
Pupil mata Gayatri melebar mendengar berita yang dibisikan Rupika. Dia meremas benang yang sedang dipakainya untuk merajut. Otaknya dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk tentang kedua orang itu.
"Rupika, katakan padaku ketentuan apa yang berlaku selanjutnya" tanya Gayatri.
Matanya menatap lurus ke depan, rahangnya beradu, urat-urat lehernya menebal.
"Nyonya, ada kemungkinan putri Jhanvi dipindahkan ke istana untuk mencegah hal buruk terjadi pada masa kehamilannya"
"Lalu bagaimana denganku?"
"Jika anda tak kunjung memiliki penerus laki-laki maka posisi anda akan digeser. Anda akan menjadi selir"
Rupika menatap ekspresi wajah Gayatri yang berubah-ubah.
"Kalian berdua tetaplah di sini sampai Siddarth tiba" ujar Gayatri melirik Gunjana yang tampak gemetar.
Sesuai dugaannya, Siddarth datang menemuinya. Dengan langkah gontai Siddarth duduk di hadapan Gayatri.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku katakan, penting"
"Kenapa anda terburu-buru tuan, minumlah dan nikmati makanan yang sudah disediakan ini" Gayatri menuang chaiwala ke dalam cangkir Siddarth.
"Mereka akan tetap di sini, katakan apa yang ingin kau bicarakan" ujar Gayatri paham bahwa tatapn Siddarth meminta agar pelayan dan penjaga meninggalkan mereka.
"Terserah! Gayatri tengah mengandung anakku. Usia kehamilannya dua minggu. Dia akan dipindahkan ke istana hari ini juga"
"Selamat, kau berhasil mewujudkan keinginanmu"
"Bukan ini yang aku harapkan di saat keadaan sedang tidak stabil. Dewa telah menurunkan berkatnya maka aku bertanggungjawab menjaga, membesarkan, dan mendidiknya"
"Kau tetap ratuku. Kita akan punya anak saat Astapura berhasil menduduki seluruh negeri dan saat itu akan diperkenalkan ke seluruh dunia ratu Hindustan yang agung"
Gayatri terbahak mendengar jawaban Siddarth. "Sekali lagi ku katakan padamu. Kalau sampai semua ini adalah muslihat belaka maka kau, Jhanvi dan semua orang yang mendukungmu akan terima akibatnya"
"Sudah satu tahun kita menikah dan aku selalu bersamamu di masa suburku, tapi tidak ada yang terjadi. Tampaknya Dewa tidak menurunkan keberuntungan atas diriku" sindir Gayatri.
__ADS_1
Siddarth mengusap wajahnya. Gayatri melihat ada keraguan dalam sikap Siddarth. Jika nalurinya benar bahwa ini semua telah direncanakan maka semua ancamannya akan menjadi kenyataan.
"Sesuai saranmu aku telah menyiapkan pelayan untuk mengurus keperluannya. Dia akan memiliki tiga orang pelayan. Dua pelayan yang akan mengurusnya dan Rishi yang akan menjaganya selama aku tidak ada"
"Keputusan yang tepat, wanita hamil tidak boleh bekerja sendirian. Akan berbahaya untuk kandungannya. Jika tidak ada lagi yang akan kau katakan, tinggalkan kami aku ingin melanjutkan pekerjaanku"
Siddarth kembali dengan tergesa. Sedikit berlari kecil diantara undakan tangga.
Wanita itu memenangkan persaingan ini batin Gayatri.
"Gunjana, katakan apa yang kau ketahui. Kau tampak gelisah sejak tadi" tanya Gayatri sambil menyulam. Gayatri menolak menatap wajah khawatir Gunjana.
"Ti-tidak ada nyonya" ujar Gunjana terbata.
"Aku hanya ingin hakku sebagai istri pertama.Aku datang dari Dwipajaya, tanpa tahu bahwa aku diperlakukan buruk di sini. Kedatanganku murni ingin mengabdi pada pria yang kupilih menjadi pendampingku. Hidup dan matiku ada dalam genggamannya" ujar Gayatri lirih.
"Sejak kecil aku bermimpi menikahi pria yang akan membalas perasaanku. Tidak masalah kami tinggal di rumah kecil, memiliki ternak dan sedikit ladang. Membangun keluarga dan melakukan banyak hal bersama. Ternyata jauh lebih sulit dari yang aku bayangkan. Hati seorang pria tidak akan luluh hanya dengan paras yang cantik, diluar sana ada banyak wanita yang dengan senang hati akan tunduk, dan berbakti pada pria seperti Siddarth"
__ADS_1
Gayatri mengerutkan dahinya. Kata-kata yang mengalir dari bibirnya telah lama ditahannya. Hari ini dia bisa bernafas lega. Tidak perlu seluruh negeri tahu, cukup dua pelayannya saja yang mendengarnya.
...----------------...