muka mereka tak nampak di hari pembantaian. Putranya semua wafat dalam kebakaran dahsyat itu apa lagi yang kau takutkan?" tanya Bansheer.
"Baiklah tuanku, aku akan menyiapkan pasukan membuka jalan ke Wilisgiri" ujar Ankush memberi hormat.
Ankush mempersiapkan pasukan dan segala kelengkapan menuju pembukaan jalan ke Wilisgiri. Mereka bergerak menuju perbatasan.
*****
"Ini adalah peta Subala. Kami memiliki hubungan kekerabatan dengan Indrajaya, Nepal, dan pegunungan Kashmir. Raja Gopal adalah sepupu sekaligus teman kecil ayahku ahli mata-mata. Pegunungan Kashmir milik pamanku Raja Sadewa ahli strategi perang. Itulah sebabnya meskipun daerah kekuasaannya banyak yang tak terurus tak ada yang berani mengusik wilayahnya. Kerajaan Mahasrirastha di semenanjung Nepal milik kembarannya Raja Nakula yang memperistri permaisuri dari Nepal juga ahli strategi perairan. Posisi kita akan kuat jika mereka membantu" jelas Saksenya.
"Tak perlu menghafalnya. Aku akan berikan replika berukuran besar, kecil dan yang terpisah. Guru Krisna akan mengantarnya padamu"
Gayatri mengangguk setuju. Dia melihat buku-buku lain di ruangan itu. Sejarah Subala, pemerintahan Subala, Konstruksi dan wisata, hingga sampailah dia pada buku silsilah kerajaan dan buku berisi biografi ayah Saksenya.
__ADS_1
"Aku yang menulis buku itu" Saksenya mengambil buku biografi ayahnya menyerahkannya pada Gayatri.
"Apa aku boleh membacanya?"
"Silahkan"
Gayatri membaca buku itu, menyelami kata demi kata. Dia membayangkan bagaimana Saksenya menyaksikan hembusan nafas terakhir ayahnya. Rasa pedih tulisan itu tersampaikan padanya. Gayatri menghubungkan tragedi itu dengan sikap Saksenya, dan kerajaan Subala di masa ini. Benang merah itu lengkaplah sudah.
Senyum konyol Saksenya menutupi kesedihan dan beban yang dipikulnya. Pilihan mengabdi pada Astapura agar tidak ada lagi perang yang melibatkan Subala. Dia juga yang berusaha menenangkan Indrajaya di saat Raja Gopal dihina. Di satu sisi dia mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin yang baik di masa depan.
Saksenya memeluk Gayatri tak kala gadis itu hendak bertanya. Saksenya menyembunyikan wajahnya di punggung Gayatri. Meminta agar gadis itu diam menerima aliran cinta lewat detak jantung dan dekap hangat lengan kekarnya.
Gayatri memahami kesedihan itu. Dia kehilangan orangtuanya, dia menolak melihat kenyataan jasad orang-orang yang disayanginya telah kaku dan melebur menjadi abu. Dia bahkan tak sanggup melihat peninggalan ayah ibunya dikuasai oleh orang asing yang tak tahu diri. Sejak mereka lahir, mereka memikul tanggung jawab menjadi penerus pemimpin di tanah itu, sekarang dia bersembunyi bagai pengecut.
__ADS_1
Gayatri mengelus lengan Saksenya yang masih mendekapnya. Gayatri bersumpah Bansheer akan mati ditangannya.
...----------------...