
"Apa kabar paman?" sapa Jhanvi riang pada Gopal.
Gopal menatap sinis kedatangan putri Raja Madhyaprasta di hadapannya.
"Katakan tujuanmu" ujar Gopal tanpa basa-basi.
Jhanvi menceritakan tentang invasi Hagai Khan yang mereka sebut sebagai invasi Tengri, salah satu suku yang ada di daratan Mongolia. Hagai berhasil menguasai Tiongkok daratan dan wilayah Asia Timur, selanjutnya menuju Asia Tenggara lalu Asia Selatan.
"Paman, bergabunglah bersama kami membasmi penjajah setelah itu silahkan paman putuskan sendiri apakah Indrajaya tetap berdiri sendiri atau tunduk di bawah perintah Astapura" bujuk Jhanvi.
Gopal berpikir sejenak. Dia tidak mempercayai perkataan Jhanvi namun tidak menutup kemungkinan berita ini adalah bocoran mata-mata Madhyaprasta.
Gopal telah mengenal Jhanvi sejak kecil. Jhanvi tidak mungkin berbohong.
"Bagaimana jika setelah mengusir Hagai Khan Astapura tidak menepati janjinya memberi hak bagi Indrajaya untuk menentukan masa depannya?" tanya Gopal lagi.
"Paman, Astapura mempertaruhkan harga diri mereka. Apa paman rela tanah leluhur paman dikuasi oleh klan lain? Leluhur Indraprasta pasti akan sedih. Selama tujuh turunan paman akan dikutuk" ujar Jhanvi menunjukan wajah memelas mirip gadis kecil yang polos.
Gopal semakin kesal dengan tingkah Jhanvi. Sebagai seorang ayah yang tidak memiliki anak perempuan, sikap Jhanvi barusan membuatnya gemas ingin menjewer telinga gadis itu karena tidak patuh.
"Baiklah, dengan satu syarat" ujar Gopal.
__ADS_1
"Apa itu" ujar Jhanvi penuh selidik.
"Panggil aku ayah" ujar Gopal lagi.
"Tentu saja ayah, anda mengenal keluarga saya sejak lama" ujar Jhanvi bersemangat. Usahanya berhasil dua kubu ini berhasil Jhanvi rebut kepercayaannya.
Gopal terlalu senang mendengar panggilan Jhanvi barusan hingga menyetujui permintaan Jhanvi.
"Aku telah menjilat ludahku sendiri" gumam Gopal.
"Jangan khawatir ayah, asalkan anda tidak menjilat ludah orang lain semuanya baik-baik saja. Anggap saja kerjasama ini adalah petunjuk Dewa" Jhanvi tersenyum.
Petunjuk Dewa?
Mungkinkah ini jalan yang Dewa Indra tunjukan padaku? Jhanvi kecil datang menawarkan perdamaian dalam bentuk yang lain, sebagai gantinya aku memiliki seorang putri.
"Ayah? ayah?" panggil Jhanvi.
"Kau ingat istri dan putraku?" tanya Gopal.
"Tentu saja, di mana mereka aku tidak melihat mereka sejak tadi" tanya Jhanvi mencari keberadaan kedua orang itu.
__ADS_1
"Mereka ada di tempat yang aman. Jika aku mati dalam pertempuran tolong bantu mereka" ujar Gopal sedih.
Jhanvi menangkap raut sedih itu. Di luar sana Gopal dianggap sebagai raja yang lalim. Hari ini Jhanvi menyaksikan sendiri Gopal hanya seorang ayah yang ingin melindungi keluarganya dan raja yang selalu bersama rakyatnya.
Jhanvi memeluk Gopal. Meyakinkan Gopal bahwa semuanya akan baik-baik saja selama mereka sepakat untuk bekerjasama.
"Aku akan membawa berita baik ini pada Siddarth. Ayah tunggulah kabar dariku" Jhanvi meninggalkan Indrajaya dan kembali ke kemah Siddarth.
"Raja Gopal setuju bekerjasama denganmu dengan syarat, Indrajaya akan menetukan nasib mereka sendiri di masa depan" lapor Jhanvi.
"Jangan kecewakan aku karena negoisasi yang aku lakukan. Tepati janjimu untuk Indrajaya" Jhanvi memperingati Siddarth.
"Baiklah. Sekarang kita menuju Madhyaprasta" ajak Siddarth.
"Untuk apa?" tanya Jhanvi heran.
"Aku perlu menemui ayahmu, agar tidak ada salah paham diantara kami" ujar Siddarth tenang.
"Persiapkan barangmu!" perintahnya lagi.
"Kalian tinggalah sementara di sini sampai perintah selanjutnya. Tetap berjaga dan waspada kami berdua akan menemui Raja Madhyaprasta" ujar Siddarth pada prajuritnya.
__ADS_1
Siddarth dan Jhanvi memacu kudanya menuju Madhyaprasta sebelum malam semakin larut.
...----------------...