
"Adhiyaksa Adhiyaksa" panggil Swastika sambil mengguncang-guncangkan pundak putra bungsunya.
"Ada apa ibu?" tanya Adhiyaksa yang baru menginjak usia 18 tahun
"Pakai bajumu, dan ambilah ini! sebentar lagi musuh akan memasuki istana ini" ujar Swastika, sembari memakaikan baju yang agak tebal pada putranya. Dia menyerahkan dua ikat kantong uang pada Adhiyaksa.
"Tapi Bu… "
"Cepatlah kita tidak punya banyak waktu! larilah, pergilah yang jauh. Temui ipar-iparmu selain Siddarth, Ibu yakin mereka akan membantumu" ujar Swastika mengusir Adhyaksa keluar menuju jalan belakang istana.
Mpu Wiyasa yang sedang menyempurnakan Dwipajayantaka mendengar derap langkah kaki di atas langit-langit tempatnya menulis. Tempat rahasia terletak di bawah istana. Dia semakin cepat menulis sebelum tiba perintah baginya. Dia tidak punya banyak waktu lagi.
Mpu Wijayasa menyingsingkan lengan bajunya menulis apa saja yang didengarnya. Suara, langkah kaki, teriakan, hinaan, percikan api, senjata yang beradu dan derap langkah menuju suatu tempat.
Mpu Wiyasa semakin mempertajam indra pendengarannya. Telapak tangannya mulai berkeringat. Beberapa kali dia meremas kain yang digunakan untuk mengusap keringat di tangannya.
Buku-buku jarinya mulai kram namun Mpu Wiyasa tidak ingin melewatkan satu momen pun yang akan ditulis.
__ADS_1
"Bansheer, aku mengutukmu dan kaumu! Selama hidup kalian akan menderita dan akan terus dikejar-kejar kematian" ujar Daneswara geram pada sikap munafik Bansheer.
"Hahaha pria tua sebelum maut menjemputmu izinkan aku meluruskan satu hal. Akulah dalang di balik pembantaian sedarah tiga jaya. Jayaswara terlalu bodoh, Jayamangkala tidak cukup pintar, dan.. dan… si bungsu yang terlalu cengeng. Tidak ada satupun dari mereka yang pantas memerintah di tiga jaya" tegas Bansheer terbahak.
"Hari ini akan ku buktikan bahwa hanya aku yang pantas berkuasa di Dwipajaya!"
Daneswara mengayunkan pedangnya. Bansheer menyambut ayunan pedang itu dengan senang hati. Mereka saling beradu ketangkasan hingga akhirnya Bansheer melukai kuda yang dipakaj Raja Daneswara.
Kuda itu meringkik mengangkat kedua kakinya karena reaksi racun yang masuk ke tubuhnya. Daneswara terjungkal dan jatuh diantara gerobak meriam.
Tanpa membuang-buang waktu Bansheer menebaskan pedangnya mengenai bagian pipi Daneswara. Goresan pajang muncul merobek salah satu pipinya
"syutt" panah Piyush tepat mengenai tenggorokan Atmadewa.
Pria itu jatuh dengan panah tertancap di lehernya.
Patih Mahesa dan Patih Drona berusaha menghalau Bansheer di tengah kepungan tiga jaya, namun terlambat kepala Daneswara telah terpisah dari tubuhnya.
__ADS_1
Piyush memanah kedua patih yang telah hilang konsentrasi itu dan para prajuritnya menghujamkan tombak, pedang, dan anak panah membunuh para petinggi kerajaan itu.
Mendung tampak di pagi itu. Langit hitam dan bau darah menghiasi Dwipajaya.
Bansheer memerintahkan agar kepala kedua patihnya dipenggal. Mayat ketiga pria itu diikat pada sebuah kereta kuda dan Bansheer menaiki kereta itu sambil menyeret kedua mayat tersebut menuju istana.
"Serbu istana!" teriak Bansheer
"Serbu" sahut yang lainnya.
"Para wanita hari ini kesetian kita terhadap suami dan kerajaan diuji. Kita boleh saja kehilangan tanah, tapi kita tidak boleh kehilangan hal yang paling berharga dari seorang wanita, kekuatan dan harga diri" ujar Paramita. Giginya gemeretak. Sorot matanya memancarkan keberanian dan amarah.
"Semua yang meninggal akan kembali menjadi abu. Jika kalian tetap bersamaku, kita akan bersama menjadi abu. Jika tidak, segera tinggalkan tempat ini"
Tidak ada satupun di antara mereka yang meninggalkan tempat itu.
"Baiklah, api suci telah dibakar di pelataran istana dan kita akan mengelilingi api suci itu sambil membaca doa untuk semua orang yang sedang berperang untuk membela tanah ini"
__ADS_1
Paramitha memimpin barisan itu menuju pelataran istana
...----------------...