
“Salam tuan” sapa seorang pelayan wanita pada Saksenya.
Seisi ruang menoleh kearah pria yang masuk ke selasar bangsal.
“Aku ingin memberi salam pada Puteri Raja Daneswara, bisakah aku menemuinya?” tanya Saksenya sopan.
“Ten-tu saja Tuan” ujar pelayan wanita tersebut tampak malu dengan sikap sopan sang raja.
“Tuan puteri, Raja Saksenya dari kerjaan Suballa ingin bertemu anda”
“Suruh dia masuk” ujar Gayatri yang sedang menyulam di ruang rekreasi bangsal wanita.
“Salam Raja” ujar Gayatri sambil mengatupkan kedua tangan di dada.
Raja Saksenya membalas salam Gayatri.
“Tidak ku sangka perbincangan para Raja tentang kecantikan gadis Nusantara bukan kebohongan semata” ujar Saksenya takjub melihat kecantikan Gayatri.
Gayatri meneliti pria dihadapannya, tampak genit dan sopan di waktu yang bersamaan. Usianya mungkin hanya lebih tua beberapa tahun dibanding Siddarth. Wajah khas pria Hindustan dengan kulit sawo matang, hidung mancung dan mata hitam yang indah. Harus Gayatri akui, mata dan hidung pria Hindustan adalah yang terbaik. Rambut pria itu berwarna hitam, panjang menyentuh bahu. Dia mengenakan anting besi yang membuatnya tampak bersinar.
“Aku secara langsung menemuimu, untuk memberimu salam karena tidak sempat hadir pada upacara pernikahan kalian. Semoga Dewa memberkati rumah tangga anda dan Siddarth” ujar Saksenya memamerkan deretan gigi putihnya.
“Terima kasih” ujar Gayatri lembut, makin membuat Saksenya terpana.
__ADS_1
“Ke mana Siddarth?” tanya Saksena tampak mencari keberadaan Siddarth, padahal dia tahu Siddarth pergi berburu.
“Pergi bersama Bansheer sejak kemarin” ujar Gayatri tanpa memberitahu ke mana Siddarth pergi.
“Bagimana kalau ku ajak berkeliling Astapura, aku telah mendapat izin dari Baginda Raja”
Gayatri menyambut ajakan Saksenya. Kapan lagi dia bisa mengelilingi Astapura.
“Apa anda bisa berkuda” tanya Saksenya
“Tentu saja, di Dwipajaya kami wajib diajarkan berkuda” ujar Gayatri
Harapan Saksena menggunakan satu kuda dengan Gayatri sirna karena wanita itu lebih pandai dari dugaanya. Saksenya
daftarnya sebagai wanita yang patut diwaspadai dari gesturnya kelihatan bahwa
Gayatri berada di antara batas licik, pintar, dan pemalu.
Saksenya dan Gayatri meninggalkan istana.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah sungai Yamuna letaknya 10 mil dari pusat kota Astapura. Mereka menempuh perjalanan selama setengah hari. Saksenya tidak menyangka Gayatri dapat berkuda sejauh itu tanpa berhenti untuk istirahat.
Saksenya dan Gayatri mengikat kuda mereka di tempat yang di tumbuhi rumput sedangkan mereka berdua berjalan ke arah sungai Yamuna.
__ADS_1
“Ini adalah sungai Yamuna, anak sungai Gangga. Salah satu sendi kehidupan Hindustan” ujar Saksenya membiarkan air sungai Yamuna membasahi kaki telanjangnya karena dia melepas alas kakinya.
Gayatri melakukan hal yang sama. Sebelum kakinya menginjak sungai Yamuna, Gayatri
melakukan gestur hormat dan perlahan-lahan masuk ke dalam sungai.
“Aku sering mendengar tentang kisah Dewi Gangga dan sungai Gangga, bagaimana dengan sungai Yamuna?” tanya Gayatri sambil sesekali memainkan riak air.
“Dewi Yamuna atau yang di kenal dengan Yami adalah saudari dari Dewa Yama Dewa Kematian. Keduanya adalah anak Dewa Surya. Suatu ketika Yami menemukan kakaknya tertidur, Yami menunggu dalam waktu yang lama Yama tidak kunjung bangun. Menanggislah Yami dan mengancam jika Yama tidak dihidupkan maka air matanya akan membanjiri
dunia. Dewa Dewi yang melihat kesedihan Yami menciptakan siang dan malam,
seiring berjalannya waktu Yami melupakan kesedihannya karena Yama telah diberi
anugerah menjadi Dewa kematian. Air matanya yang jatuh ke bumi berubah menjadi sungai yang tidak lagi mendatangkan bencana melainkan mendatangkan kehidupan” ujar Saksenya mengakhiri ceritanya.
“Kisah yang menarik” ujar Gayatri
“Tentu saja, apalagi didengarkan sambil menikmati pemandangan sungai Yamuna bersama wanita cantik’ ujar Saksenya pelan.
Gayatri menyadari maksud Saksenya namun berpura-pura tidak mendengar.
Hari mulai gelap, kedua orang itu meninggalkan sungai Yamuna.
__ADS_1
...----------------...