Dvesa

Dvesa
Ultimatum Bansheer


__ADS_3

“Persiapkan semua armada perang” teriak Bansheer.


Mata-matanya melaporkan ada jalur terdekat menuju Hindustan. Bansheer segera meminta orang kepercayaan menelusuri jalur itu ternyata melewati Nepal. Saksenya pasti melalui jalur ini saat ke Nusantara. Lupakan sejenak tentang Saksenya yang terpenting adalah menyerang Astapura sebagai ultimatum pelepasan hak di Jiwang dan Dwipajaya.


“Kita berangkat sekarang!” teriak Bansheer.


Armadanya bergerak menuju Astapura. Sesuai prediksinya Astapura sedang berkabung pasca kematian calon pangeran. Selama tiga puluh hari tidak akan diadakan perang dan perluasan kekuasaan di wilayah itu demi menghormati kematian seorang penerus. Bansheer tak peduli pada kesepakatan itu, dia ingin segera pergi ke sana mengibarkan bendera baru di bawah kekuasaan.


Setelah empat hari berlayar, sampailah Bansheer di dekat dermaga Astapura. Bombardir peluru meriam meruntuhkan tembok di sekitar pelabuhan. Semua orang berlari hilir mudik meninggalkan pelabuhan dan pesisir segera mencari pertolongan.


“Lapor yang mulia, sebuah kapal besar menyerang Astapura” ujar komandan prajurit pada Sri Narendra memerintahkan agar gerbang kota segera ditutup. Prajurit perang di semua lini diaktifkan, mereka berbaris melindungi benteng kota.


“Ibu, dan nenek kalian pergilah tinggalkan Astapura. Bawa serta Jhanvi, pergilah ke kerajaan Bhavari. Aku telah mengirimkan utusan ke sana” ujar Siddarth kepada ketiga wanita yang menjadi tanggung jawabnya.


Jhanvi yang larut dalam kesedihan tampak kaget, tak menyangka kejadian ini akan beruntun.


“Apa ini perbuatan Gayatri?” tanya Jhanvi khawatir. Dia tidak bisa melupakan Gayatri.


“Bukan, ini Bansheer orang yang sama di balik motif pembunuhan orangtua Gayatri. Bansheer adalah orang kepercayaanku, ahli strategi Astapura yang diutus untuk mengurus palawija yang kami tanam di Dwipajaya” ujar Siddarth serius.


Jhanvi kaget bukan kepalang. Bagaimana mungkin Gayatri bisa bersikap tenang saat orangtuanya meninggal. Saat ayahnya sakit, Jhanvi bahkan tak bisa tidur berhari-hari mengkhawatirkan ayahnya, dia rela melakukan apapun agar ayahnya segera pulih.


“Segeralah pergi!” ujar Siddarth pada ketiga wanita itu yang tak sempat membawa barang-barang berharga mereka.


Semua wanita di istana dibiarkan menyelamatkan diri melalui pintu belakang. Siddarth bergabung bersama ayahnya menggenggam pedang di tangan kiri dan kanannya. Keduanya berdiri di depan istana mengirim pesan pada Bansheer.


 “Aku ingin hak penuh atas Jiwang dan Dwipajaya tanpa campur tangan Astapura” teriak Bansheer pada utusan Astapura yang sedang ditawan.


Tawanan itu dikawal dengan pedang dan tombak.

__ADS_1


“Minta dia bertemu denganku di dermaga, kami akan mengadakan kesepakatan di sana. Siddarth lakukan tugasmu sebagai raja baru” ujar Sri Narendra pada putranya yang baru saja dinobatkan sebagai raja.


Sore itu saat matahari berada di ufuk timur, dua kubu itu telah berada di dermaga bersama satu tim pasukan elit.


“Selamat datang Raja baru” ujar Bansheer tersenyum bagai orang gila menyambut Siddarth pria yang pernah menjadi tuannya.


“Lama tak bertemu Bansheer, tampaknya kekuasaan telah membuatmu gila” balas Siddarth. Sorot matanya tajam, gesturnya tenang tak terganggu dengan suara tawa Bansheer.


“Tentu saja. Selama bertahun-tahun aku mengabdi pada Astapura, menjadi otak dari segala pertempuran. Melayani bagai anjing, tapi apa yang ku dapat? Posisiku tak lebih dari seorang pesuruh” ejek Bansheer.


“Dimana istri cantikmu?” mata Bansheer mencari sosok wanita yang sempat menarik perhatiannya kala itu.


“Maaf kalian tak sempat berkenalan, tapi kupastikan panahnya tak pernah meleset dan tak ada yang selamat dari pedangnya” jawab Siddarth.


“Wow, luar biasa” Bansheer bertepuk tangan menyambut jawaban Siddarth.


Siddarth tampak terganggu dengan maksud Bansheer namun segera sadar Bansheer sedang memancing amarahnya.


“Apa karena seorang wanita kau datang membuat keributan?” tanya Siddarth


“Tentu saja tidak Yang Mulia Raja Siddarth. Aku ingin lepas dari pengaruh Astapura, Jiwang dan Dwipajaya adalah sepenuhnya milikku” ujar Bansheer.


 


Siddarth POV


Bansheer telah mempersiapkan semuanya sejak undangan hari penobatan. Feelingnya tak pernah salah. Dia datang dengan penuh perhitungan dan di momen yang tepat. Saat ini Astapura tak bisa bergerak karena masa berkabung putra raja.


Lebih baik Astapura dan Bansheer tidak memicu peperangan. Selama Bansheer tak menganggap Astapura sebagai musuh, maka posisi Astapura belum terancam.

__ADS_1


“Baiklah” ujar Siddarth


“Sekarang Astapura masih bergantung pada Jiwang, kami tetap ingin bekerjasama denganmu dalam perdagangan dan rempah-rempah” Siddarth berusaha menetralisirkan keadaan membiarkan Bansheer menikmati kemenangannya.


“Hahahahha, tentu saja. Kami akan mengirimkan bahan baku dengan kualitas paling baik. Tawa Bansheer menggelegar.


“Ingat! Aku adalah Raja Bansheer dari Dwipajaya” Bansheer memeberitakan gelar barunya pada Siddarth dan semua yang ada di tempat itu.


“Tandatangani perjanjian ini” Bansheer menyerahkan gulungan yang berisi perjanjian, pengakuan, dan kedaulatan yang mau tak mau harus Siddarth tanda tangani.


Sebelum membubuhkan tanda tangannya Siddarth membaca seluruh naskah perjanjian di tempat itu. Semalaman dia tak tidur. Bansheer dan para pengawalnya tetap berjaga di tempat itu. Hingga mata hari terbit Siddarth telah membaca seluruh naskah dan membubuhkan tanda tangannya.


Bansheer segera memeriksa ulang naskah itu dan tentu saja mengisyaratkan peringatan perang dan pemberontakan akan ada jika saatnya tiba. Siddarth tetap tenang, tak terusik sama sekali.


Bansheer dan seluruh armada perang bergerak meninggalkan pelabuhan Astapura


 


 


...----------------...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2