Dvesa

Dvesa
Akhir Tiga Jaya


__ADS_3

"Tidak" teriak istri dan kedua anak Jayaswara. Mereka bersimpuh memohon agar Jayaswara menghentikan niatnya. Jayaswara tidak bergeming dia tetap duduk bersila sambil memejamkan mata. Telinganya seolah tuli dengan suara-suara yang memanggil namanya.


Istrinya disusul kedua anaknya berlari memeluk Jayaswara di tengah kobaran api. Orang-orang disekitar mereka tidak sempat mencegah. Jayakarsa menatap kobaran api itu penuh air mata. Bibirnya bergetar, pipinya basah, rahangnya seolah kaku.


Kobaran api melahap anak dan istrinya. Bau hangus memenuhi indera penciuman mereka. Asap hitam naik ke langit menembus awan. Tak lama kemudian api itu mengecil dan akhirnya habis.


Tubuh Jayaswara hangus tapi tidak menjadi debu. Seluruh rambut dan kainnya habis terbakar sedangkan anggota badannya utuh. Istri dan anaknya telah habis menjadi debu.


"Om Santi, Santi, Om. Raja Jayaswara telah membuktikan dengan sumpah dan perbuatannya bahwa dia tidak bersalah. Tidak ada gunanya menyesal. Nasi sudah menjadi bubur, badan telah menjadi abu. Semoga arwah mereka menuju moksa" ujar Pandita mengakhiri upacara pembakaran.


Pandita dan murid-muridnya menyelimuti tubuh Jayaswara dengan kain putih dan memindahkan jenazahnya ke dalam peti kaca agar semua orang belajar dari kasih Jayaswara.


Abu istri dan anaknya dimasukan ke dalam kendi dan disejajarkan dengan petinya dalam kuil. Langit tampak mendung, alam seolah berkabung.


"Raja, anda telah memperoleh apa yang anda cari sekarang pulanglah dengan damai. Jangan ada dendam dan kemarahan di hatimu" ujar Pandita pelan.

__ADS_1


Tubuh Jayakarsa bergetar. Dia tidak memiliki kekuatan untuk menarik pelananya. Mengapa dia tidak mendengarkan permintaan Jayaswara agar mereka membicarakan masalah ini dengan kepala dingin? 


Sekarang dia telah kehilangan keluarga kandungnya, apa yang tersisa darinya? Salah satu prajuritnya memindahkan Jayakarsa ke kudanya dan meninggalkan tempat itu.


Hari-hari berlalu Jayakarsa mulai kehilangan nafsu makannya. Badannya semakin kurus dan tak terurus hingga dia mengakhiri hidup anak istrinya lalu bunuh diri menggorok lehernya.


"Karma apa yang telah menimpa keluarga ini hingga mereka mati mengenaskan?" ujat Patih Mahesa kepada Raja Daneswara dan Patih Drona yang turut serta dalam penghormatan terakhir tiga Jaya.


"Manusia kadang bertindak tanpa berpikir panjang karena emosi dan nafsu semata. Berilah sedikit ruang di hati kita untuk bisa berpikir logis dalam keadaan apapun" ujar Patih Drona.


"Jangan khawatir saudaraku, tiga Jaya telah mempercayakan kerajaan mereka kepadaku" ujar Bansheer sambil tersenyum bangga memperlihatkan gulungan pemindahan kekuasaan yang telah ditandatangani Jayakarsa dan distempel tiga Jaya.


Perasaan Daneswara, Patih Mahesa, dan Patih Drona tidak enak. Mereka saling berpandangan. 


"Aku harap tiga Jaya menjadi lebih baik di bawah pimpinan anda" ujar Patih Drona memberi selamat.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pamit" ujar Patih Mahesa.


"Baginda, apa anda tidak curiga dengannya?" tanya Patih Mahesa.


"Gerak-geriknya terlalu mencurigakan. Lagi pula kenapa Jayakarsa menyerahkan tiga Jaya kepada orang asing dibandingkan kepada anda yang masih berstatus paman?" tanya Patih Mahesa.


"Kita tidak punya bukti yang kuat. Stempel dan tanda tangan itu asli. Lebih baik kita bicarakan ini saat tiba nanti" ujar Raja Daneswara.


Sesampainya di istana mendapat kabar bahwa ketiga Jaya diundang Bansheer untuk mencoba anggur Hindustan. Namun tidak ada fakta bahwa Bansheer terlibat dalam kematian mereka bertiga. 


Raja Daneswara meminta orang-orangnya agar tidak ikut campur terlalu jauh karena mereka tidak tahu apa yang sedang Bansheer rencanakan. 


Mahesa yang merasa tidak puas. Diam-diam membayar salah satu prajurit Bansheer agar memperoleh bukti dan informasi yang dia butuhkan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2