
"Berhenti" ujar Jhanvi meminta Siddarth menghentikan laju kudanya.
Mereka berdua turun dari kuda. Jhanvi membiarkan Siddarth menuntun kuda sedangkan dia berjalan di sisi Siddarth.
"Ini padang pasir yang membatasi kerajaan Madhyaprasta, Suballa, dan Indrajaya" ujar Jhanvi bangga sambil memperlihatkan hamparan pasir gurun di hadapannya.
Siddarth takjub melihat padang pasir itu. Salah satu padang pasir terbaik menurutnya. Padang itu membentang luas dan rumput yang warnanya mulai kecoklatan. Siddarth tidak menemui jenis tanaman berduri khas padang pasir. Padang ini diapiti dua bukit besar. Sejauh mata memandang terdapat jejak musafir dan pedagang yang lalu lalang di tempat itu.
"Apa ini rahasia Madhyaprasta?" tanya Siddarth.
"Kami tidak mengambil keuntungan dari pedagang kecil. Hanya pedagang kayalah yang harus membayar pajak" ujar Jhanvi.
"Bukankah itu sebuah aturan yang bodoh?" Siddarth berusaha memancing Jhanvi.
"Untuk orang kaya sepertimu mungkin terlihat bodoh, tapi untuk orang miskin ini adalah anugerah. Kami menghafal pedagang kaya yang melewati jalur ini. Mereka wajib menunjukan barang dagangannya. Tidak ada benda yang bisa mereka sembunyikan" ujar Jhanvi percaya diri.
Penduduk Madhyaprasta selalu diberi hadiah oleh Raja Aryan jika mereka melapor tindak kejahatan dengan bukti yang kuat. Segala bentuk kejahatan tidak dapat ditolerir di Madhyaprasta.
"Apa yang terjadi jika jalur ini di tutup?" tanya Siddarth sambil mengamati keadaan padang pasir itu.
"Nyawamu adalah taruhannya. Jangan berpikir tempat ini ada di bawah kekuasaan mu. Tempat ini milik kami" Jhanvi menatap Siddarth yang sibuk mengamati wilayah itu.
"Pastikan raja selanjutnya bukanlah pria penakut yang hanya duduk di tahtanya" bisik Siddarth.
__ADS_1
Raut wajah Jhanvi berubah.
"Hey, aku bukan wanita bodoh yang asal memilih pria. Pria yang bersamaku nantinya haruslah pria gagah, bertanggung jawab, pembela kebenaran, dan rendah hati tidak peduli rupanya seperti apa"
"Semua kriteria yang kau sebutkan hanya ada dalam dongeng. Kita ini hidup di dunia nyata, yang kuat dialah yang ada di puncak rantai makanan" cibir Siddarth.
"Tidak ada aturan untuk menjadi kuat. Yang ada di puncak bisa saja pria, wanita, anak muda, orang tua tidak peduli latar belakang mereka selama mereka berusaha tidak ada yang mustahil" ujar Jhanvi.
"Berpikirlah berdasarkan realita. Usaha tanpa pengaruh dan kekuasaan adalah sia-sia" Siddarth berhasil membungkam Jhanvi.
"Kau pria sensitif yang menyebalkan. Mengapa aku bekerja sama dengan orang sepertimu? ku rasa aku sudah gila!" umpat Jhanvi.
Jhanvi mempercepat jalannya mengabaikan Siddarth yang tersenyum menyebalkan. Dia tidak ingin melihat wajah Siddarth yang tersenyum puas setelah mempermainkannya.
Karena terburu-buru, Jhanvi menginjak ujung bajunya yang hampir menutupi punggung kakinya. Jhanvi kehilanga keseimbangan dan oleng.
"bugh" Jhanvi menutup matanya saat dia terjatuh menghantam sebuah benda keras.
Beberapa saat kemudian Jhanvi menyadari sesuatu. Bukankah dia sedang berada di daerah berpasir, seharusnya…
Jhanvi menengadahkan kepalanya. Siddarth sedang menatapnya.
"aaaa" Jhanvi kembali berteriak saat melihat dirinya jatuh tepat di dada Siddarth.
__ADS_1
Siddarth menarik tangan Jhanvi lalu membekap mulutnya.
"Pelankan suaramu" bisik Siddarth.
Saat ini posisi Jhanvi berada di di atas tubuh Siddarth. Mereka saling berhadapan. Jhanvi memandang wajah Siddarth dari dekat. Dia mengakui pria di hadapannya tampan.
Siddarth mendorong Jhanvi menjauh. Jhanvi segera sadar dan mengibas-ngibaskan pakaiannya yang terkena pasir.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jhanvi.
"Tubuhmu seringan kapas, aku bahkan sanggup menggendongnya menuju kuil Mahadewa Astapura"
Jhanvi membayangkan dirinya berada dalam dekapan Siddarth yang menggendongnya melewati ribuan anak tangga kuil Mahadewa.
Siddarth melambai-lambaikan telapak tangannya di wajah Jhanvi. Mata Jhanvi tidak berkedip.
"Jhanvi" panggil Siddarth.
Suara Siddarth terdengar sangat indah bagi Jhanvi.
"Hey" Siddarth menyentuh lengan Jhanvi.
"Ya" ujar Jhanvi.
__ADS_1
"Aku memang tampan. Biasakan dirimu menghadapi pesonaku selama kita bekerja sama" ejek Siddarth yang langsung disambut kepalan tangan Jhanvi.
...----------------...